The First Rain

cover-the first rain

The First Rain

A fanfiction by rineema

Lee Donghae – Kang Eun Yoo

inspired by lot of novels and fanficts, especially Yuli eonni’s The First Coffee and Kim Eun Jeong’s My Boyfriend Wedding Dress

Read, enjoy, and appreciate it, please ^^

~***~

Suwon, South Korea, October 28th 2013

Gadis itu melangkah keluar dari apartment-nya dengan malas. Gaun soft pink yang dipadukan dengan cardigan cokelat miliknya yang terlihat ceria, berbanding terbalik dengan ekspresi sang pemilik saat ini.

Mata cokelat sang gadis sekilas melirik kembali langit di atasnya. Kelabu. Ini  masih pagi dan langit sudah semendung itu. Diam-diam, gadis itu menghela napas kesal. Hilang sudah keceriaan yang ia coba keluarkan sedari tadi. Ia paling tidak suka hawa seperti ini. Tangan kirinya menggenggam erat payung kecil berwarna merah dan dengan memantapkan hati, ia mulai melangkah menuju jalanan sepi, mengabaikan perasaan tak nyaman yang ia rasakan sejak melangkah keluar dari apartment-nya.

Langkah gadis berambut panjang itu terdengar keras dalam keheningan pagi. Lingkungan tempat ia tinggal memang selalu sepi seperti ini, semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, tidak saling memedulikan satu sama lain, hal yang biasa terjadi. Gadis itu sendiri baru pindah ke wilayah ini dengan maksud agar tinggal dekat dengan kampusnya sekarang dan ternyata ia suka tinggal di tempat barunya.

Selain dekat dengan kampus, hal yang membuat ia menyukai wilayah tempat ia tinggal adalah banyaknya pohon yang tumbuh di sepanjang jalan. Ia sangat suka memandangi warna hijau menenangkan dari daun pohon dan lebih menyukai ketika melihat daun-daun itu berubah menguning lalu cokelat dan berguguran satu per satu. Gadis itu selalu suka untuk berjalan lambat-lambat diantara pepohonan di pagi musim gugur, memerhatikan setiap helai daun yang jatuh ke bumi.

Gadis itu menyukai musim gugur, mungkin dikarenakan fakta bahwa ia hadir ke muka bumi ketika musim gugur sedang berlangsung. Tahun ini, sudah dua puluh musim gugur yang ia jumpai sepanjang ia hidup, dan itu berarti tepat sembilan belas tahun pula ia telah hidup.

Bunyi petir yang teredam di kejauhan membuat kesadaran gadis itu kembali ke permukaan. Dengan was-was, ia kembali menoleh pada hamparan karpet langit yang semakin tampak kelabu. Lebih baik ia bergegas pergi ke kampus hari ini, jika tidak mau tertimpa hujan pertama buan ini. Gadis itu pun menundukkan kembali kepalanya dan segera beranjak pergi dari tempatnya berdiri.

Jika menyebut satu hal yang ia benci di musim gugur, maka hujan akan menjadi jawabannya. Gadis itu paling tidak suka hujan. Hujan akan menjadi satu-satunya hal yang berhasil membuatnya menghentikan aktifitasnya memandangi musim favorite-nya. Dan itu sudah cukup untuk membuatnya membenci hujan. Ia selalu menyebut hujan sebagai hal yang menyebalkan.

Baginya hujan hanyalah membawa kenangan pahit.

Tes… tes… tes…

Gadis itu semakin mengerucutkan bibirnya kesal. Kau harus bergerak cepat jika tidak ingin tertimpa hujan, Eun Yoo-ya.

~*~

Pria itu berjalan cepat menghindari tetesan hujan yang mulai turun deras. Tangannya ia gunakan sebagai pelindung kepala, langkahnya berjalan cepat dalam usahanya menghindari pasukan air langit. Walau begitu, tidak dapat dipungkiri adanya sebuah senyum tipis yang menghiasi wajahnya setiap ia merasakan tetesan hujan disekelilingnya, senyum yang membuat mata teduhnya melengkung dan membuat sebuah komposisi indah dalam wajahnya yang rupawan.

