8th

8th

8th

by rineema

Super Junior

~***~

Malam perlahan beranjak larut.

Pria itu memandangi ponselnya tanpa kenal lelah. Sudah berjam-jam ia memandanginya, seakan berharap ponsel keluaran terbaru merek yang terkenal di negaranya itu akan berubah menjadi kelinci atau apa. Sudah bemenit-menit ia habiskan untuk tersenyum kecil, tertawa, atau bahkan meringis ketika ia memandangi terus ponsel layar lebarnya itu.

Jarum detik terus saja berjalan tanpa kenal kata berhenti.

Pria itu masih setia dengan ponselnya. Semakin lama ia berada di depan ponselnya, semakin banyak ekspresi keluar dari wajahnya yang biasanya datar tak terbaca. Biasanya ia tidak akan membiarkannya. Biasanya ia akan membuat tameng tak tertembus. Tapi kali ini berbeda. Kali ini ia mengeluarkan semuanya, kali ini ia tidak menahan lagi.

Layar ponselnya tiba-tiba berhenti bergerak.

Alis sang pria terangkat tinggi. Bertanya-tanya dalam hati apakah gerangan penyebab berhentinya semua kesenangan yang baru ia dapat ini? Mungkinkah mereka sudah tidak mempunyai kenangan yang tersisa tentang dirinya? Tentang ia dan yang lain. Tentang kami.

Terhentinya ‘waktu’ di ponselnya membuat sang pria terdiam. Keheningan yang kemudian membuat otaknya yang telah bergerak sedari tadi mulai kembali memutar kenangan lama. Kenangan tentang ia dan yang lain. Tentang kami.

Pikirannya langsung terbentuk ke dalam satu deret angka. 2005. Salah satu dari sedikit tahun yang ia ingat dengan baik karena kesan di dalamnya. Deret angka yang memberikan efek menyenangkan pada dirinya ketika teringat akannya. Deret yang membuat kenangannya kembali terseret ke waktu berikutnya.

~

Awal mula.

Masih dapat ia ingat jelas seakan baru terjadi kemarin, ketika ia bertemu dengan yang lain. Berusaha beradaptasi dengan baik dengan sebelas orang lain di satu tempat tinggal yang sama. Hal yang awalnya ia anggap mustahil, mengingat ia juga harus beradaptasi dengan negara kelahirannya sendiri. Tapi itu semua berubah ketika ternyata ia dapat beradaptasi dengan yang lainnya – atau lebih tepatnya mereka yang membuatnya dapat beradaptasi dengan baik.

~

Tahun pertama.

Bertambah lagi. Satu orang. Lebih muda darinya. Itu berarti kembali beradaptasi. Awalnya ia tidak menyukai gagasan ini. Ia sudah nyaman dengan sebelas orang, sudah sangat menerima posisinya sebagai nomor duabelas dan terakhir di dalam kelompok, dan semuanya harus kembali ditata dalam waktu satu tahun. Tapi kemudian waktu kembali bergulir dan ia ternyata dapat beradaptasi dengan anggota baru. Ia ternyata menerima kehadiran nomor tigabelas di kelompoknya.

~

Tahun kedua.

Menyanyi ternyata sangat menyenangkan. Sebelumnya ia tidak pernah benar-benar memikirkan untuk bernyanyi di depan semua orang. Ia lebih suka berpura-pura, ia lebih suka bersembunyi di balik nama lain. Tapi ternyata ia mempunyai sisi lain. Sisi yang memberontak ingin dikenal sebagai dirinya sendiri. Dan ia baru menyadari ternyata menyanyi adalah pilihan yang tepat. Terlebih jika bersama dengan yang lain – bersama dengan saudara-saudaranya . Mungkin jika bukan mereka, ia tidak akan merasa senyaman ini.

~

Tahun ketiga.

Ia menjadi lebih dikenal, bukankah begitu? Tentu saja. Karena berikutnya mereka telah disibukkan oleh berbagai macam kegiatan. Show dan rutinitas bintang lain. Begitu terus selama beberapa waktu. Membuatnya merasa kurang. Ia memang menyukai bernyanyi, tapi ia merindukan saat-saat ‘menjadi orang lain’. Kegemaran yang tidak lagi bisa ia lakukan dengan segala kegiatan bernyanyinya. Dan ia pikir ia sudah cukup bernyanyi untuk sementara ini.

