Tough

tough

Tough

Super Junior Fanfiction (Heechul’s POV)

All the time was in 2009

Irama terakhir dari It’s You telah berakhir. Cepat-cepat kami berdua belas segera turun ke backstage. Sorak sorai ELF tidak kunjung berhenti walau kami sudah berada dibelakang panggung. Perasaan lelahku mendadak hilang. Member lain tak kunjung berhenti tersenyum  satu sama lain.

“Selamat!”

“Akhirnya sukses!”

“Aku tegang sekali tadi!”

“Sorakannya kencang sekali!”

Mereka tak hentinya saling memuji. Aku hanya bisa tersenyum melihat mereka.

Hm? Kenapa rasanya ada yang kurang? Kurang seorang disini… Kulihat sekeliling ruang tunggu kami dan ternyata dia disanan. Duduk dipojok sembari menerawang. Ada apa dengannya? Harusnya dia juga senang seperti perasaan kami sekarang, kan?

“Kenapa kau?” ucapku sembari menepuk bahunya.

Aku menepuk bahunya lebih pelan dari yang biasanya. Tapi reaksinya itu seakan aku sudah memukulnya menggunakan cambuk. Dia terlonjak cukup keras.

“Ah, Chullie. Kenapa kau disini?”

“Ya, Hankyung. Seharusnya aku yang tanya itu. Ngapain kau mojok disini? Kau tidak ikut senang karena penampilan kita tadi? Kau tampil di depan terus. Banyak yang bersorak untukmu. Bukankah itu impianmu?” kataku berusaha merapikan wajah kusutnya.

“Sungguh? Wow, aku semakin terkenal.”  Alisku meninggi melihat ekspresinya. Senyum memaksa.

“Ya, Hankyung. Ada apa sebenarnya? Sejak kapan kau mulai narsis begitu, heh?” Aku ikut duduk disampingnya lalu menatapnya lekat-lekat. “Kau ada masalah? Bilang padaku ada apa.”

Mata itu tidak fokus dan ragu. Berulang kali Hankyung melihatku lalu kea rah member lain lalu tangannya sendiri sebelum akhirnya menghembuskan napas pelan.

“Gwaenchana. Aku hanya ingin sedikit berimprovisasi, haha,” jawabnya dengan tawa hambar.

“Apa mak – ”

“Kurasa aku harus menelpon ibuku dulu,” Hankyung langsung berdiri dari duduknya dan pergi. Berani sekali dia tidak memperhatikan Kim Heechul! Aku sudah akan bicara lagi ketika ternyata perkataanku tercekat di tenggorokan begitu melihat ekspresinya.

Ya, Hangeng. Kau mungkin benar-benar merindukan ibumu, tapi tidak perlu sampai memasang wajah seakan itu kali pertama kau merasakannya, kan.

***

“Hari ini ada pemotretan, pembuatan cf di siang hari, recording variety show, dan terakhir tampil di Inkigayo,” Leeteuk memandangi semua wajah member satu persatu. “Hari ini akan sangat panjang dan melelahkan. Jaga kesehatan kalian agar – “ kalian tetap sehat dan blablabla. Jungsu mulai mengoceh tentang kesehatan, dan ini akan sangat membosankan.

Aku mulai tidak mendengarkan perkataan Jungsu dan memulai aktifitas lain. Diam-diam aku menguap lebar-lebar sembari merentangkan tangan. Ah, aktifitas yang semakin banyak membuat tekanan darahku mulai merendah karena kurang tidur. Menyebalkan. Aku bahkan bisa merasakan rasa panas di tanganku.

Hm? Bukankah keningku yang harusnya merasakan panas? Kutolehkan kepalaku pada orang tinggi disebelahku. Hankyung tampak tidak fokus pada perkataan Jungsu. Dengan cepat, aku meletakkan telapak tanganku di dahinya. Mengabaikan keterkejutan nyata si pemilik dahi lebar itu. Ternyata benar. Panas. Padahal baru tiga detik, tapi panasnya sudah cukup meyakinkan untuk disandingkan dengan mesin pemanas.

“Kau sakit?” tanyaku dengan suara keras, memotong pidato rutin Jungsu dan mengalihkan perhatian yang lain pada kami.

Hankyung menepis tanganku yang berada di keningnya. “Aku tidak apa-apa,” sanggahnya. Tepat selesai ia berkata, ia mulai terbatuj-batuk.

“Tidak apa bagaimana? Itu sudah cukup membuktikan kau sakit!” seruku.

Ryeowook ikut menaruh telapak tangannya di kening Hankyung. “Heechul hyung benar. Kau sakit hyung, lebih baik istirahat.”

“Tidak. Aku akan ikut jadwal hari ini,” bantahnya lagi. Hankyung berdiri dari duduknya tapi kemudian ia jatuh lagi. Untung saja aku menahan tangannya. Huh, masih saja kau berusaha kuat.

“Lebih baik kau ke rumah sakit menyusul Siwon, Hankyung. Istirahat disana dan temani Siwon. Biar aku yang meminta izin ke manager. Aku tidak ingin sakitmu bertambah parah,” Jungsu akhirnya berbicara dengan ketegasan seorang leader.

Tahu sekarang  tidak bisa berkelit, Hankyung menghela napas pasrah. “Baiklah. Aku tahu. Aku mengandalkanmu, hyung.”

