Blue-Square

bluesquare

Blue-Square

 A Ficlet by rineema

Han Hyesoo | Kim Myungsoo

–Myungsoo terlihat begitu menarik sekarang–

Read, enjoy, and aprreciate the story ^^

~***~

Aku sudah sangat terbiasa melihat begitu banyak hal menyilaukan dari dunia entertainment.

Mulai dari pakaian mahal yang dihiasi lampu-lampu menyala, aksesoris berkilau yang membuat sakit ketika memakainya, hingga make-up tebal yang tidak akan hilang sampai berhari-hari. Semua itu sering aku lihat dan tak jarang aku kena sial karena dipaksa mencoba hal-hal mengerikan itu. Yah, semua ini terjadi karena aku berteman akrab dengan salah sedikit dari orang yang bergelut dalam bidang entertainment. Orang terkenal yang kini tidak lagi bisa berjalan dengan santai menuju rumahku tanpa adanya gosip tak jelas yang keluar setelahnya.

Siapa yang tidak mengenal Kim Myungsoo sekarang?

INFINITE “L”. Begitu orang-orang mengenalnya sekarang. Si Ice Prince bermata tajam yang jarang terlihat berkata banyak. Tapi bagiku, dia tetaplah seorang Kim Myungsoo yang sama seperti lima tahun lalu. Tidak banyak yang berubah darinya, kecuali mungkin ia menjadi semakin sibuk untuk hanya menyapaku dan dia menjadi semakin suka dengan pakaian serba hitam.

Myungsoo memang suka hal-hal berbau hitam dan hal itu berubah menjadi keharusan sejak ia debut. Aku pernah menyuruhnya untuk mengganti pakaian hitamnya itu dan ia malah balik menyerangku dengan berkata bahwa akulah yang pertama kali mengatakan ia tampan jika berpakaian hitam dan ia berpegang teguh pada kata itu. Oh, bagaimana mungkin ia membuat kata-kata yang iseng keluar dari bibirku menjadi pedomannya?

Aku kembali memperhatikan pintu keluar gedung tempat aku menunggu Myungsoo selesai dari acaranya. Sudah cukup lama aku berdiri, tapi belum muncul tanda-tanda ia akan muncul. Sudah cukup banyak artis yang pergi melewatiku dengan berbagai macam ekspresi. Aku senang melihat mereka terlihat lebih manusiawi tanpa peralatan keartisan menempel di badan mereka.

“Hyesoo-ya.”

Aku terlonjak ketika seseorang menepuk bahuku keras. Aku menoleh, mendapati sosok tinggi yang tak asing bagiku tengah berdiri memandangi kehadiranku dengan alis terangkat.

“Heechul oppa,” sapaku senang. Pria itu berdiri di depanku dengan baju kasualnya dan, walau terlihat lelah, jelas tampak senang. “Acaranya sudah selesai?”

“Apa menurutmu aku akan berada disini kalau acara masih berlangsung?” tanyanya retoris. Aku hanya mampu mendengus kecil mendengar jawabannya yang terdengar menyebalkan seperti biasa.

“Tumben kau disini? Kau tahu kalau Kyuhyun tidak datang ke acara ini, kan?” Heechul bertanya dengan keheranan yang terlihat jelas. Aku memang jarang datang ke acara-acara musik jika itu tidak menyangkut grup-nya, Super Junior, dan Kyuhyun. Pria ini agaknya tahu persis aku adalah penggemar berat mereka. Sudah cukup lama juga kami saling mengenal.

Aku menggeleng, “Hari ini aku datang untuk Myungsoo. Apa dia sudah selesai?”

“Oh, dia. Dia masih sibuk dengan member-nya yang lain,” jawab Heechul sembari sibuk merapikan kaus panjangnya yang kusut. Mungkin tadi ia mendapat kesulitan untuk keluar dari gedung. Pergerakannya terhenti mendadak seakan baru menyadari sesuatu.

“Untuk Myungsoo? Tumben sekali kau mau datang ke acara seperti ini untuknya? Biasanya kau malas datang kalau tidak bertepatan dengan adanya kami di dalamnya. Mulai berpindah hati, hm?”

