Daydream

daydream

Daydream

A Fanfiction by rineema

Kim Jongwoon – Kim Ryeowook – Cho Kyuhyun – Lee Sungmin – Lee Donghae – her

Based on FMV by sketsairoh

Ryeowook’s piano scene inspired by this amazing Daydream piano cover

Check the two of them for a best moment and emotional while reading this fanfict ^^

Read, enjoy, and appreciate it, please ^^

~***~

 

Terpejam.

 

 

Matanya terus saja terpejam walau sebenarnya ia tidak tertidur.

Ia terdiam di ranjang untuk waktu yang cukup lama. Hanya berbaring diam, terus diam tanpa berniat untuk pindah. Sedikitpun.

Dalam keheningan yang tercipta itu, telinganya menjadi sangat sensitif akan setiap suara yang hadir di kamarnya. Tapi, bukan suara hembusan angin dari balik jendela kamar yang menghadap langsung pada padang rumput ataupun bunyi detak jam dinding yang ia ingin dengar. Matanya terus saja terpejam, berusaha berkonsentrasi untuk mendengarkan satu suara. Sebuah suara yang cukup merdu. Suara yang semakin lama semakin terdengar menjauh darinya. Suara itu tidak boleh hilang.

Sing–

Mata itu terbuka begitu tiba-tiba. Menampilkan dua bola mata bermanik hitam. Bola mata yang menampakkan sinar teduh, walau kini binar bingung lebih mendominasinya.

Suara itu menghilang. Suara itu tidak terdengar lagi di kepalanya. Begitu tiba-tiba hingga membuatnya terkejut.

Ia bangkit dari pembaringannya dan terduduk di pinggir ranjang. Merasa pusing yang bukan disebabkan oleh gerakannya yang mendadak. Otaknya terus menerus memikirkan suara yang tiba-tiba hilang dari kepalanya.

Dan tiba-tiba saja wajah itu melintas di benaknya.

Gadis itu.

Suaranya yang menghilang.

Sebenarnya apa yang dilakukannya…?

Dan matanya membulat sempurna dalam pemahaman yang menghantam sel otaknya tanpa peringatan. Gadis itu… pergi menantang bahaya seorang diri.

“Jongwoon-ah, harusnya kau dapat mengatur mereka dengan baik. Sebagai yang tertua, kaulah yang seharusnya menjadi ketua di antara kami.”

“Kau pasti bisa menjadi ketua yang lebih baik daripada aku.”

Gambaran-gambaran itu terpampang jelas di otaknya. Akhirnya semua  pertanyaan itu terjawab sudah. Semua tingkah aneh gadis itu selama beberapa hari belakangan akhirnya terjawab. Tindakan gadis itu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di otaknya. Hal yang untuk pertama kalinya, Jongwoon harap tidak pernah ia mengerti alasannya. Tidak saat ia tahu gadis itu sudah….

Jongwoon menggelengkan kepalanya keras. Berusaha menampik suara batinnya sendiri.

Tidak, batin Jongwoon keras, gadis itu kuat. Tidak mungkin ia mati semudah itu. Aku hanya tidak berkonsentrasi dengan baik….

Tapi, bahkan selagi ia membantah dalam dirinya sendiri, ia tahu batinnya benar. Suara gadis itu menghilang. Meninggalkan relung kosong dalam kepalanya. Ia tahu, jika sebuah suara menghilang dalam kepalanya, maka orang itu telah tiada. Dan Jongwoon tahu persis bagaimana dan mengapa suara itu menghilang.

Jongwoon bangkit berdiri dari duduknya dan entah kenapa ia melangkah mendekati cermin yang ada di samping ranjangnya. Memandang ke dalam lempengan datar bening itu, kedua manik mata hitam teduhnya balas memandang padanya. Sesuatu yang selalu ia dapati ketika ia bertatapan dengan gadis itu. Mata mereka memiliki keteduhan yang sama. Memiliki jalan pikiran yang berada di frekuensi yang sama. Walau untuk sekali ini, ia tidak berada di frekuensi yang sama dengan gadis itu.  Untuk sekali ini, ia tidak suka dengan pilihan gadis itu yang sebelumnya tak pernah cacat di matanya. Pilihan yang secara tidak langsung telah Jongwoon setujui.

“Jika… kau harus memilih antara keluargamu atau kebahagiaan keluargamu… Jongwoon-ah, apa yang akan kau pilih?”

Kedamaian. Tentu saja Jongwoon menjawab begitu. Tapi, jika mendapat kebahagiaan berarti kehilangan gadis itu, maka Jongwoon akan menariknya kembali. Kalau saja ia bisa menariknya kembali….