Jungsu tersenyum. “Istirahatlah yang cukup.” Setelah berkata begitu, ia segera melesat keluar mencari manager.

Akhirnya member yang tersisa ikut mengantarkan Hankyung ke rumah sakit sebelum ke lokasi pemotretan. Siwon yang ada dirawat di rumah sakit menyambut kami dengan berbagai pertanyaan.

“Cukup, Siwon. Yang ada kau malah semakin kelelahan. Jangan banyak tanya. Nanti aku beritahu,” ucapku, menghentikan ocehan Siwon.

Sementara aku menunggu Hankyung di periksa bersama Ryeowook dan Donghae, member lain menunggu di kamar rawat Siwon. Dan hasilnya benar. Hankyung kelelahan seperti Siwon.

“Gomawo, karena sudah mengantar. Maaf karena sudah merepotkan kalian,” gumam Hankyung pelan. Ia sudah tampak akan tertidur karena efek obat bius.

“Hyung bilang apa sih? Tentu saja tidak merepotkan,” ujar Donghae santai.

“Sama sekali tidak,” sambung Ryeowook.

“Kau istirahat saja, jangan pikirkan yang lain. Kau harus cepat sembuh. Kami berangkat dulu.,” aku langsung berdiri dari tempat duduk, kembali ke mobil bersama member lain. Aku berharap dia baik-baik saja.

***

Akhirnya. Jadwal terakhir kami di hari ini tiba. Kami semua sudah bersiap untuk tampil di Inkigayo. Dengan member kurang. Rasanya aneh saat tidak melihat Hankyung dan Siwon disini.

“Cepat dandani mereka! Sebentar lagi mereka tampil!” Manager tiba-tiba masuk dan menghebohkan ruang ganti. Tak lama setelah dia masuk, muncul Hankyung dan Siwon.

“Manager-nim, apa maksudnya ini?” tanya Jungsu. Ia terkejut.

“Hankyung dan Siwon akan tampil bersama kalian. Kalian harus tampil lengkap malam ini. Itu yang dikatakan sajangnim,” Cih. Orang tua itu lagi.

“Tapi mereka sedang sakit. Bagaimana mungkin mereka bisa tampil bersama kami? Mereka harus istirahat,” Jungsu masih berusaha membela.

“Mianhae, Jungsu-ya. Tidak bisa. Sajangnim sudah mengeluarkan perintah,” suara manager tidak kalah sedihnya dengan Jungsu. Jika perintah darinya sudah dikeluarkan, apa lagi yang bisa kami lakukan? Kami hanyalah sekumpulan boneka kayu yang harus menuruti keinginan sang  penggerak. Mau tidak mau kami harus mengikuti.

“Gwaencana, hyung. Aku bisa melakukannya. Siwon juga sudah membaik.” Kenapa malah kau yang menenagkan Jungsu, China babo? Harusnya Jungsu yang menguatkanmu. Berhentilah bersikap sok kuat.

Giliran kami tiba. Inkigayo malam ini disiarkan untuk besok. Ada banyak ELF yang mendukung kami diluar sana.

Intro dimulai. Donghae, Hyukjae, dan Sungmin memulai lebih dulu. Tak lama kemudian, Hankyung, Siwon, Jungsu, Youngwoon, dan Shindong muncul dari balik panggung. Sementara aku menunggu giliranku di backstage.

Hankyung berada di barisan depan, memulai dance. Aku melihat senyumnya yang berbeda dari biasanya. Senyum orang kesakitan? Darimana dia belajar tersenyum mengerikan begitu? Hei, wajahnya memucat ketika gerakan mulai menghentak. Hankyung tiba di barisan belakang dan tiba-tiba tubuhnya limbung. Sungmin, yang berada disampingnya, dengan sigap memegang tubuh Hankyung yang mulai merosot.

Tanpa banyak pikir, aku langsung menghampiri mereka. Tidak peduli kalau saat ini bukan giliranku muncul. Sekejap panggung menjadi kacau. Aku dan Sungmin membawa Hankyung ke backstage, Jungsu menelpon dokter perusahaan.

“Bagaimana kondisinya?” manager langsung berdiri menyambut dokter yang keluar dari ruang tunggu.

“Demamnya meningkat. Dia kelelahan. Aku rasa dia harus kembali ke rumah sakit,” terang dokter Shin.

“Saya mengerti. Saya akan membawanya kesana,” kata manager.

“Walau Siwon sudah membaik, dia juga perlu istirahat cukup. Lebih baik mereka semua istirahat dulu.”

“Baiklah, saya mengerti. Kamsahamnida, seosaengnim,” manager mengantar dokter keluar ruangan. Tak lama kemudian ia kembali dan memandangi Leeteuk. “Aku sudah meminta izin, recording ditunda untuk sementara. Malam ini kita istirahat.”

***

Malam sepenuhnya turun setelah aku dan member lain keluar dari ruang latihan. Kami berencana untuk berkumpul di dorm.

“Dimana Kangin hyung?” tanya Kyuhyun yang mengalihkan perhatianku. Aku segera menoleh ke segala arah. Benar juga. Youngwoon belum hadir. Tumben.

“Entahlah. Dia bilang akan sampai sebentar lagi,” jawab Jungsu.

“Tapi apa tidak aneh, hyung? Sudah satu setengah jam berlalu. Tidak seperti Kangin hyung saja terlambat,” ujar Donghae.

