{Songfiction} If It Was Me

cover-ifitwasme

If It Was Me {Songfiction}

A Fanfiction by rineema

Han Hana Cho KyuhyunHan HyesooKim Kibum

~***~

Whole of this story is inspired by this song (If It Was Me), but this version giving me more inspring XD

The lyric and translate belong to this

The story and poster belong to me

Read, Enjoy, and Appreciate it, please ^^

~***~

 

Tes.. Tes.. Tes..

Rintik-rintik hujan perlahan berubah menjadi semakin deras. Satu lagi sore di bulan Februari yang ditemani oleh hujan. Aku memandangi rintik-rintik yang semakin deras itu. Untuk sesaat lupa pada laptop yang masih menyala menampilkan berlembar-lembar halaman tugas di pangkuanku. Aku merasa tertarik melihat sekumpulan anak di lapangan sana. Di depan sana, anak-anak yang awalnya bermain basket sementara berteduh di bawah pohon.

Basket… Hujan…

Samar-samar sebuah kenangan menyeruak keluar dari kepalaku.

 

Ya! Kyuhyunah! Jangan hujan-hujan begitu! Kau mau aku di marahi umma mu? Cepat kemari!” Aku begitu marah padanya. Padahal dia punya pneumorax tapi dia masih bisa main di bawah hujan seenak itu.

arraseo” Kyuhyun akhirnya menyerah dan berjalan kearahku dengan muka pasrah. Aku tersenyum puas melihatnya. Kuulurkan payung biru yang sudah kubawa untuknya.

Tapi, dengan cepat dan tak terduga, Kyuhyun mengambil payungku dan berlari sambil membawanya, membuatku ikut basah kuyub.

Ya! Cho Kyuhyun!” teriakku lalu berlari mengejarnya.

 

Tanpa sadar, aku menggeleng dengan keras. Berusaha menyingkirkan ingatan lama. Entah sudah berapa lama aku tidak melihatnya.. Bagaimana kabarnya? Aku bahkan tidak punya nyali untuk sekedar menelponnya, menanyakan kabar.

Alunan menghentak musik di headphone-ku kini berhenti. Perlahan alunan yang lebih pelan dan manis terputar.

Nayeosseumyeon

Jika saja itu aku…

Angin hujan menghembus dengan kencang. Menghembuskan kembali ingatan yang sudah lama terkubur. Dan entah kenapa aku tidak bisa menolaknya….

~***~

Hari itu matahari kembali bersinar terik walau jelas-jelas ini bulan Desember. Tapi aku tidak mempermasalahkannya. Justru ini bagus. Berarti sekumpulan namja yang biasa bermain basket di lapangan perumahan akan hadir.

Dengan bersemangat, aku mengeluarkan peralatan gambarku lalu menatap pada sekumpulan namja yang kini sudah hadir di ujung lapangan lain. Sebenarnya perhatianku hanya pada satu namja. Geu namja. Namja paling tinggi dengan kulit putih pucat. Kalau terlingaku tidak salah dengar, namanya Kyuhyun. Yah, aku mencuri dengar pembicaraan mereka dari sini. Sudah berminggu-minggu aku gemar pergi kemari hanya demi melihat senyum namja itu saat berhasil memasukkan bola. Aku selalu duduk di kursi taman yang memiliki view bagus ke lapangan.

Tak lama sekumpulan namja itu akhirnya tiba di tengah lapangan. Aku tersenyum melihat namja tinggi –yang mungkin bernama Kyuhyun itu– juga datang. Dan tanpa banyak omong, mereka langsung bermain. Aku mengamati permainan mereka dengan fokus hanya berada di namja itu. Aku terkesima pada setiap gerakan yang tampak memukau itu. Ia tampak menyilaukan di bawah sinar matahari yang cukup terik.