Jongwoon memejamkan kembali kedua matanya seraya menghela napas putus asa. Berusaha membuat dirinya terbangun, menyangkal kenyataan begitu kerasnya hingga membuat kepalanya tertunduk begitu dalam. Berharap ketika ia membuka mata nanti, ia akan kembali berhadapan dengan mata hitam yang mirip dengannya. Mata gadis itu.

~*~

Suara lantunan melodi itu terdengar jelas di antara ruangan yang sepi. Setiap denting piano putih itu begitu berwarna, menghiasi setiap inci ruang hampa. Denting itu merasuk ke dalam hati siapapun yang mendengarnya.

Jemarinya menari lincah di atas tuts hitam putih, kakinya sesekali menekan pedal dalam usahanya membentuk harmoni melodi yang indah. Ia memejamkan matanya, begitu menikmati setiap melodi yang tercipta dari ingatan jemarinya. Ketika seorang pianis memejamkan matanya saat bermain piano, itu berarti hanya satu, yakni sang pianis menginginkan ketenangan, dan teruntuk kasusnya, menjernihkan pikirannya yang kusut.

Bayang itu. Bayang yang membuat pikirannya tak karuan. Bayang yang tidak dapat disingkirkan dari benaknya.

Tidak peduli betapa besar usaha untuk menyingkirkannya, bayang itu tetap muncul. Menolak pergi setelah hadir selama lebih dari sepuluh menit terakhir. Ia tidak suka pikiran itu. Pikiran yang membuatnya kalut.

Bayangan kematian gadis itu.

Nada minor itu melengking tinggi ketika pikirannya menjadi semakin kacau mendengar suara batinnya sendiri.

Tidak! Gadis itu tidak mati! Ia telah salah dengar. Pasti. Mana mungkin gadis tangguh itu dapat ditaklukan dengan mudah? Mana mungkin gadis keras kepala itu menyerah dengan kematian? Mana mungkin gadis dingin itu rela… mengorbankan dirinya untuk keselamatan semuanya? Tidak. Ia pasti salah dengar. Kim Ryeowook, sebenarnya apa yang sedang terjadi denganmu?

Tanpa peringatan, nada melengking itu berubah menjadi lembut. Nada yang awalnya tak terkendali itu perlahan berubah menghanyutkan tanpa benar-benar Ryeowook perhatikan. Menunjukkan perubahan pikiran yang awalnya kalut kini menjadi tenang. Jemarinya memang selalu dapat diandalkan untuk menjadi media pelampiasan dirinya yang paling tepat. Jemarinya selalu dapat menunjukkan dengan jelas pada apa yang ia pikirkan dan rasakan.

Gadis itu. Dan memori tentangnya.

Bagaimana gadis itu-walau paling muda di antara mereka- tapi dapat memimpin dengan baik, bagaimana tampak dinginnya gadis itu saat marah, bagaimana mereka menghabiskan waktu selama tiga tahun terakhir bersama. Memori itu terus berputar dalam pikiran Ryeowook.

Diantara banyaknya kenangan itu, kenangan yang paling ia ingat jelas adalah bagaimana gadis itu selalu dapat tersenyum ketika ia bertemu dengan sebuah piano, tidak peduli seberapa berat hari yang sudah dilewatinya. Jika gadis itu sudah tersenyum, maka hanya tinggal menunggu hitungan detik hingga ia menyeret Ryeowook ke depan piano dan meminta Ryeowook untuk memainkan sebuah nada. Satu nada. Selalu nada yang sama.

Daydream. Begitu gadis itu menyebutnya.

Denting itu terus berlanjut. Membawa ketenangan dan kenyamanan dalam diri sang pemain sendiri. Nada itu mengalun lembut, menghanyutkan pikiran Ryeowook semakin jauh ke dalam hulu kenangan tak bermuara. Menyeretnya ke dalam rasa manis sekaligus pahit secara bersamaan. Membuatnya terhanyut. Ryeowook tidak benar-benar memerhatikan pada apa yang dimainkan jemarinya sehingga ia cukup terkejut ketika mengenali nada yang telah ia mainkan sedari tadi. Nada kesukaan gadis itu. Daydream.

“Ryeowook-ah, mainkan nada itu untukku!”

“Kau yang membuat nada itu. Tidak akan ada yang bisa memainkan nada yang dibuat orang lain dengan baik selain penciptanya sendiri. Orang lain hanya bisa melakukan improvisasi. Hanya kau yang bisa memainkan Daydream dengan baik. Kau tidak boleh mengeluh saat aku memintamu bermain sampai aku bosan mendengarnya!”