“Baiklah. Akan kucoba telepon lagi,” Jungsu kembali berkutat pada ponselnya.

“Yeoboseyo? Youngwoon-ah. Eodiya?” sapa Jungsu.

Dan terdiam. Wajah Jungsu berubah begitu mendengarkan seseorang diseberang berbicara.

“Ne. Ini Park Jungsu yang berbicara.”

Hah? Apa maksudnya itu? Kau berbicara dengan siapa, Jungsu??

“Ne. Saya mengerti. Saya akan kesana secepatnya.” Dan sambungan pun terputus. Jungsu ganti menatapku dengan pandangan yang tak terjelaskan.

“Wae? Apa yang terjadi dengan Youngwoon?” tanyaku.

“Youngwoon… Uri Youngwoon… dia dikantor polisi. Dia terlibat perkelahian di bar.”

***

Youngwoon di non-aktifkan sementara. Walau perkelahian itu terbukti murni untuk melindungi diri, perusahaan tetap ingin mem peti eskannya dari kegiatan grup untuk beberapa waktu.

Youngwoon yang merasa bersalah hanya dapat menerima dengan pasrah. Tapi kami menginginkan Youngwoon tetap tampil di Super Show 2 Hongkong. Sempat terjadi perdebatan dengan Sooman sajang, sebelum akhirnya dimenangkan oleh kami.

Sooman sajang meminjat keningnya pelan. Tampak sangat jelas kalau ini adalah keputusan yang sulit baginya. Beban berat terlihat jelas di kedua matanya.

“Baiklah. Kangin boleh tampil di SS2 Hongkong,” Sooman sajang menatap kami lekat-lekat, seakan berusaha mendapat keyakinan kalau keputusannya tidak salah. “tapi sebagai gantinya, masa istirahat Kangin akan diperpanjang. Setidaknya satu bulan setelah konser Hongkong. Tidak ada yang boleh membantah.” Ia menekan kata-kata terakhirnya. Tanpa penekanan itu pun kami tidak berniat untuk melanggarnya. Yang kami inginkan hanyalah memberikan Youngwoon kesempatan untuk menyapa fans. Tidak membuatnya tampak lari dari mereka.

***

Suara-suara sorakan terdengar membahana. Tak lama lagi Super Junior akan memulai konser. Aku sudah akan bersiap pergi ke tempatku ketika kudengar ponselku berbunyi. Snow White.

“hyung, kalian dimana? Aku pergi ke dorm tapi tidak ada siapa pun disana,” suara Kibum langsung memenuhi telinga kananku. Dia bahkan tidak salam lebih dulu.

“Jelas saja tidak ada, kami sedang di Hongkong, Kim Kibum!” seruku sedikit jengkel.

“Hongkong? Super Show? Memang sekarang tanggal 18?” tanya Kibum bingung.

“Periksa kalender sana!” Sifat pelupa harinya tidak berubah juga.

“Itu tidak penting. Yang mau kutanyakan adalah bagaimana keadaaan Youngwoon hyung? Aku baru dengar beritanya kemarin tapi tidak sempat menghubungi hyungdeul. Begitu kuhubungi pagi ini tidak ada satupun nomor yang aktif, ke dorm juga tidak ada orang. Membuatku cemas…” Kibum berbicara cepat dan gelisah, yang sangat jarang dilakukannya. Dia benar-benar khawatir.

“Youngwoon ada di salah satu sudut panggung.” Kudengar suara Kibum yang kaget.

“Youngwoon hyung boleh tampil? Bagaimana bisa?”

“Bisa. Asal masa istirahatnya diperpanjang.”

“Youngwoon hyung akan vakum sementara? Bagaimana nasib kalian nanti?” rentet Kibum. Aku mengehmbuskan napas kesal.

“Itu masalah nanti. Yang perlu di khawatirkan adalah bagaimana membuat Youngwoon ceria, padahal kami sudah berusaha membuatnya tampil hari ini.” Walau jarakku berdiri sekarang cukup jauh dari Youngwoon, aku masih dapat melihat wajah suramnya dari sini.

“Dia sedang terpuruk, hyung. Ini berat baginya. Dia butuh dorongan kita-”

“Tentu saja. Tapi bukan cuma dia yang butuh,” ujarku cepat, membuat Kibum terdiam seketika.

“Kalau saja aku bisa tampil bersama kalian sekarang.. kalau saja aku tidak terluka-“

“Lebih baik kau mengurus kaki juga dramamu itu dan cepat kembali. Sebentar lagi giliranku tampil. Jaga dirimu.” Sambungan terputus. Aku tidak ingin berlama-lama membahasnya kalau tidak ingin ikut sedih.

“Ayo, kita naik,” Hankyung menepuk bahuku lalu berjalan mendahuluiku.

Wajahnya itu… kenapa terlihat cerah seakan tidak ada beban?

***

Tepat satu bulan. Tiga puluh hari. Cobaan lain itu datang.

Youngwoon terlibat kasus tabrak lari. Dalam keadaan mabuk.

Berat. Sangat berat. Hobi minumnya itu telah membawa dampak buruk.

“hyungdeul, eotteohke? Aku bingung harus bagaimana…” Youngwoon menelungkupkan wajah di tangannya. Akhirnya ia berbicara, setelah sekian lama trerdiam di ruang tengah. Ia sampai di dorm cukup larut dengan wajah pucat.