Ya, Han Hana! Jangan mulai melantur yang tidak-tidak! Mana mungkin seorang manusia bisa bercahaya seperti matahari. Cepat-cepat aku menggelengkan kepala lalu mulai mengambil peralatan lukisku. Dengan cekatan aku dapat menuangkan hal yang kulihat dalam buku gambar milikku. Menggambar memang kegemaranku, tapi kali ini aku menggambar untuk tugas kuliahku. Bukan untuk menambah banyak gambar namja itu di kamarku.

Tanpa sadar waktu sudah bergulir cepat. Aku baru menyadari langit sudah menggelap saat aku selesai menggambar. Kutolehkan kepalaku ke lapangan. Ternyata namja itu masih bermain disana, bermain sendirian.

Tiba-tiba aku merasa gugup. Sapa tidak ya… sapa… nggak… sapa… kalau ternyata dia tidak merespon bagaimana? Ah, aku tidak sanggup membayangkan jika itu terjadi. Lebih baik jangan!

Buru-buru aku membereskan peralatan menggambarku dan berniat memasukkannya ke dalam tas, ketika tiba-tiba sebuah suara bass jernih terdengar.

“Awas!”

Dan – ‘Duak’ – Sebuah bola sukses menghantam kepalaku.

“Auw!” rintihku. Aku langsung terduduk di lapangan sembari memegangi kepalaku yang berdenyut-denyut. Aduh… siapa orang teledor yang sudah mencelakaiku?!

Gwaenchana?” Jelas-jelas aku mengaduh, apa yang baik-baik saja? Kudongakkan kepalaku pada orang yang tak berperasaan itu.

“Ya! Kalau main itu hati-ha –”

Seketika perkataanku terhenti melihat siapa yang berdiri di depanku. Namja itu! Menatapku dengan cemas! Aigoo!

neo gwaenchana?” tanyanya lagi.

“e – eo. Nan gwaenchana,” jawabku terbata.

“Aku kehilangan kendali bola tadi. Mianhae,” ucapnya sungguh-sungguh.

“Y-Ye. Tidak apa.” Kenapa aku jadi gugup?

“Kau pusing? Duduk saja dulu, biar aku bantu bereskan,” ia segera membungkuk mengambilkan barang-barang yang berserakan.

“Ah, biar aku saja-” Gawat kalau sampai…

“Ng? Kau tadi menggambarku?” Namja itu memandangi buku gambarku dengan wajah datar. Bagus, Han Hana. Bagaimana kalau dia marah?

“I…ya… Untuk… tugas kuliahku. Dosenku mengambil tema olahraga… dan aku pikir kau cocok jadi modelnya,” jelasku. Tapi namja itu masih saja diam. “Ng… kau tidak suka ya? Kalau iya, biar aku ganti-”

“Kau yeoja yang biasanya menggambar disini?”

Aku tersentak mendengar pertanyaannya. Dia… memperhatikanku?  “Gambarmu bagus. Lanjutkan saja.” Namja itu mendongak dan tersenyum tipis. Astaga, benar dia baru saja tersenyum? Tipis sekali.

“Oh, baiklah,” ujarku kaku. Sama sekali tidak menduga kalau ia akan berkata begitu. Namja tinggi itu kemudian duduk di samping peralatan melukisku. Membiarkanku membereskan peralatan melukisku sendiri, sementara dia malah mengamati lukisanku.

Jeogi…” aku menoleh pada namja yang tampak nyaman duduk itu, tiba-tiba merasa penasaran pada suatu hal, “bagaimana kau bisa tahu kalau aku biasa disini?”

“Tempatmu duduk ini akan terlihat sangat jelas saat aku bermain basket disana, jadi orang akan tahu kalau ada yang duduk disini. Sebelumnya aku yang biasa menempati tempat duduk ini, tapi karena ada kau aku pindah,” terang sang namja.

“Eh? Begitukah? Kalau begitu besok aku akan pindah-”

“Tidak perlu. Kau kan perlu mengerjakan tugas. Disini tempatnya nyaman dan terlindung. Akan nyaman jika kau melukis disini. Lagipula aku bisa duduk bersamamu seusai main basket, kan.”

Dan tanpa bisa kuduga, sebuah tangan disodorkan padaku. Aku menoleh dan mendapati namja itu tersenyum tulus sekarang.

