New Life

New Life

A Fanfiction by rineema

Park Jungsu Seo Taerin

romance, sad, angst

cr pict: http://jacobsquincy.wordpress.com/

~***~

Annyeong! ^^

Kali ini aku datang dengan membawa FF spesial for uri leader’s birthday!

FF ini aku kirim ke event-nya SJFF dan karena ga menang, jadi aku post disini dulu sebelum di post di sana ^^

Read, Enjoy, and Appreciate it, please

~***~

 The Story…

===============

When I’m with you…

That’s called life

===============

 

           

Tik… tik… tik…

 

 Jam digital-ku berbunyi keras, menandakan waktu yang telah kuatur sebagai alarm telah tiba.

 

 Dengan mata setengah terpejam, tanganku bergerak otomatis menggapai benda hitam berbentuk balok di meja kecil samping tempat tidurku. Kutekan tombolnya dan ruangan seketika menjadi sunyi.

Dengan kesadaran yang masih tipis, aku mendudukan tubuhku di atas kasur dan  langsung merasa linglung karena gerakanku yang mendadak. Sinar matahari yang menyusup masuk melalui jendela mungil disebelah kananku membawakan kehangatan ke dalam kamar. Perlahan tapi pasti, potongan ingatanku mulai tersusun jelas.

Ah, ternyata aku masih hidup.

Kuedarkan pandanganku pada seluruh kamar, tanpa tahu pada apa yang kucari. Setengah dari diriku yang masih terlelap berkata aku sedang melakukan hal yang sia-sia, tapi setengahnya lagi mengatakan aku harus mencari sesuatu. Tapi yang kulihat tetaplah sama seperti sebelum aku terlelap. Benda-benda itu tetap berada ditempatnya. Benda yang kebanyakan didominasi dengan warna putih…, warna kesukaannya.

Tiba-tiba aku merasa hampa. Kosong… Kekosongan yang terasa jika aku mulai mengenangnya. Kekosongan yang membuatku kedinginan. Kekosongan yang mengingatkanku bahwa… ia tidak lagi disampingku.

Kutolehkan kepalaku pada sisi kanan tubuhku. Rapi. Terlalu rapi. Seakan berusaha meyakinkanku bahwa tidak ada yang berada disisiku sepanjang malam. Hal yang tidak mungkin terjadi. Jika ia memang ada, maka ia masih akan berada disampingku, tertidur dengan tenang, menungguku terbangun lebih dulu untuk membangunkannya. Sekalipun ia telah terbangun lebih dulu, maka ia akan berpura-pura tertidur kembali. Ia akan memberiku kesempatan untuk membangunkannya setiap pagi. Hal yang selalu ingin kulakukan jika sudah berkeluarga. Dan ia dengan sennag hati akan melakukannya untukku…

Aku tersentak ketika menyadari pikiranku telah melayang kembali ke hari-hari itu. Buru-buru aku menggeleng kepala keras-keras, berusaha menepis kenangan yang tidak seharusnya kuingat kembali.

Bagaimana bisa aku mengungkit ingatan lamaku? Di pagi hari? Aku tidak ingin tampak menyedihkan seharian ini. aku tidak ingin meringkuk di kasur seharian dan menangis keras sampai siang hanya karena mengingatnya. Tapi aku sudah melanggar aturanku sendiri dan aku akan mendapat ganjarannya.

Perlahan, aku kembali meringkuk di balik selimut putih. Menunggu gelombang perasaan kosong yang akan menimpaku. Menanti saat-saat dimana perasaan itu mendesakku begitu dalam yang membuatku tidak dapat berkutik seharian. Tubuhku bergetar keras.

Detik demi detik berlalu dalam keheningan. Serangan itu tidak hadir.

Aku tidak merasakan apa-apa.

Ada apa denganku?

Drrtt… drrtt…

Aku tersentak ketika mendengar ponselku bergetar. Dengan malas aku mengambil ponsel putihku. Sebaris nama muncul di layarnya. Han Hyesoo.

“Yeoboseyo?”

“Taerin-ah~ saengil chukkae!”

Aku mengerjapkan mata bingung.

“Chu…kkae?”

“Aish, kau pasti tidak melihat kalender, kan? Hari ini tanggal 1 Juli. Ulang tahunmu.”

Aku melirik kalender yang terpasang di dinding kamarku. Benar. 1 Juli.

“Ah, ya… Aku baru menyadarinya.”