Tidak ada yang menjawab. Bahkan Jungsu pun terdiam. Mungkin ia masih shock mendengar berita itu. Aku menghela napas dalam. Tidak, tidak ada lagi yang seperti ini. Tidak boleh.

“Kau harus sembunyi.”

Jungsu, Hankyung, Hyukjae, Sungmin, Donghae, Ryeowook, dan Kyuhyun menoleh padaku, terkejut.

“Lupakan kejadian ini. Bersikaplah biasa saja. Tidak ada saksi mata, kan? Sempurna. Kau hanya perlu bersikap tidak tahu-“

“Tapi, hyung, itu salah…”

“LALU BAGAIMANA?”  tanpa sadar, aku membentak Ryeowook. Aku tidak bisa menahan amarahku lagi. Aku berdiri menatapi mereka semua. “Katakan harus bagaimana? Kalian ingin menambah daftar kesalahan Youngwoon? Menambah bebannya sekaligus menambah beban kita? Dua hari lagi masa percobaan Youngwoon habis dan kalian malah mau menambah ini. Apa kalian tidak memikirkan masa depannya? Masa depan kita? Apa tidak cukup cobaan kita selama ini!!”

Napasku terengah-engah usai meluapkan semuanya. Kini mereka semua ikut berdiri, kecuali Youngwoon.

Donghae menepuk pelan pundakku. “Hyung, ini bukan salah Kangin hyung-“

“Aku tidak menyalahkannya!  Aku hanya khawatir masalah ini akan memperpanjang daftar kriminalnya. Kalau kita menutupinya-“

“Maka semakin lama kita menutupinya, semakin berat juga hukuman untuk Kangin hyung.” Semua kepala menoleh pada Kyuhyun dengan sedikit tercengang. Jarang sekali melihat ia mau berpendapat. “Cepat atau lambat, polisi akan menemukan Kangin hyung. Mereka tidak bodoh, hyung. Ada banyak kamera pengawas di setiap sudut kota ini. Dan jika saat itu tiba, hukuman justru akan lebih berat daripada jika Kangin hyung menyerah hari ini juga.”

Kyuhyun menoleh pada Jungsu. “Aku lebih suka Kangin hyung menyerahkan diri. Akan lebih terhormat.”

Jungsu menghembuskan napas berat. “Ya. Aku juga setuju.”

Begitu juga dengan Hankyung, Donghae, Sungmin, Hyuykjae, dan Ryeowook.

Aku tertunduk. Merasa konyol dengan tindakanku tadi. Itu benar. Semua yang dikatakan Kyuhyun benar.

“Cobaan itu akan kita lalui bersama, Heechul-ah. Selama kita bersama kita akan baik-baik saja.” Jungsu berkata.

“Kita semua bersamamu, hyung,” Sungmin melanjutkan.

Saat itu Youngwoon berlutut. Ia berlutut pada kami. “Maafkan aku hyungdeul, dongsaengdeul. Aku sudah menyusahkan kalian selama ini.”

“Youngwoon-ah…” Hankyung terkejut melihat sikap Youngwoon.

Aku segera menyentak Youngwoon untuk berdiri.

“Dengar Youngwoon-ah, ini semua bukan salahmu. Ini hanya cobaan. Dan cobaan bukanlah salah siapa pun.” Kataku meyakinkannya. “Mungkin ini akan menjadi yang pertama dan terakhir kali… Aku setuju dengan Kyuhyun. Akan lebih baik jika kau segera menyerahkan diri. Aku juga minta maaf karena bersikap tidak rasional tadi. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu, sama sekali tidak. Hanya saja-” aku menepuk bahunya cukup keras, bermaksud bersikap biasa saja “-berhati-hatilah kalau menyetir! Jangan membahayakan nyawamu sendiri!”

Youngwoon tersenyum mendengarnya. “Ne, hyung… Gomawo.”

Jungsu menatap kami dengan haru. “Bagus. Sekarang, cepat pergi, Youngwoon. Waktu semakin berjalan.”

***

Jalanan cukup lengang malam ini. Aku mengendarai mobil sendiri sembari menyetel musik keras-keras. Tujuanku berikutnya adalah dorm. Badanku rasanya pegal. Ingin cepat-cepat tidur.

Begitu sampai, aku terkejut melihat dorm yang ramai. Suasana yang tak pernah hadir disini setelah Youngwoon tinggal di rumah sendiri. Saat masuk ke ruang tengah, aku lebih terkejut lagi melihat ruangan penuh. Oleh orang-orang seharusnya tidak ada di dorm. Semua member ada disini. Benar. SEMUANYA!

Kalau member seperti Hankyung, Kyuhyun, Sungmin, Donghae, Ryeowook, Jongwoon jelas sudah pasti di dorm. Jarang sekali aku melihat mereka keluar. Siwon aku tidak seberapa heran, mengingat ia sedang tidak ada jadwal seminggu ini. Tapi, member sisanya, yang seharusnya punya jadwal juga ada disini. EunTeuk yang harusnya siaran radio malah duduk di pojok, saling bercanda. Youngwoon, yang tidak pernah hadir di dorm sejak pengakuannya tentang kasus terakhir itu, kini ngobrol dengan Shindong. Yang lebih mengejutkan itu Kibum. Anak itu, yang sibuk syuting 5 bulan terakhir, kembali duduk di pojok ruangan, tempat kesukaannya di dorm sejak dulu.