Pria itu menyukai hujan. Sangat suka.

Ia tidak tahu kenapa, tapi setiap musim gugur tiba, hujan menjadi salah satu hal yang ditunggunya selain hari kelahirannya ke dunia. Pria itu suka memandangi hujan di pagi hari, mengamati setiap tetesnya turun menerpa bumi membentuk harmoni nada indah di depan jendela apartment-nya. Hujan selalu membuat perasaan melankolisnya tumbuh, membentuk jiwa  romansa nya berkembang jauh.

15 Oktober. Biasanya hujan pertama musim gugur akan turun di hari kelahirannya itu, tapi untuk tahun ini tidak. Hujan pertama tahun ini turun di akhir Oktober. Saat ia mengecek kalendernya sebelum keluar apartment tadi, ia yakin hari ini tanggal 28. Siklus bumi sudah mulai berubah rupanya.

Suara petir yang menyambar membuat ia tersadar dari lamunan sesaatnya. Tampaknya hujan akan betah turun selama beberapa saat ke depan, membuatnya mau tak mau harus berlindung dari terpaan airnya jika tidak mau sampai di kampus dengan kemeja kotak biru yang basah. Mengingat ia harus bertemu dengan rektornya pagi ini, pria itu pun memutuskan untuk mencari tempat berteduh. Kedua mata pria itu mulai sibuk memerhatikan sekelilingnya, berusaha mencari tempat berteduh sementara. Sekejab saja, matanya menangkap siluet sebuah shelter di bawah rindang pohon. Tanpa banyak berpikir dan memerhatikan keadaan sekitar, ia melangkahkan kakinya ke arah shelter.

Pria itu memandangi tiap tetes air hujan di depannya, menikmati butir-butir kecil yang terkadang menerpa wajahnya. Ia menutup kedua matanya, merasakan angin hujan bertiup di wajahnya. Pandangannya menerawang jauh ke dalam tirai hujan, tanpa benar-benar sadar bahwa sebuah senyum telah terkembang di bibirnya. Lagi-lagi pikiran melankolisnya mulai mengambil alih.

Jika sudah hujan begini, ia suka melakukan kebiasaan anehnya: menunggu seorang gadis muncul di balik butir hujan. Pikiran yang konyol. Tapi, bukankah akan terdengar romantic? Cinta pada pandangan pertama di bawah rintik hujan….

Dan saat itulah ia tiba.

Gadis itu memasuki shelter tempat sang pria berdiri dengan tampang kepayahan. Gadis itu berhenti tepat tiga langkah dari tempat sang pria berdiri, tampak tidak menyadari keadaan sekitar, termasuk pandangan sang pria padanya. Cardigan cokelat dan gaun soft pink yang ia pakai terlihat sedikit kebasahan. Tapi bukan itu arah tatapan sang pria. Sejak kedatangan gadis itu, kedua matanya tak pernah lepas pada objek yang menarik perhatiannya, mata cokelat gadis itu. Mata yang terlihat polos, lembut, kuat, juga keras kepala disaat bersamaan. Mata yang sekarang memancarkan ekspresi kesal pemiliknya dengan sangat ketara. Mata yang membuatnya merasa tak bosan ketika melihatnya.

Pria itu menyenderkan bahunya pada salah sati tiang shelter, berusaha mencari keleluasan dalam memandangi wajah gadis asing di sebelahnya. Cantik. Hanya itu yang dapat ia katakan. Tapi, berbeda dengan wajah gadis cantik lain yang ia lihat sebelumnya, ia merasa tidak akan pernah bosan jika melihat wajah gadis disampingnya ini. Sekarang setelah dapat memerhatikan wajah gadis itu dengan benar, ia tahu kalau ‘ekspresi kesal’ tidaklah cocok untuk menggambarkan wajah itu. Lebih tepat disebut dengan ‘ekspresi benci’.

