Summer Truth

st1

Summer Truth

A Fanfiction by rineema

Kim KibumHan Hana

~***~

Siang itu sangat panas.

Tapi entah mengapa pria itu malah tersenyum.

Cuaca memang sedang menggila sekarang. Panas tak hentinya menguar di udara, padahal ini masih awal musim panas. Tapi, bagi pria itu, panas ini tidak ada apa-apanya. Apalah arti suhu yang panas jika kau pernah syuting di atas Tembok Besar China yang disinari matahari berlimpah? Panas di Korea Selatan tidaklah ada apa-apanya dibandingkan dengan panas di Amerika, tempat ia tinggal selama bertahun-tahun dulu.

Pria tinggi bertopi itu teringat akan drama yang baru saja selesai masa syutingnya. Dua bulan penuh ia berada di China dan kemarin, ia menyelesaikan jatahnya lebih awal dan langsung terbang kemari. Apa lagi yang bisa ia jadikan alasan? Tentu saja ia langsung terbang kemari karena ‘dia’. Orang yang selama dua bulan ini ia rindukan kehadirannya.

Senyum pria itu semakin mengembang.

Tentu saja ia merindukannya. Bagaimana bisa tidak? Hanya ‘dia’ yang selalu berada disampingnya, gadis hyper active itu.

Pria itu menyesap kopi di hadapannya dengan tenang, walau tak setenang hatinya.

Ia melirik jam tangan hitam di pergelangan tangannya. ‘Dia’ sudah terlambat lima menit. Bagus. Gadis itu berniat untuk membuang waktu yang dapat ia gunakan untuk bersamanya. Gadis itu harus membayar atas keterlambatannya.

Kim Kibum menatap ke persimpangan jalan di kejauhan tepat ketika sesosok gadis muncul.

Memakai kaus oranye terang longgar dan rambut yang tergerai menari-nari di belakangnya,dia berlari menghampiri meja Kibum yang berada di luar kafe. Gadis itu berhenti tepat di samping mejanya dan– walau sedikit terengah kecil– gadis itu tersenyum.

“Hai.”

Dan tanpa sempat memikirkan apa-apa, Kibum sudah berdiri merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Ia menghirup napas banyak-banyak di dalam rambut kemerahan milik gadisnya yang menguarkan aroma lembut.

“Kau terlambat.”

“Setidaknya kau masih menunggu.”

Han Hana tersenyum ringan sementara kedua tangannya terangkat melingkari pinggang Kibum. “Aku merindukanmu.”

Sang killer smile tersenyum begitu manis.

~~***~~

“Bagaimana syutingmu?”

“Baik. Aku sudah menyelesaikannya beberapa hari yang lalu.”

“Kau semakin hebat saja,” gumam Hana. Ia mengaduk pesanannya yang baru datang, milkshake strawberry, dengan antusias.

“Dan kau tetap sama,” ujar Kibum. Ia memerhatikan tingkah Hana dengan geli. “Bagaimana kuliahmu?”

“Yaa, biasa saja. Tidak ada yang spesial,” jawab Hana sekedarnya, “Beda dengan Hyesoo yang punya tugas musim panas. Membuat novel. Dan Hyesoo belum mengerjakannya sama sekali.”

“Belum?” Kibum menaikkan alisnya heran, “bukankah dia paling suka tugas seperti itu? Ada apa dengannya?”

Hana mengedikkan bahunya, “Mungkin syndrome malasnya lagi. Atau mungkin juga syndrome ‘kebuntuan ide’. Tapi, aku sudah menyuruh Kyuhyun datang dan menemani Hyesoo mengerjakan tugas di rumah. Mungkin mereka sedang mengerjakannya sekarang.”

Kibum mengangguk-angguk mengerti. Jika ada Kyuhyun maka semua beres.

“Oh ya. Kyuhyun titip salam untukmu, Bum-ah. Dia bilang sudah lama kau tidak main ke dorm, mainlah sekali-kali,” lanjut Hana. Ia memang senang Kibum sudah menemukan tempat yang tepat untuk dirinya, tapi ia juga ingin Kibum mengunjungi keluarganya, Super Junior.

Kibum terdiam mendengar perkataan Hana. Benar. Memang sudah lama. Terlalu lama malah. Ia tidak begitu ingat kapan terakhir kali ia pergi ke dorm. Dua bulan lalu Kibum memang bertemu dengan member Super Junior yang lain, tapi itu di gedung SM. Disana terakhir kalinya ia melihat Leeteuk sebelum ia pergi wajib militer, bertemu dengan Kangin, Siwon, Ryeowook, dan Yesung walau sekilas. Ia sudah lama tidak melihat Donghae, Sungmin, Eunhyuk, dan Shindong karena jadwal mereka yang tak pernah sama. Kibum lebih sering bertemu dengan Kyuhyun karena Hana selalu bersama dengan Hyesoo, tapi selama itu juga tidak ada percakapan yang berarti. Semuanya terasa biasa. Entah kenapa, Kibum baru merasakannya sekarang. betapa ia merindukan mereka semua.

Hana memandangi Kibum yang terdiam di depannya. “Kalau kau merindukan mereka, kau bisa datang kesana.”

“Entahlah…,” kata Kibum menggantung. “Bukankah mereka sedang sibuk?”

“Mereka sedang bebas. Kudengar mereka akan berkumpul semua hari ini,” Kibum terdiam. “Datanglah.”

Kibum menyeringai, “Haruskah?”