Saat mataku sampai pada anak itu, ia tersenyum. “Hai, hyung. Sudah pulang?” sapa Kibum. Kata-kata Kibum membuat yang lain menoleh.

“Heechul hyung~!” Youngwoon seketika memelukku.

“YA! Apa-apaan ini?” tanyaku bingung. Yang lain hanya tertawa melihat kami.

“Aku merindukanmu, kau tidak tahu?” Youngwoon tertawa setelah mengatakannya. Aku memukul kepalanya, antara marah dan geli.

“Aish, anak ini! Maksudku, kenapa kalian semua bisa disini?”

“Manager membebaskan semua jadwal kami,” Jungsu yang menjawab pertanyaanku. “Daripada menganggur, kenapa kita tidak menghabiskan waktu bersama?”

Tunggu. Ada yang tidak beres. “Membebaskan kalian semua? Bagaimana bisa? Memang ada apa?”

Serentak semua menggeleng.

“Tidak ada yang tanya ke manager?”

“Mereka bilang ini untuk kita,” Jungsu menjawab ragu. “Alasannya memang tidak jelas.”

“Ini juga tiba-tiba. Tidak seperti biasanya,” Siwon ikut berpendapat.

“Lalu pekerjaan kalian yang ditunda bagaimana?” tanya Youngwoon.

“Siaran radio dan syuting dramaku sudah bisa dilakukan besok,” Kibum menyahut.

“Kenapa manager begitu ingin meliburkan kita semua?” gumam Shindong.

“Memang salah? Kita sudah lama tidak mendapatkan libur,” Kyuhyun membantah pikiran negative kami.

“Menurutku tidak ada yang aneh,” timpal Donghae.

“Terkadang manager-nim memang begitu, kan, hyung. Dia berusaha memberi kejutan,” Ryeowook setuju dengan Donghae dan Kyuhyun.

“Justru itu yang ditakutkan…” semua mata serentak menoleh pada asal suara kecil misterius yang keluar dari mulut Jongwoon, “kejutan apa yang menanti kita? Entah kenapa, aku gelisah memikirkannya. Tahun ini ada begitu banyak hal yang terjadi…”

Atmosfer ruangan jadi berubah. Rasanya hawa assassin Jongwoon menguap ke seluruh ruangan, membuat kami semua merasakan kegelisahannya. Sejenak ruangan hening.

“Tidak perlu berpikir negatif dulu,” Hankyung tiba-tiba bersuara, membuat kami menoleh padanya, “kita sudah diberi kebebasan, akan lebih baik jika dimanfaatkan. Tidak selamanya kita bisa seperti ini. Lagipula…” Hankyung mengedarkan pandang sembari tersenyum, “sudah lama aku tidak melihat ruangan ini penuh…, oleh kita bertiga belas.”

Aku terkejut mendengarnya. Meresapi kata-kata Hankyung yang ada benarnya. Kuedarkan pandanganku pada yang lain. Tergambar jelas dalam wajah mereka, bahwa mereka merasakan hal yang sama.

“Memang sudah lama sekali…” Hyukjae berkata kecil, tampaknya ia akan menangis lagi.

“Selama ini kita selalu diributkan tugas individu. Hanya sedikit member yang makan malam di dorm. Melihat kita bertiga belas disini… rasanya… seperti mimpi,” suara Sungmin terdengar pelan. Oh, kau juga akan menangis, Lee Sungmin? Yang benar saja!

Hankyung menepuk bahu Sugmin pelan, “ini bukan mimpi, Sungmin-ah.”

“Tentu saja bukan!” Kini Shindong berseru.

“Ah, liburan… menyenangkan!” Youngwoon ikut bersorak.

“Kau itu sudah libur, Youngwoon-ah,” komentarku.

“Tapi ini beda. Ini bersama kalian, hyung. Keluargaku,” Youngwoon menyengir.

“Kita sudah berpikiran negatif,” ujar Siwon.

“Itu pikiranmu, Siwon-ah. Aku tidak,” kata si magnae sembari tersenyum menang melihat kami satu persatu berada di kubunya.

“Tampangmu itu menunjukan kau bangga sekali,” Kibum mengomentari sikap Kyuhyun.

“Lebih baik kita menikmati waktu yang langka ini,” kata Donghae.

“Tentu saja!” Ryeowook bertepuk tangan gembira.

“Yeah, makan banyak!” Jongwoon berseru paling kencang. Padahal dia yang sudah membuat kami berpikiran tidak-tidak.

Aku menoleh pada Jungsu yang diam saja. Ia tidak berkomentar dan tidak menunjukkan tanda-tanda mendengar suara kami. Aku menatapnya lekat-lekat. Menunggunya berbicara sesuatu.

Mata Jungsu yang mempunyai kelebihan ‘menyadari sorotan ke arahnya’ itu seketika terkejut melihatku memandanginya. Hm, mungkin tidak hanya aku yang melakukannya.

“wae?”

“Kau tidak merasa harus berbicara sesuatu, Park Jungsu?”