“Kita harus merayakannya! Kau harus datang ke café Angels jam 10. Jangan hanya di rumah dan…menyendiri.”

Entah kenapa aku yakin jeda dalam kalimat Hyesoo tadi buru-buru digantinya. Dan aku tahu apa yang tadinya ingin ia katakan.

“Tapi –”

“Aku tidak menerima penolakan,” potongnya langsung. Hyesoo sempat terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan dengan nada lebih lembut, “Dia tidak akan suka kalau kau terus menyendiri, Taerin-ah…”

“Aku akan datang.” Aku memotong perkataan Hyesoo cepat kemudian mematikan ponsel tanpa berucap lagi.

Selama beberapa saat, aku hanya memandangi ponselku hampa. Otakku perlahan mencerna informasi yang terasa sangat lambat. Hari ini… ulang tahunku. Hari ini hari ulang tahunku… dan ulang tahunnya.

Biasanya di hari ini, untuk sehari dalam satu tahun, ia akan bangun mendahuluiku. Ia akan berbaring disampingku, menungguku terbangun sembari tersenyum yang memunculkan lesung pipitnya. Begitu aku terbangun, ia akan mengecup keningku dan akan selalu mengatakan hal yang sama,

“Saengil chukkae dan selamat hari jadi pernikahan kita. Hari ini sangat special untuk kita, karena itu aku tidak akan membuatmu sedih hari ini. Kau harus terus bergembira, Taerin-ah.”

Ingatan itu memunculkan ilham, membuatku mengerti. Sugesti. Kata itu telah menjadi sugesti dalam diriku. Karena kata-katanya, aku tidak merasakan kesedihan dan kekosongan walau terus mengingatnya sedari tadi.

Aku menghembuskan napas pelan. Kalau memang itu yang terjadi, aku akan memanfaatkannya.

~~***~~

Selesai membersihkan diri dan berpakaian lambat-lambat, aku segera turun menuju ruang tengah. Jelas-jelas mengabaikan perutku yang meraung minta diisi.

Ruangan tengah di rumah yang minimalis ini tetaplah sama seperti ruangan yang lain yang dipenuhi dengan benda-benda berwarna putih pilihannya. Perlahan aku melangkah menuju sudut ruangan, menuju lemari cokelat kecil dipojok. Aku mulai mengambil dengan acak album-album foto yang tersusun di lemari. Membuka-bukanya dengan kasar, sama sekali tidak peduli jika tindakanku akan membuat usahaku selama tiga bulan lamanya untuk membereskan semua itu akan sia-sia.

Dan aku tersenyum ketika akhirnya melihat album besar berwarna merah ada ditanganku. Album kami. Album fotoku dan dia. Aku tersenyum ketika teringat bagaimana ia akhirnya mengalah untuk menggunakan warna putih dan menggantinya dengan warna favorite-ku.

Perlahan kubuka lembaran pertama yang langsung membuatku menahan napas. Foto pertama adalah fotonya yang sedang tersenyum manis di café Angels, tempat kami pertama bertemu. Dan getar itu tiba-tiba terasa.

Tanpa dikomando, tanganku bergerak mengelus foto yang sudah berumur lima tahun itu. Bahkan walau hanya dalam foto, aku masih merasa terpesona dengan senyum lesung pipi juga matanya yang menatapku dengan lembut. Mata yang membuatku terpesona sejak saat pertama kali kami bertatapan secara tak sengaja.

Aku membuka lembar kedua. Mendapati foto dirinya yang sedang merangkul seorang gadis cantik berambut panjang cokelat yang tertata rapi. Aku mengerutkan kening heran melihat gadis disampingnya. Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk mengenali gadis itu sebelum kemudian aku teringat dengan bayangan yang muncul ketika aku bercermin. Benarkah gadis itu aku? Ya… wajah, senyum, dan tubuh itu jelas milikku. Dan aku tampak sangat bahagia juga hidup. Berbeda dengan apa yang kulihat dari cermin selama beberapa bulan ini. Berbeda dengan apa yang kurasakan saat ini.