“Mulai sekarang kita akan jadi teman duduk. Kita harus saling kenal, kan? Cho Kyuhyun imnida.”

Aku mengerjap bingung, tapi toh tetap mengambil tangan Kyuhyun dan menggenggamnya. “Han Hana imnida.”

Saat itu perkenalan kita memang tidak pernah kubayangkan akan seperti itu. Tapi, tetap saja kenangan akan hari itu menjadi salah satu dari kenangan yang paling berkesan dalam hidupku. Dan kau tidak akan pernah tahu itu.

 

Neul baraman boneyo

Haruga jinagago tto haruga jihado

Geudae sumsori geudae useumsori

Ajikdo nareul heundeuljyo

 

(I always look at you

 Even if a day pass

 And another passes by

 The sound of you breathing

 The sound of you laughing

 It still makes me tremble)

 

Sejak saat itu, aku jadi semakin semangat datang ke lapangan untuk melihatnya bermain. Aku tidak perlu lagi mencuri-curi pandang untuk melihat Kyuhyun bermain, toh Kyuhyun selalu menghampiriku ketika istirahat ataupun selesai bermain basket. Seperti sekarang ini.

“Hoaa! Kau membawa makanan!” katanya yang langsung mencomot kimbab buatanku. Aku memerhatikan Kyuhyun yang masih sibuk makan.

“Kau ini sudah berapa lama tidak makan sih, Kyu?”

“Tadi pagi aku tidak sempat makan, kau tahu? Aku terlambat bangun dan langsung pergi ke kampus tanpa makan apapun. Untung kau membawa makanan,” ujarnya dengan senyum kekanakan.

“Huh. Ya sudah makan saja sana!”

Diam-diam aku tersenyum melihat senyumnya. Senyum yang indah sekali. Sudahkah aku mengatakan itu sebelumnya?

Tto nunmuri heureujyo

Apeun naemam moreunche geudaen utgo inneyo

 

(Tears flow once again

 You are smiling, not knowing the pain inside me)

 

Saengil chukkae, Hana-ya!”

Aku menatap Kyuhyun bingung, “Kau ingat hari ulang tahunku?”

“Hei, kau pikir sudah berapa lama kita bersahabat?”

Tenggorokanku terasa kering seketika mendengar kata sahabat. Oh, memang apa yang kau harapkan, Hana-ya?

Aku menolehkan kepala dari Kyuhyun, mengabaikan perkataan Kyuhyun yang terakhir. Aku berniat untuk menuju tempat duduk favorite kami, tapi aku terkejut ketika melihat sebuah kue tart telah berdiri lebih dulu disana. Dengan cepat aku menoleh kembali memandangi Kyuhyun.

“Itu…”

Kyuhyun hanya tersenyum. Ia menggandeng tanganku menuju tempat duduk kami, mendorongku ke hadapan kue tart berwarna putih bersih beraroma strawberry itu. Aku hanya mampu terdiam melihat kue dihadapanku.

“Apa lagi yang kau tunggu? Itu kue tart kesukaanmu, kan? Cepat buat permohonan dan makan. Aku sudah tak sabar ingin mencicipinya.”

Kini aku benar-benar tersenyum padanya. Aku menangkupkan tangan di depan dada dan mulai berdoa.

“Apa permohonanmu?”

“Kalau kau tahu namanya bukan permohonan, bodoh.”

Kalau kau tahu pun kau juga tidak akan sanggup mengabulkannya, jadi untuk apa aku memberitahumu? Aku hanya dapat mengatakannya dalam hati.

Berbaliklah dan mulai menatapku. Bisakah?

 

Babo gateun na cheoreopneun motnan nareul

Hanbeonjjeum geudae dorabwa jul su eopneunji

Algo itjyo nae baraemdeureul

Geudaeegen amureon euimieoptan geol

 

(A fool like me

 A naive and immature like me

 For this once can you turn around and look at me?