Gadis itu melakukannya cukup lama, termasuk sang pria yang tidak lagi tertarik memandangi rintik hujan di hadapannya. Pria itu malah memandangi sang gadis dengan  beragam pertanyaan bertumpuk di otaknya, bersiap untuk dilontarkan satu per satu.

Pria itu menahan napasnya ketika melihat pemandangan yang tak diduganya. Gadis itu tersenyum. Lebar dan cerah. Begitu tiba-tiba, gadis itu melangkah keluar dari shelter, membuat sang pria menyadari hujan telah berhenti turun, secepat kepergian sang gadis berambut cokelat panjang.

Donghae tersenyum memandangi langit yang masih berawan.

~*~

Bel tanda berakhirnya mata kuliah terdengar keras dalam ruangan itu. Sang dosen berambut tipis dengan cepat menyudahi materi yang dibawanya dan beranjak keluar kelas diikuti oleh murid-muridnya. Gadis itu ikut beranjak dari duduknya, memasukkan segala benda yang ada di mejanya dengan asal ke dalam tas selempangnya dan buru-buru melangkah mendekati sosok gadis berambut panjang cokelat yang berdiri tak jauh darinya. Gadis itu menepuk bahu sang gadis keras dan berseru.

Ya! Eun Yoo-ya! Saengil chukkae!”

Sang gadis – Kang Eun Yoo – menoleh heran sebelum kemudian wajahnya berubah cerah ketika mengenali wajah orang yang menepuk bahunya.

Gomawo, Hyesoo-ya,” ucap Eun Yoo sembari tersenyum.

Hyesoo, si gadis berambut panjang hitam, ikut tersenyum. Mereka berbincang sembari berjalan keluar kelas.

“Jadi, kita makan-makan dimana, nih?”

“Bagaimana kalau di tempat paling murah, enak, dan nyaman di dekat sini? Apartment-ku.”

“Huh. Itu sih memang mau-mu aja,” Hyesoo mencibir pada Eun Yoo yang dibalas dengan tawa ringan. Walau menjawab begitu, sebenarnya Hyesoo tidak keberatan.

“Tapi, tampaknya, kita harus menunggu sedikit lama.” Hyesoo menolehkan kepalanya pada jendela koridor .

Mwo?” Eun Yoo ikut menolehkan kepalanya pada jendela koridor. Embun dan bulir air terlihat menghantam jendela, membuatnya tampak buram.

“Hujan pertama.” Eun Yoo menoleh, memperhatikan tingkah sahabatnya, menghirup napas dalam-dalam bau hujan yang masuk melalui celah sempit dari jendela, seakan berusaha memasok sebanyak mungkin aroma hujan setelah sekian lamanya tidak turun. Hyesoo tampak senang dengan kedatangan musim hujan, berkebalikan dengannya.

“Bukan yang pertama. Pagi tadi sempat turun hujan sebentar,” kata Eun Yoo tiba-tiba.

Hyesoo menoleh pada Eun Yoo, tampak berusaha mengingat sesuatu.

“Karena itu kau datang terlambat, kan,” Hyesoo memerhatikan payung kecil yang menggantung di tas selempang Eun Yoo. Kering. “Kau menunggu hingga hujan berhenti, memutuskan untuk datang terlambat daripada berjalan menerobos hujan.”

Berbeda dengan Hyesoo, Eun Yoo tidak suka dengan hujan, dan paling tidak suka jika harus berjalan menerobos hujan bahkan dengan payung sekalipun. Jika hujan, Eun Yoo akan memilih menunggunya reda daripada melewati hujan. Anehnya, ia suka membawa payung kemana-mana disaat musim hujan tiba. Kebiasaan yang tidak bisa dimengerti oleh Hyesoo.