Jungsu seketika menekuk wajahnya. “Mau bicara apa lagi? Kata-kataku sudah diambil kalian.” Tapi kemudian ia memandangi member lain satu persatu, “Ya, Kim Youngwoon, Choi Siwon, rumah kalian dekat dari sini, harusnya kalian sering datang kemari untuk makan malam bersama. Kim Kibum, aku tidak peduli sesibuk apa kau diluar sana, kau harus tetap sering kemari. Syutingmu masih di wilayah Korea Selatan, kan? Kau tidak boleh mengelak. Dan kalian, yang tinggal di dorm, seharusnya kita punya banyak waktu bersama, kan. Bagaimana bisa yang tinggal satu dorm saja jarang berkumpul,” Jungsu tersenyum seperti biasa, “mulai besok kita harus sering-sering seperti ini, aku tidak akan peduli alasan kalian, arraseo?”

Aku tersenyum melihat tingkah aneh Jungsu. Begitulah dia. Leader yang terlalu banyak bicara. Tapi memang hal seperti itu yang kutunggu.

“Ne, leader-nim~!” beebrapa member bersorak.

Jungsu tertawa. “Baiklah. Mari kita merayakan malam ini dengan sebotol soju!”

Aku memukul kepala Jungsu. “Ya, yang benar saja! Kita ada bertiga belas, masa cuma sebotol soju!”

Jungsu meringis. “Masalahnya di dapur hanya ada sebotol.”

“Kalau begitu kita ganti saja minumannya. Jangan soju. Soju tidak baik untuk tubuh,” Donghae tersenyum senang mengetahui fakta itu.

“Biar Donghae saja yang beli,” sahut Kyuhyun. Ide yang bagus.

“Ya! Panggil aku hyung!” seru Donghae.

“Aku akan memanggilmu ‘hyung’ kalau kau mau minum soju, kekek” Kyuhyun tersenyum seperti saudaranya, evil.

“Kau mengancamku, Cho Kyuhyun?” Dan pertengkaran tidak jelas mereka pun berlanjut. Kami yang tidak terlibat hanya tertawa saja melihat mereka.

Sepanjang malam, ditemani kopi karena ketidakadaan soju, kami berbicara dan tertawa sepanjang malam di ruang tengah. Melupakan sejenak beban yang harus dipikul.

“Aku tidak habis pikir, kenapa cobaan datang bertubi mendera kita. Apa maksud ini semua?” Shindong berkata tiba-tiba.

“Hyung tidak boleh berkata begitu. Cobaan diberikan Tuhan untuk menguatkan umatnya,” Siwon segera membantah perkataan Shindong yang pasti menyinggungnya. Aku hanya mendengus geli mendengarnya. “Semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin bertiup. Itu pedoman yang selama ini aku pegang,” lanjut Siwon.

“Saat kau mendapat banyak hal, maka kau harus mempersiapkan diri juga untuk kehilangan,” lanjut Hankyung. Tumben sekali dia berfilosofi begitu.

“Ini memang masa yang sulit,” Jungsu ikut berkata, “tapi ini harus dihadapi. Tidak masalah bagiku. Yang penting kita bersama-sama dan melengkapi.”

Aku tersenyum mendengarnya.

“Terima kasih karena sudah menghargai keputusanku, hyungdeul, Kyu,” ucap Kibum.

“Terima kasih karena kalian selalu mendukungku,” sambung Youngwoon kemudian.

Aku mengerutkan kening, heran, merasa perkataan mereka berdua terlalu aneh. “Bukankah memang itu yang dilakukan keluarga?” tanyaku retoris.

Serentak dua belas kepala menoleh padaku dengan raut terkejut yang ketara di wajah mereka. “Aish. Mwoya? Memang aku melakukan kesalahan?”

Seketika Jungsu merangkulku lalu mengacak rambutku. Sesekali kurasakan beberapa tangan memukulku pelan dan ruangan kembali penuh oleh tawa member yang membahana.

Saat ini hanya ada Super Junior. Saat seperti inilah kami disebut Super Junior. Satu keluarga.

***

Gedung SM dipenuhi orang saat aku beranjak keluar dari dalamnya. Banyak orang yang memandangiku sambil berbisik-bisik. Aku hanya memandang mereka tak acuh. Sudah terbiasa dengan pandangan mereka terhadap seorang Kim Heechul. Tapi entah kenapa…firasatku mengatakan kali ini bukan tentangku.

Cih. Kalau saja Jungsu tidak menelponku untuk segera ke dorm, aku pasti akan mendatangi orang-orang yang berbisik itu dan menanyakan maksud mereka. Aku harus cepat ke dorm. Telepon dari Jungsu itu membuatku tidak nyaman.

Super Junior’s Dorm

Lagi-lagi aku dikejutkan dengan fakta aneh.

Ada 12 pasang sepatu di dorm.

Kenapa semua berkumpul disini? Cepat-cepat aku masuk ke dalam. Langkahku yang tergesa seketika terhenti melihat mereka semua berdiri tak jauh dari pintu depan.

“Kenapa kalian semua disini?”

Semua kepala menoleh padaku. Tampaknya mereka tidak memerhatikan kedatanganku.

“Chullie…” Hankyung berkata pelan, dan tampaknya itu berdampak besar bagi yang lain. Member lain serentak menoleh pada Hankyung. Aku mengernyit melihat koper di sisi kiri Hankyung. Juga dandanannya.

“Kau mau kemana?” tanyaku heran.

Tidak yang menjawab. Hening. Member lain saling melirik gugup. Wajah Hankyung berubah pucat.

“Hyung, kau belum dengar kabarnya?” Shindong bertanya ragu.