“Ryeowook-ah, jika kau diberi kesempatan untuk hidup kembali, kau akan memilih untuk menjadi apa? Aku akan senang ketika melihatmu terlahir menjadi pianis handal.”

Masih dapat teringat jelas oleh Ryeowook ekspresi takjub gadis itu ketika mendengar permainannya. Mata hitamnya akan berbinar dan sebuah senyum yang tergolong jarang muncul di wajahnya tiba-tiba akan merekah cepat laksana bunga di musim semi. Ekspresi yang selalu membuat Ryeowook terdiam membeku selama beberapa detik. Ekspresi yang membuatnya candu. Ekspresi yang rela Ryeowook bayar mahal dengan waktu istirahatnya yang sedikit.

Dan ia rela memainkan piano putihnya seharian penuh untuk mendapatkan kembali senyum itu di hadapannya, mendapatkan kehadiran gadis itu. Karena ia tidak akan pernah merasa keberatan untuk memainkan Daydream ratusan kali sekalipun. Nada itu memang sengaja Ryeowook buat untuknya. Daydream adalah milik gadis itu. Kenyataan yang tidak sempat Ryeowook ungkap padanya.

Tanpa sadar, sebuah air mata lolos dari lipatan kelopak matanya yang masih terpejam rapat. Membawa serta segala penyesalan bersama dengan Daydream yang masih mengalun di udara.

~*~

“Kyuhyun-ah.”

Mata itu terbuka perlahan seiring dengan terdengarnya sebuah suara yang familiar untuknya. Manik hitam menusuk miliknya tampak sedih, tapi itu hanya sedetik. Karena di detik berikutnya manik itu tampak kebingungan.

Suara ini. Suara gadis itu. Suara yang seharusnya tidak terdengar sedekat ini disaat ia tahu gadis itu berada jauh darinya. Jauh… menuju tempat yang tidak akan bisa ia raih kala napasnya masih berhembus.

Kyuhyun menolehkan kepalanya dengan pandangan mata yang tidak terfokus. Tanpa bisa ia ingat, ia telah berada di padang ilalang yang tumbuh cukup tinggi. Sepanjang ia memandang, ia hanya mendapati ilalang disekitarnya. Tempat yang tidak asing baginya.

Kyuhyun menolehkan kepalanya ke segala arah dan berhenti ketika melihat matahari yang berada di ujung cakrawala. Kedua bola matanya terpana menangkap keindahan alam yang tak tergantikan. Ingatannya melayang ke hari dimana ia bertemu dengan gadis itu. Disini. Dengan latar yang sama, pemandangan matahari terbenam.

Gadis itu… suka memandangi matahari terbenam di padang ilalang ini. Salah satu dari segelintir kebiasaan yang menunjukkan identitasnya sebagai seorang gadis. Mengingat ia biasa bergumul dengan konspirasi dan pria, hal-hal wanita sering ia tanggalkan, tapi tidak dengan kebiasaan ini. Selelah apapun, jika sudah mencapai ujung hari dan tepat saat itu mereka sudah mencapai rumah, gadis itu akan berjalan kemari, berdiri memandangi bola pijar kemerahan itu hingga mencapai peraduannya, kemudian terdiam hingga langit menggelap.

Dan tiba-tiba saja sebuah siluet familiar muncul dihadapan Kyuhyun. Sosok seseorang yang terlihat semakin jelas ketika Kyuhyun memicingkan mata. Rambut hitam panjang itu… milik gadis itu. Sesaat jantungnya terasa berhenti berdetak melihat bayangan itu, melihat senyum melengkung gadis itu terpasang tanpa cela. Senyum yang sama, seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Ia disana. Ia hidup. Tidak mati. Tentu saja. Omong kosong kalau ia mati semudah itu.

Tanpa sadar, Kyuhyun melangkah mendekati sosok itu. Merasakan keinginan tak terkira untuk melihat wajah sosok itu lebih dekat, memastikan kalau sosok itu baik-baik saja. Tepat kurang selangkah untuk mendekatinya, sosok itu tiba-tiba berbalik dan mulai berjalan menjauh. Kyuhyun tersentak sedetik, tapi kemudian ikut melangkah mengikuti arah sosok itu pergi. Kyuhyn berusaha mengimbangi langkahnya yang entah kenapa terlihat semakin jauh.

Tangan Kyuhyun terus menyibak ilalang tinggi dihadapannya, berusaha melihat sosok itu lebih jelas. Tidak peduli seberapa sering Kyuhyun melangkah, sosok itu tetap terlihat jauh. Kyuhyun baru akan meneriakkan panggilan untuk menghentikan langkah didepannya, sosok itu telah menghilang dibalik ilalang. Kyuhyun terkejut dan buru-buru mendekati tempat dimana sosok itu menghilang. Tidak ada. Sosok itu menghilang.