“Kuharap namjachingu-mu kelak bisa merubahmu, Eun Yoo-ya,” kata Hyesoo tiba-tiba.

Ya! Namjachingu siapa, Han Hyesoo?”

Hyesoo mendengus kecil. Gadis ini… sensitif sekali pada hal yang berkaitan dengan namjachingu.

~*~

Eun Yoo memainkan jajangmyeon-nya tak antusias. Ditinggalkan sahabatnya ditengah keramaian, sangat tidak menyenangkan. Entah apa yang Hyesoo dan Cho Kyuhyun itu lakukan di luar sana hingga selama ini, membuat Eun Yoo kesal.

Gadis itu sesekali menoleh pada jendela besar yang terbuka di sebelah kirinya, menatap pada pemandangan di luar dengan penuh harap. Sayangnya, harapannya tidak kunjung terkabul. Hujan masih belum berhenti.

Eun Yoo mengedarkan pandangan pada sekelilingnya. Cafeteria siang ini tampak ramai dipenuhi mahasiswa yang sibuk mengisi perut mereka. Ruangan itu cukup luas dengan warna cerah menenangkan. Gadis itu memperhatikan orang disekitarnya dengan pandangan kosong. Merasa asing dan kesepian ditengah keramaian. Inilah hal yang tidak menyenangkan dari pindah kuliah, kembali beradaptasi dengan lingkungan baru.

Gadis itu memutuskan untuk menatap kembali jendela di sebelah kirinya. Hujan tampak tidak sederas tadi, membuatnya dapat melihat jalan setapak menuju gedung utama dengan jelas.  Eun Yoo menopangkan dagu pada tangannya, menunggu hujan berhenti, atau setidaknya menunggu sesuatu terjadi.

Dan kemudian pria itu datang.

Langkahnya terlihat ringan di atas jalan setapak menuju gedung kampus. Tangannya tergerak menutupi kepalanya,tapi Eun Yoo masih dapat melihat wajah pria itu dari tempatnya duduk. Wajah itu tersenyum. Senyum melengkung yang indah. Pria itu terlihat tampan di bawah guyuran hujan.

Oh, kenapa jantungnya berdetak keras hanya karena melihat senyum itu?

~*~

Donghae memasuki cafeteria sembari menepuk kemejanya yang basah. Entah apa yang dilakukannya di cafeteria. Ia tidak merasa lapar, biasanya ia juga menghindari cafeteria di jam-jam ramai seperti ini. Mungkin ia merindukan japchae-nya?

Setelah mengambil japchae, pria itu bergerak mendekati meja yang berada dekat dengan jendela, meja yang berisikan seorang gadis asing yang memandang keluar jendela. Lebih baik gadis asing daripada gadis-gadis yang tampak siap menerkamnya kapan saja.

Chogiyo….”

Gadis itu menoleh dan seketika membuat Donghae terkejut melihat mata yang tak lagi asing itu. Mata pertama yang di pandanginya hari ini. Gadis itu.

Eun Yoo membelalakkan matanya, mengenali Donghae sebagai sosok pria dengan senyum indah yang ia kagumi tadi.

“Boleh aku duduk disini?”

“Oh, ye,” Eun Yoo langsung menggeser tempat duduknya tanda mengizinkan.

Untuk beberapa saat, mereka tampak menikmati waktu sendiri-sendiri. Eun Yoo yang memang tidak berniat memakan jajangmyeon-nya, kini meninggalkan piring berisi mie saus hitam itu setelah memakannya sedikit dan ganti memerhatikan jendela. Kegiatan yang semata-mata ia lakukan untuk menghindari memandangi pria di hadapannya terus menerus. Tiba-tiba saja ia merasa gugup.