“Kabar apa?” Aku bertanya bingung. Membuat yang lain semakin gelisah. “Ada apa? Apa yang terjadi?”

“Hyung…” Aku menoleh pada Hankyung. Perasaan terkejut dan ragu meliputiku. Hankyung jarang memanggilku ‘hyung’. Ia hanya akan memanggilku begitu jika sedang serius.

Hankyung terlihat menghembuskan napas pelan. “Aku akan keluar.”

Alisku bertaut heran. “Aku, kan, tanya tadi. ‘kau mau kemana?’”

“China. Aku akan kesana mulai besok dan seterusnya.” Nadanya terdengar begitu tegas.

“Kapan kau pulang? Bawakan masakan ibumu saat kau pulang nanti. Tiba-tiba aku merindukannya,” kataku enteng.

Tapi ekspresiku berbanding terbalik dengan yang lain. Member lain tampak sedih.

Hankyung menggelengkan kepalanya. “Hyung, kau tidak mengerti. Aku akan pulang ke China. Dan…tidak akan kembali.”

Aku terdiam mendengar kata-kata ganjilnya. “Apa maksud-”

“Aku keluar dari Super Junior.”

Aku tersentak mendengar kata itu. Begitu tegas dan final. “Mwo? Apa maksudmu??”

Wajahnya terlihat datar saat menjawab dengan nada yang masih sama kerasnya. “Aku tidak bisa disini terus, hyung. Tuntutan sudah keluar. Aku sudah tidak sanggup terus disini. Aku akan pergi.”

“Tuntutan? Kau menuntut?? Kau gila?! Kenapa sampai ada tuntutan? Apa masalahmu?? Apa yang kau cari?” kata-kataku menyembur di sela-sela kemarahanku.

“Kebebasan.” Aku terdiam mendengarnya. Hankyung menutup matanya, tampak lelah, lalu berkata “untuk saat ini aku ingin kebebasan. Aku tidak butuh ketenaran, tidak butuh nama besar dan perusahaan dimana aku menggantungkan hidup. Aku hanya ingin bebas.” Hankyung membuka matanya yang tampak gelap dan berbeda dari yang selama ini aku tahu. “Kalau pun aku tidak bisa bangkit nanti di China., juga tidak apa. Yang penting aku bisa keluar dari sini. Tidak masalah.”

“Hyung, geumal, jebal…” Ryeowook berbicara tersendat. Air mata kini terlihat di kedua matanya. Aku berusaha mengacuhkan itu. Aku mengepalkan tanganku keras. Aku tidak akan menangis sampai semua ini jelas. Jadi, dia bilang dia bosan?

“Jadi kau sudah bosan begitu? Lalu apa arti kita semua sekarang? Apa arti kebersamaan kita selama bertahun-tahun? Kau menganggap kami apa??!”

Hankyung terlonjak terkejut. “Tidak. Bukan itu maksudku, hyung. Aku selalu menganggap kalian saudara, keluargaku. Aku hanya butuh ketenangan untuk keluar dari lingkungan ini, bukan kalian…”

“Kalau hanya itu yang butuhkan, kau bisa meminta cuti! Tidak usah sampai menuntut dan keluar segala. Tidakkah kau memikirkan kami? Apa yang kau pikirkan, hah? Apa yang membebanimu? Pikirkan segala keputusanmu dengan baik!”

“Mianhaeyo, hyung…” Hankyung menatapku, matanya berkaca-kaca dan terluka. Tidakkah dia tahu, aku juga ingin melakukan itu? Aku juga terluka… “aku melakukan ini untuk memikirkan segalanya dengan baik.”

BUAGH!!!

Tangan kananku bergetar memukul wajah Hankyung keras. Membuat Hankyung terhuyung mundur. Tanpa menunggu ia berdiri, aku kembali melayangkan pukulan dari tangan kiri. Saat tangan kananku kembali terangkat untuk memukul, kurasakan cengkraman di pergelanganku lalu tangan kedua tanganku dipiting kuat. Siwon memelukku dari depan, berusaha menahanku. Jungu berdiri diantara aku dan Hankyung. Beberapa member mendekati Hankyung.

“Sial! Lepaskan aku!” aku memberontak pada pitingan tangan yang kuat.

“Sadarlah, hyung,” suara Youngwoon terdengar jelas dibelakangku. Ternyata dia yang mengunciku.

“Aku melakukan ini untuk menyadarkannya! Dia yang perlu disadarkan!”

“Hyung, kau gila!” suara Kyuhyun terdengar di sebelah kananku.

“Kalian yang gila!” teriakku, berusaha memberontak “Kenapa kalian tidak menahannya?! Kalian membiarkannya pergi?!” Aku tak habis pikir dengan sikap mereka tadi yang pasrah.

“ Itu pilihannya hyung. Kita harus menghormatinya,” sahut Kibum di depanku.

Aku tersenyum mengejek mendengar kalimatnya. “Menghormati? Berapa member lagi yang harus kuhormati keputusannya? Sampai semua member bubar?”

“Kim Heechul!” Suara Jungsu bernada memperingatkan terdengar. Member disekelilingku juga tampak gelisah. Aku tidak peduli. Aku berusaha sekuat tenaga memberontak.

“Hyung, gwaenchana?” aku mendengar Donghae bertanya pada Hankyung. Kulirik namja Cina babo yang masih terduduk itu. Sudut bibirnya berdarah, dan ia tampak terluka. Bagus.