I know that my wishes

 has no meaning to you)

 

Aku menunggu Kyuhyun di lapangan dengan gelisah. Namja itu tiba-tiba menelponku tadi. Memintaku untuk segera datang ke lapangan dengan nada yang berkata seakan akhir dunia telah datang. Aku panik ketika mendengarnya dan semakin panik ketika melihat lapangan masih kosong. Ada apa dengannya?

“Hana-ya.

Suara itu membuatku segera menoleh kebelakang. Aku segera berlari menyongsong sosok Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah, wae irae? Kenapa kau memintaku kemari? Kenapa mukamu pucat begitu?” cecarku khawatir. Aku bingung melihatnya terdiam.

“Hana-ya…” Kyuhyun kembali mengucap namaku.

Mwoya?” Aku benar-benar bingung sekarang.

Saranghae.”

Seketika aku mematung mendengarnya. Apa…? Benar aku baru saja mendengarnya berkata….

“Ehm…” Aku menjadi gugup. Aku kan tidak siap dengan keadaan yang tiba-tiba begini.

Tiba-tiba tangan Kyuhyun bergerak mengacak rambutnya kesal dan ia menghela napas frustasi.

“Aku bisa mengatakan padamu dengan mudah, tapi kenapa tidak dengan Hyesoo? Aish!”

Nama itu berhasil membuatku kembali fokus pada Kyuhyun. “Hye…soo? Han Hyesoo?”

Geurae. Memang berapa Hyesoo yang kau kenal? Aku berniat untuk mengatakannya ketika tiba-tiba kata itu menggantung di tenggorokanku ketika melihatnya. Tapi, kenapa aku dapat mengatakannya padamu dengan mudah? Kalian kan bersaudara, apa yang membedakannya?”

Kesadaran menghantamku setelah kalimat panjang Kyuhyun yang untuk pertama kali itu selesai diucapkannya. Cho Kyuhyun yang keras kepala itu berubah gugup ketika akan mengatakan perasaannya. Tindakanmu itu membuatku yakin kalau kau tidak pernah menatapku dan hanya menatap saudari kembarku. Entah kenapa dadaku terasa sakit.

Kupaksakan diriku tersenyum. “Bodoh, tentu saja itu berbeda. Kau tidak akan bisa mengatakan hal seperti itu dengan mudah di depan orang yang tidak benar-benar kau cintai.”

Kyuhyun menundukkan kepalanya, sedikit gelisah. “Bagaimana dengannya?”

Aku mengerjapkan bingung. Hyesoo memang tidak pernah berbicara banyak denganku semenjak kedatangannya dari Jepang beberapa hari lalu, tapi aku tahu ia pernah bertemu dengan Kyuhyun, dan entah mengapa… aku juga yakin pernah melihat sinar mata yang sama darinya untuk namja di hadapanku ini.

“Aku yakin Hyesoo juga punya perasaan yang sama,” gumamku, yang jelas dapat didengar oleh Kyuhyun di lapangan yang sepi.

“Bagaimana kalau kau membantu sahabatmu ini?”

Aku tersentak melihat wajahnya yang begitu yakin. Aku mendengus.

“Kau memang sahabat yang merepotkan.”

Senyum Kyuhyun kembali tersungging manis. Aku hanya sanggup mengangkat sudut bibirku sedikit. Tidak mampu berkata apa-apa.

 

Nayeosseumyeon geudae saranghaneun saram

Nayeosseumyeon sueopshi manheun nareul na gidohaewatjyo

Hureureun namucheoreom mareopshi bitnan byeolcheoreom

Tto baraman bogoinneun nareul geudaen algo innayo

 

(If it was me, the person you love

If it was me, I prayed for countless days

Like the shining green trees

Like the silent sparkling stars

I am only looking at you again

Do you even know this?)

 

Alunan nada lembut meliuk naik rendah di tengah hening malam. Jari jemarinya tampak menari dengan licah di atas tuts keyboard. Kyuhyun tampak sangat puas melihat wajah terkejut Hyesoo yang berjalan mendekat.

“Kyuhyun?”