Donghae memerhatikan sosok gadis di depannya. Di dalam ruangan dengan penerangan cerah, ia dapat melihat jelas wajah gadis itu. Setiap lekuknya terlihat sangat natural dan cocok untuknya. Ditambah dengan suara lembut yang dimilikinya, membuat Donghae tiba-tiba menemukan alasan untuk terus menatap gadis itu. Mendadak, ia ingin membuat gadis itu berbicara lebih banyak.

Donghae mengikuti arah pandangan Eun Yoo. Gerimis yang tadi menghantamnya di luar kini berubah deras kembali. Tampaknya hujan masih betah turun untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Tanpa sengaja, pandangan Donghae melayang kembali pada gadis di depannya. Tatapan benci yang membuatnya kembali teringat pada setumpuk pertanyaan yang ingin ia layangkan tadi pagi untuk gadis itu.

Wae?” tanya Donghae, tanpa bisa ditahannya.

Eun Yoo menoleh pada Donghae, merasa terkejut karena pria itu tiba-tiba mengajaknya bicara. “Mworago?”

“Tatapanmu… Kenapa kau terus menatap hujan dengan tatapan seperti itu?”

Eun Yoo menatap Donghae, merasa sedikit menyesal telah menatap kedua bola mata teduh yang membuatnya kehilangan fokus selama beberapa detik. Tapi, suaranya membuat Eun Yoo merasa nyaman. Sangat nyaman, sehingga tanpa sadar ia menjawab pertanyaan pria itu begitu saja, membuka semua alasannya yang terpendam.

“Aku tidak suka hujan. Aku kehilangan orang-orang yang kusayangi tepat di depan mataku saat hujan turun. Hari itu hujan turun deras, sangat deras, hingga cukup membuatku tenggelam di dalamnya. Melihat hujan, merasakannya membasahi tubuhku, membuatku merasa kesepian dan sedih.”

Eun Yoo mengalihkan pandangannya pada jendela, kembali menerawang memandangi tirai hujan. Suaranya bergetar ketika melanjutkan.
“Tapi, juga ada perasaan lain yang menyelimutiku ketika melihat hujan. Bukan hanya perasaan benci. Setiap aku melihat hujan, aku selalu berharap dapat kembali ke masa lalu… Kalau saja saat itu aku memberikan payungku pada mereka, kalau saja aku membiarkan diriku kehujanan…, mereka pasti dapat melihat mobil yang melaju kencang ke arah mereka,… mereka pasti masih hidup….”

Donghae tidak tahu harus menanggapi apa. Ia tidak menyangka kalau jawaban seperti itu yang akan keluar dari bibir tipis gadis di depannya. Kenangan buruk gadis itu.

Ia ingin menghibur gadis itu, tapi ia terlalu bingung untuk berucap.

“Ah, mianhamnida, aku sudah mengatakan hal-hal yang tidak penting.”

Gadis itu menundukkan kepalanya, terlihat malu karena sudah mengatakan hal yang tidak seharusnya tidak ia katakan pada orang yang tidak di kenalnya. Gadis itu melirik jam tangan cokelat yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, seketika berdiri dari duduknya ketika menyadari telah melewatkan beberapa menit mata kuliah terakhirnya hari ini.

“Aku harus segera pergi.”

Eun Yoo langsung melesat pergi dari cafeteria, tidak memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya, tanpa menoleh ke belakang.

Donghae menatap kepergian gadis itu hingga menghilang di balik tembok. Terlalu terkesima dengan setiap gerakan yang dibuat gadis itu juga pada cerita singkat yang di keluarkannya secara tiba-tiba. Tanpa sengaja, Donghae melihat tempat gadis itu sempat duduk beberapa detik lalu. Sebuah payung kecil berwarna merah tergeletak menggantikan sang pemilik disana.

~*~

Eun Yoo menatap langit sore yang masih saja betah berwajah suram.  Hujan juga masih betah membasahi tanah Suwon, membuat basah setiap sentinya, membuat Eun Yoo sekali lagi terpaksa menunggu hujan berhenti di bawah shelter dekat kampusnya.