~

Tahun keempat.

Vakum. Ia telah memutuskannya sejak lama. Ia telah meyakinkan dirinya sejak beberapa waktu lalu. Ia telah berusaha meyakinkan dirinya cukup lama. Dan ia bisa melewatinya. Tentu saja. Ini keputusannya dan ia tidak pernah menyesal dengan keputusan yang telah ia ambil, tidak pernah menarik kembali janji yang telah ia ikrarkan dalam hati. Ia berjanji akan tetap menjadi anggota keduabelas, berjanji akan kembali setelah ia merasa cukup ‘menjadi orang lain’. Ia akan kembali.

~

Tahun kelima.

Shock. Kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaannya kala itu. Ia tidak percaya jika tidak melihatnya sendiri. Melihat salah satu saudaranya melangkah keluar dari ambang pintu kediaman mereka, rumah mereka. Melangkah keluar dengan berbagai perasaan tak nyaman yang tidak dapat ia mengerti. Kenapa… kenapa ia tidak pernah menyadari perasaan tak nyaman itu sebelumnya? Kenapa ia harus mengalami perpisahan seperti ini? Ia ingin sekali memutar waktu, mengembalikan kembali keping yang hilang agar ia dapat memahami perasaan orang itu. Tapi, seperti kata yang lain, waktu pasti dapat menyembuhkan luka walau bekas akan selalu ada. Ia pasti akan kembali, diwaktu yang tidak kita duga. Si nomor tiga dan nomor lima.

~

Tahun keenam.

Waktu perlahan kembali menunjukkan sisi tajamnya. Dua tahun sudah ia hengkang sementara dan pertanyaan lain pun mulai membanjirinya. Kapankah ia akan kembali?  Ia dapat melewati berbagai macam pertanyaan yang dilontarkan padanya mengenai keputusan ini dulu, ia masih bisa tersenyum setelah keputusannya ini tercium media, tapi ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang satu ini. Ia tidak tahu kapan ia akan kembali.

~

Tahun ketujuh.

Titik balik. Ia merasa tahun itu adalah titik awal dari segalanya. Ketika diluar mereka tampak rapuh dan berdiri sendiri, mereka tahu bahwa sebenarnya mereka telah utuh kembali. Mereka telah berkumpul kembali. Entah apa yang memulainya, tapi yang ia tahu kini mereka telah kembali bersama dan itu membuatnya seolah telah menemukan kembali anggota keluarganya yang hilang, menemukan kembali keping yang akan melengkapi ingatannya.

~

Tahun kedelapan.

Pria itu tersentak ketika merasakan getar di tangannya. Ponselnya. Bibirnya tanpa sadar membentuk senyum membaca nama yang tertera disana. Ia bangkit dari duduknya sembari berjalan keluar dari ruangannya.

“Yeoboseyo?”

“Ya! Kim Kibum! Kau jadi ikut berkumpul sekarang tidak? ini sudah malam, dan kau tahu kami semua harus berangkat pagi sekali besok ke Eropa sementara Tuan Tentara Kita, Jungsu, bilang ia sudah lapar. Kalau kau tidak datang dalam waktu sepuluh menit, kau akan kehilangan masakan Hankyung!”

Pria itu terkekeh, tahu bahwa ancaman itu hanyalah bualan belaka. Pria yang menelponnya ini mana tega berbuat begitu sekarang.

“Kalian makan saja duluan.”

“Ck. Pokoknya kau harus datang cepat!” sergah si penelpon, membuat sang pria kembali terkekeh.

“Heechul hyung,” kata sang pria tiba-tiba, sebelum si penelpon sempat menutup panggilannya.

“Hm?”

“Selamat hari jadi yang ke-8,” ucap pria itu sambil tersenyum lebar dan ia tahu pasti sang pria di seberang sana juga ikut tersenyum.

“Selamat hari jadi juga untukmu,” ucapnya sebelum  kemudian menambahkan, “cepat kemari!”

“Arraseo.”

Kibum menutup panggilan teleponnya dan kembali berjalan menuju tempat yang dituju. Rumah mereka. Rumah yang sangat ia rindukan. Hm… mungkin sudah waktunya ia kembali juga?

~END~

Advertisements

2 thoughts on “8th

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s