Sudut bibir Kyuhyun terangkat seketika melihat Hyesoo dari dekat. Tanpa berlama-lama, ia berjalan memutari keyboard-nya, berdiri berhadapan dengan Hyesoo.

“Hai.” Bodoh. Perkataan bodoh. Aku yakin Kyuhyun sedang merutuki dirinya sendiri sekarang.

Hyesoo menaikkan alisnya bingung. “Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku memintamu kemari dan ketika kau sampai aku sedang memainkan keyboard disini, di lapangan. Menurutmu apa?”

Hyesoo mengerutkan kening. “Kau sedang berlatih untuk tugas kuliahmu?”

Aku menghembuskan napas. Sudah kuduga ini akan terjadi.

Kyuhyun tampak juga sudah mengantisipasi keadaan ini. “Kau tahu apa lagu yang kumainkan tadi?”

“Fly Me To The Moon,” jawab Hyesoo. “Lagu –”

“ – kesukaanmu,” Kyuhyun mengangguk. Ia benar-benar tampak berusaha sabar. “Kau bisa menyanyikan liriknya? Soo-ya?”

Hyesoo menaikkan alisnya heran, “Sejak kapan aku mengizinkanmu memanggilku begitu?”

“Nyanyikan saja, Han Hyesoo.” Kyuhyun memutar matanya tak sabar.

Fly me to the moon and let me play among those stars, Let me see what spring is like on Jupiter and Mars, In other words hold my hand, In other words baby kiss me, Fill my heart with song and let me sing forever more, You are all my all for all I worship and adore, In other words please be true, In other words I love you…”

Hyesoo mendongak ketika mencapai lirik terakhir. Ia tampak telah menyadari sesuatu. Tentu saja. Dia mungkin memang buta tentang hal-hal romantis, tapi dia tidak bodoh.

“Kau…”

“Sudah sadar?” cemooh Kyuhyun. Senyum miring tersungging di bibirnya, membuat rona merah muncul di wajah Hyesoo. “Kupikir aku akan menghabiskan malamku hanya untuk menerangkannya.”

Hyesoo mendengus. “Bilang langsung saja, apa susahnya sih? Daripada berputar-putar seperti tadi.”

“Tidak. Kata itu tabu untukku. Lagipula kau sudah mengerti maksudku, untuk apa mengatakannya lagi?” kilah Kyuhyun.

Hyesoo menyipitkan matanya, “Kalau aku salah mengartikan?”

Kyuhyun menaikkan alisnya, bingung. “Memang kau mengartikannya apa?” Ah, kena jebakan Hyesoo kau, Cho Kyuhyun.

“Kau kan sudah tahu, untuk apa aku mengatakannya?”

Aish!” Kyuhyun mengacak rambutnya kesal. “Apa yang kau pikirkan, Han Hyesoo? Katakan padaku!”

Molla~” Hyesoo tersenyum jahil. Ia hendak melangkah mundur ketika tangan Kyuhyun meraih lengannya cepat dan membawanya mendekat. Hyesoo tersentak kaget.

“Kau mau memberitahuku atau tidak?” Suara Kyuhyun terdengar pelan dan hampir tidak terdengar dari tempatku berdiri mengamati mereka. Aku dapat melihat sinar jahil di wajah Hyesoo menghilang seiring dengan hembusan napas Kyuhyun yang menerpa wajahnya.

“Tidak,” kata Hyesoo membandel, walau kini dengan suara yang terdengar tidak yakin.

Senyuman miring Kyuhyun kembali nampak.

“Kalau begitu, biar aku yang mengatakannya.” Secepat kilat, wajah Kyuhyun mendekat dan menempelkan sekilas bibirnya pada bibir Hyesoo. Yeoja itu hanya terdiam saking shock-nya. Begitu juga aku.

Saranghae,” bisik Kyuhyun. Dan berikutnya ia kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Hyesoo. Aku membalikkan tubuhku, tidak berniat untuk mengamati lebih jauh.

Perlahan, aku mulai melangkah menjauhi lapangan yang menyimpan banyak kenangan akan Kyuhyun, yang sekarang pasti akan membekas di hati saudariku juga.