Hana mendengus geli melihat respon Kibum, “Kalau aku tidak mengenalmu, aku akan mengira kau membenci mereka, Tuan Aktor.”

“Memang tidak….” Kibum mengaduk gelas kopinya dengan sedikit gelisah. Hana menatapnya ingin tahu.

“Lalu…?”

“Yah… aku tidak tahu harus berkata apa… setelah lama tidak pernah bertemu…” Kibum menatap Hana, “Apa yang harus kukatakan?”

Hana membelalakkan matanya, “Kau… tidak mau menemui mereka karena bingung harus berkata apa?”

Kibum tampak semakin gelisah. Ia meminum kopinya sebelum menjawab pertanyaan Hana.

“Yah… selama ini ‘kan, tidak ada banyak perbincangan juga…”

Hana tertawa pelan yang buru-buru disamarkannya dengan batuk kecil ketika melihat tatapan tajam Kibum. Belum sempat ia menata ekspresinya, ia dikejutkan oleh kenyataan bahwa wajah Kibum berada begitu dekat dengannya.

“Apa itu lucu, Nona?” Napas Kibum yang hangat membentur wajah Hana. Dengan sukses membuatnya kebingungan.

“Ehm… yah… itu kan tidak masuk akal. Kau sudah mengenal dan pernah hidup bertahun-tahun dengan mereka sebelumnya… sementara kau baru mengenalku selama dua tahun… bagaimana bisa tidak tahu apa yang harus dibicarakan…?” kata Hana pelan.

Kibum tersenyum ringan, “Masalahnya, Hana-ya, aku sudah lama tidak hidup bersama mereka lagi. Sekarang aku hidup denganmu. Apa lagi yang bisa kuharapkan?”

“Maksudmu kalau kita berjauhan, kau juga akan bersikap seperti ini padaku?” tanya Hana sedikit terluka.

Kibum tampak berpikir sebentar. “Mungkin. Tapi kau tidak akan membiarkanku, ‘kan?”

“Mungkin,” ujar Hana sedikit ketus. Ia mengambil kembali milkshake-nya dan berusaha tidak mengacuhkan Kibum yang kembali ke tempat duduknya tanpa dosa. Dalam hati Hana menggerutu pelan. Dasar, manusia es!

“Menurutmu aku harus mengunjungi mereka?”

“Mereka sedang luang sekarang,” jawab Hana. Kibum terdiam. Hana pun tidak berniat meneruskan membujuk Kibum. Selama beberapa saat hanya terdengar alunan musik café.

Hana menaruh gelas milkshake-nya dan kini kembali menatap Kibum yang tengah menunggunya.

“Sudah selesai? Ayo, kita pergi.” Kibum menaruh beberapa lembar won lalu menarik tangan Hana menuju pintu masuk.

“Kita mau kemana?” tanya Hana begitu melihat Kibum menariknya menuju mobil hitamnya.

“Pulang,” jawabnya singkat. Hana menghembuskan napas kesal. Ia menyentakkan genggaman Kibum di tangannya.

“Kalau kau tidak suka mengantarku pulang, aku bisa pulang sendiri.”

Kibum menatap Hana bingung, “Kau kenapa?”

“Tidak ada. Aku cuma tidak ingin pulang ke rumah. Aku akan mengunjungi member saja. Dan karena kau ingin aku pulang, aku berangkat sendiri saja,” jawab Hana ketus.

“Jadi, kau tidak ingin aku kesana juga? Kau akan membiarkanku pergi ke dorm tiba-tiba begini?”

Hana menatap Kibum bingung. “Kau… akan ke dorm?”

“Bukankah kau yang menyuruhku datang?” Kibum tersenyum. Ia menarik tubuh Hana menuju hadapannya, begitu dekat sehingga mereka dapat melihat pantulan wajah dalam bola mata masing-masing, “Lagipula seperti katamu, aku merindukan mereka.”

Hana mendengus kesal, “Hanya mereka yang kau rindukan? Kau bahkan tidak rindu padaku.”

Kibum membelalakkan matanya heran. Han Hana memang jenis orang yang akan mengatakan apa yang dirasakannya, tapi ia tak pernah menyangka akan mendengarkan kalimat itu dari mulut gadis ini, “Astaga, Han Hana. Apa yang sudah terjadi padamu selama dua bulan ini?”

Kedua bola mata Hana tampak menghindari mata Kibum. Terlalu malu untuk melihat mata hitam itu, “Entahlah…”

Sebelum Hana menjawab lebih jauh, Kibum meletakkan tangannya pada pinggang Hana, membawanya pada dekapan Kibum dan langsung mengecup bibir Hana pelan dan manis. Hana mengerjapkan matanya, terkejut. Seorang Kim Kibum… mengecupnya ditengah jalan Seoul yang ramai?

“Kim Kibum, apa yang sudah terjadi padamu selama dua bulan ini?”

Kibum kembali tersenyum manis sebelum membalas, “Aku merindukanmu, Na-ya.”

Hana tersenyum cerah mendengarnya, “Aku tahu.”

Hana menggeser tubuhnya menjauh lalu mengaitkan tangan mereka, “Tapi ada yang lebih merindukanmu.”

Kibum menghembuskan napas gugup, “Kuharap begitu.”

Tangan mereka tetap bertautan saat sampai di dorm Super Junior.

Musim panas selalu dapat menghangatkan segalanya yang beku jika berada di waktu yang tepat.

~~~END~~~

Advertisements

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s