Ah, tentu saja berbeda. Saat itu dia ada. Hidupku ada…

Tanganku terus bergerak melewati berlembar-lembar foto dengan perasaan yang terombang-ambing. Antara senang, sedih, juga rindu bercampur menjadi satu. Aku kembali berhenti pada halaman yang memuat foto berukuran lebih besar daripada yang lain. Fotonya seorang diri dengan kamera di tangan. Aku paling suka foto ini. Foto yang menampilkan ia sedang menyodorkan cincin padaku. Ketika ia melamarku…

Tanpa bisa kubendung, air mata akhirnya mengalir di kedua pipiku. Membasahi lembar foto yang sangat kusayangi. Dan dalam sekejap saja aku sudah menangis keras. Aku melipat lututku dan membenamkan kepalaku kedalamnya. Semua rasa sedih, sakit, dan kehilangan yang kubendung selama ini kubiarkan keluar bebas.

Jam dinding yang berdentang keras membuatku terlonjak kaget. Aku menoleh dan mendapati jarum jam sudah berada di pukul 10.

Untuk sesaat, aku merasa ingin berada di rumah saja, membuat alasan pada Hyesoo, tetap berada di rumah sampai hari esok. Tapi kemudian aku teringat perkataan gadis itu. Mengingat kemampuan anak itu untuk menebak keadaanku dengan tepat, ia pasti akan segera kemari dan akan berusaha menasehatiku dengan segala cara. Memang tak heran ia kusebut sebagai sahabat, walau kadang sifatnya itu bisa dibilang menyebalkan.

Yah, mungkin tidak ada salahnya aku keluar rumah hari ini.

~***~

Aku melangkah keluar dari rumah dengan kemeja kotak berwarna merah yang lebih ceria. Setidaknya aku berharap itu bisa menutupi wajahku yang masih tampak kusut.

Perlahan, aku berjalan melewati jalan setapak yang bersih dan lengang. Langkahku terdengar pelan dalam hening pagi. Tidak banyak orang yang hidup di daerah pinggiran ini dan aku menyukainya.

Aku menghirup napas dalam seraya merentangkan tangan ke udara. Rasanya begitu bebas dan menyenangkan. Kalau bukan karena dia, aku tidak mungkin bisa mendapat lingkungan rumah dengan suasana yang menyenangkan seperti ini.

Aku mengedarkan pandang ke sekeliling dan tiba-tiba behenti ketika melihat kemana kakiku telah membawaku.

Aku memandangi tempat dengan aura suram itu. Pemakaman.

Untuk beberapa saat aku bimbang sebelum kemudian memutuskan untuk masuk ke dalamnya.

Aku melangkahkan kakiku dan berhenti di samping sebuah nisan yang tergolong baru jika disandingkan dengan nisan di sekelilingnya. Aku mengulurkan tangan mengusap nisan itu tepat di tempat di mana sebuah nama terukir disana.

Park Jungsu.

“Annyeong,” ucapku pelan, kemudian berhenti sejenak, seakan berharap akan ada yang menyahut. Harapan yang sia-sia. Tentu saja tidak akan ada yang membalasku.

“Leeteuk-ah~ bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja, ‘kan?”

Tetap hening. Hanya terdengar angin yang berhembus.

“Kau ingat tidak sekarang tanggal berapa? Hm, benar, tanggal 1 Juli. Saengil chukka dan selamat hari jadi pernikahan kita,” Aku tersenyum pada batu marmer itu, sekana berharap itu Leeteuk.

“‘Hari ini kau harus bahagia, kau tidak boleh bersedih’ Mungkin kalimat itu yang membuatku tidak sedih ketika mengingatmu. Mungkin karena itu aku tidak meringkuk di kamar dan menangis sekarang. Mungkin karena itu aku punya keberanian untuk datang kemari setelah… setelah satu tahun itu berlalu,” aku berucap pelan, sama sekali tidak sanggup mengatakan ‘setelah hari kematianmu’.

“Tadi pagi, untuk pertama kalinya aku dapat mengenang semua kenangan kita tanpa merasa hampa, tapi… aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku besok, setelah hari ini berakhir. Mungkin… aku akan jauh lebih terpuruk… Kau tidak mau menghiburku, hm? Katakan lagi kalimat ajaibmu itu.”

Aku memandangi nisan Leeteuk intens. Sebagian dari diriku mengharap nisan itu akan berubah menjadi sosok pria yang sudah tiga tahun ini menjagaku. Berharap dapat melihatnya tersenyum padaku, berharap dapat memeluknya dan tidak pernah melepaskannya lagi…

“Kau pasti sudah gila, Seo Taerin,” gumamku pelan pada diriku sendiri, “Apa yang kau harapkan dari benda mati? Tapi aku juga mati… Jiwaku mati… bersama denganmu, Leeteuk-ah. Kau selalu menghalangiku untuk pergi ke sisimu. Tidakkah kau mengerti? Aku tidak bisa berdiri disini sementara aku tahu kau tidak. Aku… tidak… bisa.”