                                                   

Neul na oneulkkajiman

Honja yeonseubhaewatteon sarangeui gobaekdeuldo

Seulpeun dwitmoseub geujeo oneulkkajiman

Ireon naemameul moreunche sara galtejyo

Kidarimi ijhyeojimboda

Swibdaneungeol seulpeuge jal algo itjyo

 

(Until today, i always practiced

Those love confessions by myself

Shunned by sad back view

Just until today you will live without ever knowing how i feel

Sadly i know that waiting is easier than erasing you)

 

Aku kembali menghela napas untuk kesekian kali. Tak terhitung sudah berapa banyak oksigen yang aku masukkan ke dalam sistem pernapasanku secara berlebihan. Sikap yang selalu kulakukan jika sedang gugup. Ya. Aku sedang gugup.

Banyak orang berlalu melewatiku yang masih mematung di depan pintu. Berlalu dengan wajah gembira untuk orang di balik pintu itu. Untuk mereka. Sahabatku dan saudariku. Cho Kyuhyun dan Han Hyesoo. Ah, mungkin lebih tepat menyebutnya Cho Hyesoo sekarang, mengingat mereka baru saja menikah beberapa jam yang lalu.

Mereka menikah. Aku bahagia. Tapi juga merasakan sakit tak terkira di hatiku. Perasaan yang semakin membuatku ragu untuk kembali tampil di hadapan mereka dengan senyuman.

Aku membalikkan badanku hendak pergi, “Na-ya.”

Sepasang lengan memelukku erat tiba-tiba. Tanpa perlu melihat pun aku tahu siapa yang memelukku.

GomawoJeongmal… Mianhae…,” bisik Hyesoo di telingaku. Kutepuk punggungnya pelan ketika merasakan bahuku membasah.

“Soo-yaUljima. Pengantin wanita tidak sepantasnya menangis di hari bahagianya,” kataku pelan. Hyesoo tak membalas apa pun. Ia hanya mengeratkan pelukannya padaku masih dengan sesenggukan. Aku membiarkannya selama beberapa menit, pelukannya kulepaskan setelah yakin Hyesoo telah merasa lebih baik.

“Pasti berat sekali untukmu… Tempat ini harusnya untukmu… Tapi kau datang untuk orang lain…”

“Kau saudariku, Soo-ya, bukan orang lain. Lagipula apa artinya aku berdiri di tempatmu jika orang yang kuinginkan bersamaku tidak menginginkannya? Aku bahagia melihat kalian bersama. Setidaknya aku tahu kalian saling melengkapi satu sama lain.”

Aku menggandeng tangan Hyesoo dan buru-buru menuntunnya kembali masuk ke dalam ruangan sebelum ia kembali mengatakan hal-hal yang aneh. Belum sampai lima langkah, Kyuhyun sudah memotong jalan kami. Sorot mata itu tampak cemas, tanpa dapat disembunyikan. Tanpa butuh waktu lama, ia langsung mengambil alih Hyesoo pada genggamannya. Mereka… tampak sangat melengkapi, bahkan dalam keadaan begini.

Gwaenchana? Kau tampak habis menangis,” ujar Kyuhyun.

“Hanya perbincangan antar saudara kembar yang akhirnya terpisahkan. Memang tidak boleh, hm?” Aku berkata mengalihkan perhatiannya. Kyuhyun menoleh dan tampak baru menyadari kehadiranku.

       “Hana-ya,” ucapnya.

       Aku menyodorkan telapak tanganku yang langsung disambut Kyuhyun. “Selamat atas pernikahan kalian. Cho Kyuhyun, setelah ini kau harus menjaga Hyesoo dengan baik. Bina rumah tangga yang baik, hm? Aku tidak bisa berlama-lama, jadi harus pergi.”

       “Kau akan pergi kemana?” tanya Kyuhyun.

       Aku tersenyum tipis. “Ke tempat dimana bunga bermekaran indah.”