“Jangan mulai berkata aneh kalau kau sudah tahu jawabannya, oppa. Aku tidak berpindah hati dan aku sebenarnya juga malas kesini kalau saja Myungsoo tidak meminta. Heran, kenapa juga begitu tiba-tiba,” sergahku sembari menghela napas.

Dan berikutnya aku terheran melihat seringai muncul di wajah Heechul. “Ah, ini yang dia maksud dengan ingin bertemu dengan sahabat lama tadi?”

Heechul tertawa sejenak. Kali ini aku yang menaikkan alis heran.

“Wajar, kan? Aku memang sahabat lamanya,” kataku bingung.

“Kau akan tahu apa maksudku setelah dia datang nanti,” Heechul berkata diantara tawanya, tapi kemudian wajahnya berubah sedikit serius ketika mengatakan, “Awas saja kalau kau sampai terpikat padanya sekarang! Aku mungkin akan mengatakan pertemuan ini pada magnae. Huh, dia itu, pintar juga mencari perhatianmu.”

Aku, yang semakin bingung dengan perkataan Heechul, memutuskan untuk diam dan berbalik kembali memandangi jalan keluar dari gedung acara yang tadi dilewati Heechul. Percuma saja menanyakan lebih lanjut pada pria itu, hanya akan menghabiskan tenaga. Lebih baik aku kembali menunggu kemunculan Myungsoo.

Baru saja aku selesai bertekad dalam hati ketika di detik berikutnya aku melihat sosok orang yang kucari tadi di kejauhan. Sosok tinggi itu terlihat kerepotan dengan kertas dan ponsel di tangannya sebelum kemudian matanya menemukanku dan senyumnya terkembang saat berikutnya. Aku tersenyum dengan tangan setengah terangkat untuk melambai pada Myungsoo yang pergerakkannya terhenti di tengah jalan.

Myungsoo telah berjalan mendekat dengan cukup cepat sehingga aku kini dapat melihat apa yang dikenakannya kali ini. Tidak ada lagi kaus hitam, hoodie, atau kacamata hitam. Dengan rambut masih ditata berdiri dan eye liner hitam andalannya, Myungsoo memakai kemeja kotak-biru yang dengan sukses membuatku terpaku. Astaga, bagaimana ia bisa terlihat begitu manusiawi sekaligus menyilaukan hanya dengan satu kemeja bermotif yang memang aku sukai? Bagaimana mungkin ada orang yang bisa terlihat seperti itu selain Cho? Bagaimana ia bisa tampak seribu kali lebih… tampan daripada ketika ia memakai baju hitam? Bagaimana satu kemeja dapat membuat hasil yang seperti ini? Atau… hanya aku yang baru menyadari kalau Myungsoo itu memang… tampan?

Aish. Apa sih yang aku pikirkan?

“Hai,” sapanya dengan sudut bibir yang terangkat sedikit. Hal yang sukses membuatku berdebar tak karuan.

Astaga. Ada apa denganku?

Hembusan napas dan kekehan kecil di samping telingaku membuatku menyadari kembali kehadiran Heechul yang pasti sudah menontonku sedari tadi.

“Aku tahu maksud wajahmu itu, Hyesoo-ya,” bisiknya menyebalkan.

Awas saja kalau kau mengatakannya pada Kyuhyun, Kim Heechul!

Myungsoo bergerak meraih tangan kananku. “Ayo, kita pergi. Kau pasti sudah lama menunggu, kan?”

Dan dengan anggukan kecil untuk Heechul, Myungsoo bergerak menarikku menjauh. Oh, baiklah, aku tidak peduli dengan wajah menyeramkan Heechul kali ini. Aku tidak peduli hal apa yang akan menyambutku nanti. Saat ini, aku hanya memikirkan genggaman pria dihadapanku.

Bersama Myungsoo tampaknya menyenangkan juga.

Tampaknya aku harus berterima kasih pada kemeja kotak-birunya.

~***~

Advertisements

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s