“Aku mencintaimu, Leeteuk-ah. Untuk setiap waktu yang sudah kita lalui bersama-sama. Aku mencintaimu.”

Air mataku kembali mengalir deras, setelah mengatakannya. Dalam keputusasaan aku  memandangi nisan itu, “Kau benar-benar tidak mau menjawabku? Jawablah, Leeteuk-ah, kumohon.”

Lagi-lagi hanya angin yang berhembus menjadi jawabanku. Menghembuskan kenyataan. Bahwa ia tidak ada dan tidak akan membalas perkataanku lagi. Aku menggelengkan kepala, emnyerah.

“Aku benar-benar sudah tidak waras,” gumamku pelan.

Aku menghapus jejak air mata di pipiku, berbalik dan berjalan cepat keluar area pemakaman.

~***~

Aku melanjutkan perjalananku menuju café Angels dalam diam. Sepanjang perjalanan aku hanya menerawang tanpa benar-benar yakin ke arah mana kakiku membawaku, hingga tidak menyadari bahwa aku sudah sampai di tempat yang benar.

Bunyi derum mobil yang berlalu lalang membuatku menyadari aku telah sampai di jalan utama dan jalan menuju café Angels hanya tinggal menyeberang jalan yang ramai ini. Aku dapat melihat Hyesoo melambai padaku di balik kaca café. Aku hanya mampu tersenyum tipis melihatnya.

Aku menolehkan kepala, mengawasi setiap kendaraan yang lewat, menunggu waktu yang tepat untuk menyeberang. Aku segera melangkah setelah jalanan cukup sepi. Tiba-tiba angin berhembus kencang sehingga membuat mataku perih. Aku berhenti tiba-tiba karena terkejut dan langsung mengucek mataku. Gerakanku terhenti ketika merasakan sentuhan lain. Sentuhan tangan… Tangan hangat itu menyingkirkan pergerakan tanganku lalu menggenggamnya dalam genggaman nyaman. Genggaman yang mengingatkanku pada….

Aku berusaha memerhatikan sosok orang yang ebrdiri di hadapanku yang sedikit kabur karena mataku yang berair. Tapi, walau berselaput pun aku dapat mengenali sosok itu.

“Leeteuk-ah.” Tanganku kembali tergerak ingin mengahpus selaput air itu, aku ingin melihatnya dengan jelas. Gerakanku sekali lagi dihentikan olehnya.

“Jangan di hapus, Taerin-ah. Itu akan menjadi alasan yang bagus.”

Tanpa sadar aku tersenyum mendengar suaranya. Suara Leeteuk.

“Leeteuk-ah…”

Tangan Leeteuk tergerak menghapus bekas air mata di pipiku. “Maaf karena telah membuatmu menderita selama satu tahun ini. Kau tahu itu belum waktunya.”

“Kalau begitu sekarang?”

Leeteuk tersenyum padaku, tampak benar-benar seperti seorang malaikat.

“Aku kesini untuk itu. Tapi sebelumnya aku ingin kau tahu.” Leeteuk menyentuh kedua pipiku dan menatapku intens, “Aku mencintaimu, untuk setiap hari dalam satu tahun lalu yang tidak kuucapkan padamu.”

Kemudian ia menunduk mencium bibirku, tepat saat bunyi hantaman keras terdengar.

Aku menoleh dan melihat jasadku terlempar karena hantaman truk yang tidak kuketahui keberadaannya, sementara jiwaku tetap berada di tempat tubuhku tadu berada di tengah jalan bersama dengan Leeteuk. Dalam sekejap, suasanan menjadi ramai. Sempat kudengar teriakan Hyesoo di sisi jalan lain.

“Cara yang buruk untuk mati.”

Aku menoleh pada Leeteuk yang masih memandangiku.

“Begitu juga dengan caramu,” kataku.

Leeteuk hanya mampu tersenyum tipis. “Hidupmu sudah berakhir.”

Aku menggeleng.

“Tidak. Hidupku baru saja dimulai.”

Aku tersenyum lalu menggandeng tangannya yang menuntunku menuju sebuah cahaya putih yang menyilaukan. Meninggalkan semuanya. Menyisakan kami berdua. Menuju awal hidup baru.

 

~END~

 

Advertisements

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s