Anger

anger

Anger

by rineema

just another suck story about anger, inspired by my true story and songs

~***~

Gadis itu melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan langkah terburu.

Ia berhenti sebentar, melepaskan sepatu dan kaus kakinya asal ke dalam rak sepatu yang berdiri tak berdosa di pojok ruang depan, lalu kembali berjalan menghentakkan kakinya ke dalam rumah. Sama sekali tidak peduli dengan kehadiran ibu dan saudari kembarnya di ruang tengah, gadis itu masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu.

Gadis berambut hitam itu menggelengkan kepalanya tanda tak setuju melihat tingkah si gadis berambut merah yang berstatus saudari kembarnya. Apalagi yang sudah terjadi di sekolah tadi?

“Coba kau lihat dia, Hyesoo-ya.”

Sang ibu memandang sejenak pada pintu kamar berhiaskan stiker bunga yang baru saja menjadi ajang pelampiasan kemarahan sebelum kemudian perhatiannya kembali pada Koran di tangannya. Agaknya ia sudah sangat terbiasa dengan kejadian seperti tadi.

Sang gadis bernama Hyesoo menghela napas sejenak lalu berdiri mengikuti perintah ibunya. Merasa setengah hati melakukannya. Karena tidak perlu menjadi peramal untuk mengetahui masalah apa yang menjadi alasan perbuatan bar-bar saudarinya itu.

Hyesoo melangkah memutari sofa kecil ruang tengah dan langsung membuka pintu kayu itu tanpa merasa perlu untuk mengetuk pintunya.

Hal pertama yang ia lihat di dalam kamar yang cukup luas itu adalah saudari kembarnya yang terbaring menelungkup di kasurnya. Rambut merahnya yang tadinya diikat kuncir kuda kini sudah lepas, membuat kesan berantakan. Hyesoo melangkah masuk ke dalam kamar bernuansa orange cerah itu tanpa merasa perlu untuk berkomentar mengenai kamar saudarinya yang berantakan ataupun fakta mengenai saudarinya yang masih mengenakan seragam sekolah. Gadis itu duduk di samping tubuh yang masih menelungkup itu, tidak berkata apa-apa selama beberapa saat.

“Ada apa lagi dengan Kim Kibum?”

Kalimat itu seakan menjadi pemicu kemunculan tanda kehidupan dari si gadis berambut panjang. Sekejab saja ia duduk di samping Hyesoo. Dengan wajah yang masih kusut, ia mengerucutkan bibirnya, membuatnya semakin terlihat berantakan.

“Dia mengabaikanku! Kami berada di tim yang sama, tapi bahkan ia tidak mencoba berbicara sedikitpun padaku! Ia terus saja mengabaikanku, mengobrol dengan yang lain, tidak mengizinkanku masuk ke dalam percakapan! Ia bahkan merasa tidak perlu untuk menyapaku lagi!” ucap gadis itu berapi-api.

Hyesoo menghela napas kembali. Hahh, Kim Kibum.

“Kau sudah mengajaknya bicara?”

“Dia tidak mau bicara dan memandang padaku! Kau pikir bagaimana bisa aku mengajaknya bicara, Soo-ya?” balas sang gadis keras.

“Coba kau ingat lagi, apa yang sudah kau lakukan padanya? Mungkin tanpa sadar kau sudah menyakitinya?”

“Aku tidak melakukan apapun! Terakhir kali kami masih baik-baik saja. Kau bahkan tahu kami masih pulang sekolah bersama minggu lalu,” ucapnya lancar, tampaknya ia sudah memikirkan hal ini berulang kali sebelumnya.

“Kalau begitu kau hanya bisa menunggu, Na-ya. Mungkin sedang terjadi sesuatu dengannya dan ia tidak bisa menceritakannya padamu –jangan mulai bertampang seperti itu! Setiap orang pasti punya rahasia yang tidak bisa dikatakan pada sahabatnya sekalipun. Tunggu saja sampai datang waktunya ia bisa bicara denganmu.”

Gadis itu semakin mengerucutkan bibirnya, merasa kesal dengan perkataan saudarinya. Tapi, toh, ia mengangguk dan kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur, kembali menelungkupkan kepalanya pada sebuah bantal besar, membiarkan semua kekesalannya tenggelam dalam kapuk bantal.

Hyesoo menghela napas maklum pada tingkah laku saudarinya. Sedikit tidak percaya kalau saudarinya yang cuek dan hyper bisa langsung kalang kabut tak karuan hanya karena di cuekkan seorang Kim Kibum selama seminggu. Kalau saja Kibum melihat tingkah saudarinya saat ini, ia pasti menyesal karena telah mengabaikannya sebegini lama. Yah, mau bagaimana lagi. Mereka berdua memang sama-sama cuek.

Bertahanlah sebentar lagi, Hana-ya. Mungkin Kibum sudah menemukan keberaniannya kembali tak lama lagi.  Mungkin Kibum sudah menyadari perasaannya padamu tak lama lagi. Mungkin.

Hyesoo melangkahkan kakinya keluar dari kamar, tanpa berniat berkata apa-apa lagi.

~END~

Advertisements

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s