Berpuluh mobil melewati tempatnya berdiri, tak peduli.  Beberapa orang tampak berlalu tanpa memedulikannya. Eun Yoo sendiri tidak peduli. Ia tidak berniat untuk pindah jika hujan tidak reda.

Eun Yoo menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil memeluk tubuhnya sendiri. Hawa dingin merasuk ke dalam tubuhnya perlahan. Jenis hawa yang tidak disebabkan oleh hujan. Hawa yang berasal dari perasaan yang dibiarkan merasuki pikirannya , membuatnya tenggelam dalam perasaannya sendiri. Eomma… Appa….

“Kau masih disini?”

Eun Yoo mendongak mendengar sebuah suara yang tidak terdengar asing di telinganya. Matanya bertemu pandang dengan Donghae, tidak merasa kesulitan untuk mengenali sosok pria itu walau pandangannya tampak buram oleh selaput air mata.

“Kau menangis?” Donghae melangkah ke dalam shelter, melepaskan payung merah yang berada di genggamannya, dan beranjak mendekati Eun Yoo. Kedua tangannya meraup wajah Eun Yoo dalam satu tangkup, ia memerhatikan mata gadis itu lekat-lekat.

“G-gwaenchana….”

“Kau jelas tidak sedang baik-baik saja,” bantah Donghae. “Apa yang kau lakukan disini? Kelasmu sudah berakhir pukul dua tadi, ini sudah pukul lima dan kau masih disini….”

Donghae menatap Eun Yoo yang masih tampak tidak fokus. “Akan kuantar kau pulang.”

Gadis itu menggeleng. “Tidak. Aku tidak akan pergi sebelum hujan reda.”

“Hujan akan bertahan lama,” kata Donghae pelan, “Lebih baik kau pulang sekarang juga. Tidak perlu takut, aku akan mengantarmu.”

“Kau tidak tahu apa dampak hujan terhadapku! Tidak tahu perasaanku ketika melihat hujan, perasaanku ketika berada di bawah hujan, bahkan di bawah payung sekalipun! Seperti tenggelam di dalam air, kau tahu? Sesak, menyakitkan. Aku tidak ingin merasakan perasaan itu lagi sekarang!”

Eun Yoo berseru keras. Suaranya beradu dengan deru hujan, napasnya berlomba-lomba keluar dalam emosi. Sekejab saja matanya terasa berat oleh air yang mendesak keluar dari dalamnya. Berikutnya, ia sudah menunduk membiarkan bulir air berjatuhan dari kedua matanya.

Sakit. Entah kenapa Donghae merasa ikut terluka melihat gadis itu menangis.  Dia tidak suka melihat mata itu meneteskan airnya, tidak suka melihat wajah itu berubah muram. Tapi, dia lebih tidak suka ketika dia hanya bisa melihat itu semua tanpa mengatakan sesuatu yang dapat menghibur gadis di hadapannya. Alih-alih melakukan sesuatu, pria itu malah melepaskan genggamannya pada sang gadis. Perlahan, ia melangkah mundur, mengambil payung yang sempat ia biarkan tergeletak lalu melangkah ke dalam guyuran hujan.

Eun Yoo mendongak bingung ketika sang pria melepaskan genggaman tangannya. Perasaan tidak rela seketika merayapi tubuhnya. Ia tidak ingin kehilangan rasa nyaman ketika ia berada di dekat pria itu. Ia ingin berada di dekat pria itu lebih lama.

Kedua bola mata Eun Yoo membulat melihat Donghae kembali melangkah ke luar shelter bersama dengan payung yang menaunginya. Dengan senyum yang berhasil membuat Eun Yoo kembali berdebar disaat yang tidak tepat, tangan pria itu terulur pada Eun Yoo, seakan berusaha mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa pria itu ada disana, menunggunya.