Kyuhyun kembali menoleh kearah kedatangannya, seketika terkejut ketika mengetahui matahari telah sepenuhnya turun. Ia terlalu memerhatikan pergerakan sosok itu sehingga tidak menyadari ketika langit berubah gelap, menampakkan bintang-bintang yang bertaburan di atas sana. Benda langit kesukaanmu, bukankah begitu?

“Jika aku terlahir kembali, aku ingin menjadi bintang yang dapat menerangi gelap. Sementara kau, Kyu, sudah dan akan menjadi matahari.”

“Aku? Hanya sebuah bulan. Bulan yang muncul tidak utuh pada separuh waktu dan terkadang tidak tampak sama sekali. Walau begitu sebenarnya, aku tetap ada, hanya saja tidak disinari oleh sumber cahayaku. Aku hanyalah bulan yang bersinar karena matahari. Bulan yang hanya menatap dan menerima cahaya dari satu arah. Tapi, aku lelah jika terus seperti itu. Aku ingin menjadi bintang di kehidupan selanjutnya. Bintang yang bersinar dengan cahaya sendiri.”

Matahari. Bulan. Bintang.

Gadis itu selalu mengatakan hal-hal aneh.

Kyuhyun mendengus kecil. Ia menengadahkan kepalanya menatap langit malam. Bulan hari ini tak tampak. Bulan mati.

Karena itukah kau ingin menjadi bintang, huh?

Dan sosok gadis itu terputar kembali dalam ingatannya. Kyuhyun kembali menunduk sembari memejamkan matanya, membiarkan kenangan itu menenggelamkannya perlahan.

Jika kau menjadi bintang, maka matahari akan meleburkan dirinya dan menjadi ratusan bintang lain bersamamu. Gadis aneh, bukankah sudah jelas?

~*~

Ia memicingkan mata mengamati keadaan sekelilingnya dengan tak sabar. Manik cokelatnya terus menelanjangi padang ilalang. Wajahnya berubah semakin cemas seiring dengan ketiadaan yang tampak di hadapannya. Gadis itu tidak disini.

Ia menggeram frustasi dan mengacak rambut pirangnya menjadi tak beraturan. Dimana gadis itu? Ia sangat yakin, disinilah tempat mereka bertemu. Tapi, kemanapun Sungmin memandang, ia tidak melihat sesosok manusia pun dalam area padang rumput gersang itu. Bersih. Terlalu bersih. Tidak wajar. Sungmin terdiam memperhatikan sekelilingnya. Mereka… pergi ke tempat lain. Membawa gadis itu.

Entah apa yang dipikirkan gadis itu, batinnya kesal, menantang bahaya seorang diri. Sungmin menggelengkan kepalanya, tanda penyangkalan. Mungkin saja firasatnya kali ini salah. Gadis itu tidak sebodoh ini. Pergi tanpa perhitungan dan terlebih tanpa meminta bantuannya.

Aku lelah, Sungmin-ah. Jika aku memintamu untuk membantuku, kau mau, kan?”

Tapi, mengingat sifat keras kepalanya, Sungmin tidak punya pikiran lain selain meyakini bahwa gadis itu  pergi sendirian. Jika gadis itu sampai tidak meminta bantuannya, mungkinkah ternyata masalahnya lebih pelik dari yang ia duga selama ini? Apakah gadis itu sedang berjuang menuntaskan ini semua seorang diri?

Sungmin mendengus kasar. Tidak akan ada gunanya jika ia terus berspekulasi tanpa melakukan apapun. Tapi ia tidak mempunyai bayangan lain dimana kira-kira gadis itu berada. Otaknya berputar cepat, berusaha mencari kemungkinan dari potongan-potongan memori yang tersimpan. Buntu. Ia tidak tahu harus pergi kemana.

Sungmin menggelengkan kepalanya. Tidak. Ia harus menemukannya. Dia pasti berada disekitar sini. Dengan pikiran seperti itu, Sungmin kembali melangkah menyusuri padang gersang.

Satu langkah, dua langkah. Ia mulai berjalan, berjalan cepat, hingga akhirnya berlari. Berlari tanpa tentu arah.  Hanya bayangan kabur saja yang menuntunnya untuk terus berlari, berusaha menemukan gadis itu, hidup-hidup.

~*~

Ini mimpi. Aku pasti sedang bermimpi.

“Hhh… Hhh…”

Ini hanya khayalan. Ini tidak nyata.

“Hhh… Ugh!”