       Aku berbalik hendak pergi ketika, “Na-ya,” panggilan Hyesoo sekali lagi membuatku menoleh.

       “Kau akan baik-baik saja.”

       Aku hanya tersenyum mendengar pernyataan itu. Ya. Kuharap juga begitu, Soo-ya.

 

Nayeosseumyeon geudae saranghaneun saram

Nayeosseumyeon sueopshi manheun nareul na gidohaewatjyo

Hureureun namucheoreom mareopshi bitnan byeolcheoreom

Tto baraman bogoinneun nareul geudaen algo innayo

 

(If it was me, the person you love

If it was me, I prayed for countless days

Like the shining green trees

Like the silent sparkling stars

I am only looking at you again

Do you even know this?)

 

       Alunan lagu yang mengklimaks membuatku kembali sadar dari ingatan lamaku. Ingatan yang masih memberikan efek sesak di dadaku ketika mengingatnya. Tidak peduli walau sudah satu tahun berlalu, tidak peduli seberapa jauh jarak antara kami, dan bagaimana aku berusaha menghindarinya. Aku masih tetap sedih ketika mengingatnya. Dan aku tidak tahu ini akan berlaku hingga kapan.

       Jika saja itu aku….

       Perlahan, air mata kembali lolos dari sudut mataku.

       “Kau menangis lagi.”

       Aku tersentak ketika mendengar suara seseorang yang tampak dekat dari tempatku duduk. Aku lebih terkejut lagi ketika melihat seorang namja berdiri di hadapanku. Namja yang entah sejak kapan berdiri di depan meja café tempat aku merenung sedari tadi. Aku mendongak dan menyadari adanya tatapan tak suka dalam sorot matanya.

       “Kau menangis lagi,” katanya lagi, seakan tahu kalau aku tidak mendengarnya dengan baik tadi.

       Tiba-tiba namja itu berjongkok, mensejajarkan tubuh kami dan melepaskan headphone yang kupakai.

       “Jangan menangis,” katanya lagi. Aku hanya mampu mengerjapkan mataku bingung pada kehadiran orang yang tak kukenal yang tiba-tiba menyuruhku untuk tidak menangis seakan mengerti masalahku. Dalam kebingungan, entah kenapa perasaan takjub ketika berpandangan sedekat ini dengan manik hitam namja itu menyusup ke dalam pikiranku. Mata itu… teduh dan hangat.

       “Berhenti mendengarkan lagu itu,” ucapnya tak lama kemudian. Aku hanya mampu menganggukkan kepala mendengar perintahnya. Otakku terasa kosong.

       “Kau… siapa?” tanyaku polos, tanpa bisa kutahan.

       Namja itu tiba-tiba menyunggingkan senyum manis yang seketika membuatku semakin pusing. Ia menyodorkan tangannya padaku.

       “Kim Kibum imnida.”

       Aku menarik napas perlahan ketika menyambut uluran itu.

       “Han Hana imnida.”

 

Mudgoshipjyo geudaen jal jinaeneun gayo

Hamkkehaneun geu sarami geudaeege jal haejunayo

Babogateun geokjeongdo bujileoptangeol aljiman

Nunmureopshi kkokhanbeoneun malhago shipeotjyo

Saranghandago…

 

(I want to ask you
are you well?
is the person you are with treating you well?
I know that these stupid worries are all useless
but i wanted to say this at least once without tears
that i love you…)

 

       Mungkin ini waktunya untuk melupakan semua kenangan itu.

 

~~END~~

 

Advertisements

6 thoughts on “{Songfiction} If It Was Me

  1. kyaaaa,
    sedih bacanya, tapi indah bgt alurnya
    semuanya perfect 😉
    annyeong, perkenalkan aku reader bru disini, aku akan selalu koment nanti diffmu jika aku baca 🙂

      1. iyah author 😉
        keep writing, keren bgt jalan ceritanya, bikin jleb sampe hati *apaan deh*
        author juga org yg brni bikin pemeran utama gk bersatu, biasanya kan author pd kasian
        keren deh 🙂

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s