Eun Yoo menatap uluran tangan Donghae. Merasa ragu selama sedetik yang terasa bagai selamanya, tapi kemudian ia menyambutnya. Donghae langsung menarik tangan Eun Yoo, membuat gadis itu jatuh ke dalam pelukannya. Dan berikutnya Donghae melepas pegangannya pada payung di tangan kirinya, membiarkan tubuh mereka berdua bertemu langsung dengan air hujan tanpa perantara apapun.

Setetes, dua tetes. Sekejab saja seluruh tubuh Eun Yoo basah oleh air hujan. Eun Yoo mendongakkan kepalanya, membuat air hujan menetesi setiap senti wajahnya. Rasa lega dan bebas perlahan Eun Yoo rasakan, menggantikan perasaan sesak dan ketakutan yang terkikis oleh setiap tetes air hujan yang menimpanya. Ia… tidak pernah tahu kalau hujan ternyata semenyenangkan ini.

Donghae menunduk menatap Eun Yoo dalam. Senyum tetap terpasang di bibirnya melihat Eun Yoo tidak lagi terlihat ketakutan.

“Tidak buruk, kan?”

Eun Yoo mengerjapkan matanya, terkesima dengan wajah Donghae yang tampak begitu dekat darinya. Ia dapat melihat jelas senyum milik pria itu, juga sorot matanya. Ia selalu menyukai sorot mata tajam seorang pria, tapi ia tidak tahu bagaimana sorot mata pria ini dapat terlihat tajam sekaligus lembut disaat bersamaan. Yang ia tahu adalah ia merasa nyaman berada dalam pelukan pria itu di bawah guyuran hujan dan tahu bahwa kini ia tidak lagi takut ketika hujan membasahi tubuhnya.

Tampaknya, pria ini akan selalu muncul di dalam otaknya ketika ia melihat hujan turun–ataupun tidak.

“Benar. Tidak buruk.”

~*~

Suwon, South Korea, October 29th 2013

 “Aku akan mengembalikan payung milikmu besok-”

“Tidak perlu. Kau bisa memilikinya.”

Pria itu tersenyum sesaat. Ia berbalik pergi sebelum kemudian kembali berbalik menghadap sang gadis dan berkata cepat, “Kita bisa bertemu besok, kan?”

~*~

Hari itu langit masih mendung. Angin bertiup kencang membawa hawa dingin di pagi hari. Hujan tampaknya akan turun tak lama lagi.

Gadis itu memandangi langit mendung pagi dengan senyum. Sekali lagi, ia berada di bawah lindungan shelter dekat kampusnya, walau kali ini ia tidak sedang menunggu hujan reda. Ia menunggu hujan tiba, juga orang yang membuatnya teringat akan hujan.

“Hai.”

Gadis itu menoleh ketika mendengar suara yang tidak asing itu. Ia tersenyum melihat sang pria di hadapannya.

“Hai,” katanya sembari tersenyum ringan.

Pria itu tampak berusaha mengatur napasnya sendiri sebelum kemudian menyodorkan tangan kanannya.

“Lee Donghae.”

Gadis itu menarik napas pelan lalu ikut menyodorkan tangannya, membiarkannya masuk ke dalam kehangatan telapak tangan besar milik Donghae.

“Kang Eun Yoo.”

Dan keduanya kembali melempar senyum satu sama lain, tersenyum pada hujan yang kemudian turun kembali, tersenyum pada takdir yang telah terentang jelas di hadapan mereka. Takdir yang telah dipertemukan oleh hujan.

~FIN~

A/N: woa! apaan ini? ga jelas banget! *plak* aku masih sangat butuh banyak belajar (T.T) ini pertama kalinya aku nulis ff romance diluar Kyuhyun sebagai maincast (._.) kritik, saran apapun sangat aku terima dari kalian ^^ mohon sangat untuk di kritik ff ini *bow*

Advertisements

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s