Tak terduga, Hankyung tersenyum pada Donghae, “Gwaenchana-”

“BRENGSEK!!!” Napasku tersengal karena berteriak keras. Kupandangi Hankyung nanar “Kau! Kalau kau kesakitan, BILANG! Kalau kau lelah, BILANG! Kalau kau bosan, BILANG! Kalau kau ingin cerita, BILANG! Jangan hanya diam dan tersenyum seakan semua baik-baik saja! Jangan biarkan semua beban ada di pundakmu sendiri!! BICARA SEKARANG, HANGENG!!!”

Dan diam. Semua orang terdiam. Aku menepiskan lenganku dari pegangan Youngwoon yang mengendur. Walau begitu aku tidak lagi berniat memukul anak itu. Yang kubutuhkan sekarang jawabannya. Begitu pula dengan member lain. Kami menanti Hankyung menjelaskan.

“Aku lelah, aku bosan, aku sakit, aku sedih,” Hankyung menunduk memandangi lantai, “kau ingin aku mengatakan itu, hyung, sementara kalian sudah tahu itu, terkadang melebihi diriku sendiri. Aku bersyukur karena memiliki kalian, aku bersyukur karena kalian peduli padaku. Aku tidak menyangka aku akan punya keluarga disini, jauh dari kampung halamanku,” Hankyung memandangi member penuh terima kasih, “tapi saat aku merasakan sakit, lelah, sedih, semuanya sekaligus, aku tahu aku tidak bisa terus menggantungkannya pada kalian. Aku tidak bisa mengandalkan kalian lagi. Aku harus mengatasinya.”

“Kau merasakannya sekarang?” Jungsu menatap Hankyung datar. Hankyung tersenyum tipis.

“Tapi, hyung tidak perlu menanggungnya sendiri. Hyung punya kami. Kita dapat mengatasinya bersama.” Kyuhyun ikut bersuara.

Senyum Hankyung kembali muncul. “Terima kasih, Kyu. Tapi aku tidak bisa.” Anak ini memang benar-benar keras kepala.

“Hankyung hyung…” Youngwoon berkata putus asa.

Hankyung membungkuk sembilan puluh derajat pada kami. “Terima kasih karena sudah begitu baik padaku, dan maaf karena aku tidak bisa mendampingin kalian lebih jauh dari ini. Aku tidak bisa mengubah keputusanku.”

“Jadi ini akhir? Semua ini berakhir?” air mata sudah mengalir deras dari mata Hyukjae.

“Anio. Aku tetap menyayangi kalian, apapun yang terjadi. Aku tidak ingin itu berakhir. Uljima.” Kalimat itu malah membuat Hyukjae semakin sesenggukan. “Aku tidak ingin kalian menangis. Aku yang salah. Aku yang pantas sedih disini. Maafkan aku Kyuhyun-ah, Kibum-ah, Ryeowook-i, Donghae-ya, Hyukhae-ya, Siwon-i, Sungmin-ah, Shindong-i, Kangin-ah, Yesung-ah. Jaga diri kalian. Heechul hyung, Leeteuk hyung, tolong jaga mereka dan diri kalian, aku menyayangi kalian semua.”

Seketika Donghae menghambut memeluk Hankyung. Tubuhnya bergetar karena tangis. “Hyung, hajiman, jebal…”

“Donghae-ya, kumohon jangan begini.” Hankyung melepas pelukan Donghae. “uljima, hm? Kau tidak boleh terlalu sering menangis.” Hankyung menepuk bahu Donghae, dan ia tampak akan membantah lagi.

“Biarkan saja dia pergi,” aku berkata sambil memandangi Donghae, “kalau memang itu maunya, biarkan dia pergi.”

“Chullie…” Hankyung berkata pelan, tapi aku menolak memandangnya. Aku masih marah. Aku tidak yakin apa aku tidak akan menonjoknya saat melihatnya begitu sayu. “Terima kasih.”

Aku tidak menjawab apa pun. Aku malah berbalik meninggalkan ruangan yang menyedihkan ini. Dengan cepat melangkah menuju lantai 12, menuju kamarku, lalu menutup pintunya keras. Aku terduduk setelah menutupnya. Aku menangkupkan kedua tangan di telinga, berusaha tidak mendengar pintu di bawah terbuka dan menutup. Berusaha tidak memikirkan namja babo itu akan keluar dari sana dan tidak akan pernah tampak lagi. Sekuat apa pun aku menutup telingaku, aku masih dapat mendengar. Pintu itu terbuka dan tak lama kemudian menutup. Pintu itu tertutup.

Aku melepaskan tangkupan tanganku di telinga. Kurasakan hawa disekelilingku mendingin. Hawa dingin kesepian. Namja itu akhirnya keluar… sahabatku tidak akan pernah muncul lagi…

Tanpa sadar air mata mulai turun di pipiku. Sakit. Kenapa harus ada kejadian seperti ini? Kenapa tahun ini begitu menyenangkan dan menyedihkan di saat yang sa,a? Kenapa??

Aku melolong keras di kamar. Sendirian. Di tengah malam bersalju. Menangis sepanjang malam untuk pertama kalinya Menangis untuk sahabatku. Menangis untuk keluargaku. Untuk semua cobaan yang hadir bertubi-tubi. Akankah ini semua berakhir?

~~~END~~~

Advertisements

3 thoughts on “Tough

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s