Bangun, Lee Donghae! Apa yang kau lakukan dengan memimpikan hal buruk seperti ini?

Donghae menatap tak fokus pada gadis di pelukannya. Matanya menerawang jauh seakan jiwanya sedang berdebat keras di dalam sana. Ketika suara rintihan gadis di pelukannya kembali terdengar, seluruh kefokusan Donghae kembali ke permukaan kesadaran. Kedua mata teduhnya menatap sang gadis pilu. Noda darah tampak mewarnai dress putihnya begitu kontras. Sebuah lubang yang cukup besar menganga di sudut kanan perutnya. Darah tak hentinya mengalir deras dari sana. Wajah gadis itu terlihat semakin sayu ketika ia terbatuk, batuk darah. Ia tidak sedang bermimpi. Ini kenyataan. Kenyataan yang paling buruk.

“Donghae… oppa…”

Donghae mengeratkan pegangannya pada lengan gadis itu. Bermaksud mencegah gadis itu berbicara yang akan membuatnya semakin lemah saja. Kenapa kau harus menyebutku oppa disaat seperti ini?

“Maaf.., karena aku tidak bisa memenuhi janjiku….”

“Jangan berbicara yang tidak-tidak! Kau akan baik-baik saja. Bertahanlah, yang lain akan datang sebentar lagi,” sergah Donghae kasar. Ia menolehkan kepalanya kesana kemari. Sepi, terlalu sepi. Walau ia berkata akan ada seseorang yang datang tentu saja yang ia maksud adalah penduduk sekitar padang gersang itu, tapi nyatanya tidak ada siapapun disana. Tampaknya mereka memilih tempat yang benar untuk membunuh orang.

“TOLONG! SESEORANG, TOLONG KAMI!” Donghae mulai berteriak putus asa. Sudah cukup lama ia berada disini, gadis itu sudah semakin lemah, tidak akan sempat untuk membawa gadis itu ke rumah sakit. Tuhan, apa yang harus dia lakukan?

Perlahan, gadis itu meletakkan tangannya dipipi Donghae, berusaha mengambil kembali kefokusan Donghae kepadanya. Donghae menunduk kembali memandangi gadis di pelukannya. Tangannya menggenggam tangan gadis itu di pipinya, berusaha memberikan kekuatan padanya.  Gadis itu terbatuk sebentar, membuat Donghae kembali panik melihatnya, membuat Donghae merasa ikut terluka.

“Terima kasih… atas segalanya…, oppa.  Sampaikan… salamku… untuk yang lain…”

Dan dalam gerakan lambat, napas gadis itu berhenti. Tangan kanannya yang kehilangan tenaga kembali tertarik turun oleh grafitasi bumi. Kelopak matanya menutup, menghalangi manik hitam itu muncul. Tapi senyum melengkungnya masih terukir dibibirnya. Manis, seakan berusaha berkata bahwa ia sudah berada di tempat yang lebih baik.

Hancur. Donghae merasa dunia sedang berguncang disekelilingnya. Ia melihat sendiri bagaimana tangannya bergetar dalam guncangan hebat, bagaimana dunia tampak menggelap perlahan. Napasnya tersengal-sengal dalam usaha memasok oksigen ke dalam paru-parunya. Rohnya seakan melayang pergi dari tubuhnya, tapi anehnya ia masih dapat merasakan kesakitan tak terkira ketika melihat sosok tak bernyawa di pelukannya. Sekejab saja, air mata telah berkumpul dalam kedua pelupuk mata Donghae dan tangisnya seketika pecah disertai teriakan sarat kehilangan dan kesedihan.

Sakit. Hatinya sakit melihat sosok diam gadis itu. Tidak akan ada lagi senyumnya, tawanya yang jarang, dan terlebih kehadirannya di hadapan Donghae. Belum-belum ia sudah merindukan gadisnya setengah mati, yang bahkan lebih buruk karena ia tahu mata itu tidak akan terbuka dan menatapnya lagi dengan tatapan dinginnya, suara itu tidak akan terdengar memanggil namanya lagi, sosok itu tidak akan hadir disekitarnya lagi.

Donghae kembali menangis memeluk tubuh gadis itu.

~***~

How can it end like this, I can’t believe it

What should I do with those countless promises?

What should I do? What should I do?

(Daydream – Super Junior)

Advertisements

3 thoughts on “Daydream

  1. Keren, awal nya aku gk ngerti, tapi d sisi lain kalo kt aku yg benr2 sakit itu hae, karna dia yg ngeliat langsung kejadian itu.

    Keren keren apa lagi smbil dnger day dream nya versi piano nya.

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s