Always

always1

Always

A Fanfiction by rineema

Lee Sungyeol  | Kim Myungsoo
Choi Jinri  | Jung Soojung

–Setelah sekian lama, hanya dia alasannya untuk bertahan–

. . . .

I see things that I couldn’t see before
I hear things that I couldn’t hear before
After you left me, I have grown a power that I didn’t have before

(EXO – Miracles In December)

~***~

            Aku tidak tahu apa yang membawaku kesini.

San Francisco, 20 Desember. Adalah tanggal dimana pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di Amerika. Negeri nun jauh di ujung barat dunia yang bukan termasuk salah satu tempat yang ingin kukunjungi sendirian. Aku tidak terlalu suka berada di kerumunan orang asing, terlebih jika berada diantara orang-orang ras kaukasia pucat yang tampilannya jelas dapat dibedakan dengan orang Asia sepertiku.

Entah apa yang membuatku kemari, aku tidak ingin mengingatnya.

Aku melangkahkan kakiku diantara para pejalan kaki lain. Berselimutkan syal dan mantel tebal dalam usaha menghalau udara dingin yang semakin menusuk di San Francisco, kakiku bergerak mengikuti perintah dari otak–untuk bergerak cepat menemukan tempat tujuanku. Mataku tergerak menyisiri satu per satu jalan yang terlihat di depanku tanpa bermaksud untuk benar-benar memerhatikan. Salju yang menumpuk tebal serta ornamen natal yang menghiasi setiap sudut membuat semuanya terlihat sama di mataku yang belum familiar dengan jalan-jalan di San Francisco. Setelah ragu selama sepersekian detik, aku memutuskan untuk kembali mengeluarkan secarik kertas kecil putih yang kini telah lusuh karena saking seringnya aku mengamatinya.

Setelah selama beberapa menit berjalan mengikuti pertunjuk arah dari kertas itu, akhirnya aku dapat menemukan sebuah rumah minimalis yang berada tak jauh dari taman lapang. Rumah itu bertingkat satu, indah, dan memiliki pekarangan mungil yang kini memutih tertutup salju. Entah bagaimana, penampilan rumah itu membuatku yakin bahwa aku telah berada di tempat yang tepat.

Untuk sesaat, perasaan ragu kembali mendatangiku. Aku tidak lagi ingin cepat-cepat sampai di tujuan yang kini ada di hadapanku. Bayangan adegan yang tidak ingin aku hadapi tiba-tiba muncul dalam benakku.

Bagaimana kalau dia juga akan menanyakannya?

Aku yakin dia sudah mendengar berita tentangnya. Lalu bagaimana aku harus bersikap?

Tidak lama setelah aku berhenti untuk mengamati rumah dihadapanku, sesosok pria tinggi tiba-tiba muncul dari balik pintu kayu berpelitur cokelat. Sosok itu menunduk sembari merapatkan mantel hitam panjangnya, tampak tidak memerhatikan keadaan sekitar–aku bahkan ragu apakah dia peduli dengan keadaan sekitar yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Agaknya, sifat pria itu untuk menjadi orang yang paling sadar akan kehadiran tatapan seseorang padanya tidaklah berubah. Sebelum aku sempat berbalik pergi, sedetik kemudian, pandangan pria itu telah beradu denganku. Dalam waktu beberapa detik yang terasa lama, aku melihat berbagai macam perubahan emosi dalam mata hitam pria itu. Terkejut, senang, bingung, dan kemudian berubah menjadi sorot penuh pemahaman. Saat itulah aku menyadari bahwa hanya dia-lah yang berhasil mengertiku melalui pandangan mata, tanpa adanya kata. Aku mencoba untuk mengulas seringai padanya, seperti yang dulu biasa kulakukan.

Looking for someone?”

Pria itu mendengus, sebelum sejurus kemudian, ia sudah berada di sampingku. Tangannya sudah memerangkapku dalam rangkulan erat di leher yang berpotensi membuatku tercekik kehabisan napas. Oh, sambutan yang baik sekali.

“Lama tak jumpa, eh, Lee Sungyeol?”

Ya! Kim Myungsoo! Kau berniat untuk membunuh sahabat lamamu, hah!”

***

Pria itu bernama Kim Myungsoo.

Pria tinggi dengan mata hitam tajam itu. Dia adalah sahabatku dari masa sekolah menengah atas, terhitung sudah sebelas tahun persahabatan kami. Tapi tampaknya itu tidak akan pernah mengubah sifat dasarnya untuk menjadi lebih banyak bicara padaku.

Cukup lama kami duduk diam, menikmati kopi di tangan masing-masing tanpa kehadiran suara. Myungsoo sibuk dengan pikirannya, sementara aku sibuk mengamati pemandangan di balik jendela lebar yang berada tepat di sampingku. Salju masih saja turun sedari siang tadi, menutupi tiap senti pekarangan kecil Myungsoo, membuat segalanya menjadi putih. Asing.

Bosan mengamati salju, aku menoleh dan memutuskan untuk memandangi setiap sudut rumah Myungsoo. Rumah yang membuatku terkagum juga terkejut ketika masuk pertama kali ke dalamnya. Aku memang tahu Myungsoo menyukai dunia memotret, tapi tak pernah kubayangkan ia akan mengisi setiap dinding di rumahnya kelak dengan semua foto hasil memotretnya  sendiri. Aku, yang sudah tidak tahan berdiam diri, memutuskan untuk berdiri dan mengamati setiap foto yang ada. Ada begitu banyak foto pemandangan ataupun hal-hal kecil yang menarik perhatian Myungsoo untuk diabadikan. Semuanya terlihat menarik karena ditata dengan baik oleh Myungsoo.

“Menikmati pemandangannya?”

Aku menoleh dan mendapati Myungsoo tengah ikut melihat karyanya sendiri di sampingku; pemandangan pegunungan bersalju.

“Kau pasti senang tinggal disini, kan?” tanyaku sembari mengedikkan kepala pada puluhan foto-foto yang dihasilkannya.

Myungsoo terkekeh kecil, “Yah, aku harus membuat diriku nyaman jika ingin tinggal, kan?”

“Kau memang tinggal disini, Myungsoo. Sudah lima tahun kau hidup di San Francisco. Bagaimana mungkin kau masih mengatakan berusaha membuat dirimu nyaman?” kataku tak percaya.

“Kau sendiri bagaimana? Tinggal di Jepang jelas membuatmu senang, kan?”

“Ah, dimana Soojung? Aku tidak melihatnya,” kataku memotong Myungsoo.

Myungsoo terdiam sejenak memandangiku. Ia merogoh sakunya sebentar, lalu melemparkan apa yang ada di dalamnya dengan cepat. Refleks, aku menangkapnya tanpa cela.

“Istirahatlah. Kamar dekat dapur. Kita akan membicarakannya kapan-kapan.”

Myungsoo berbalik, meninggalkanku memandangi kepergiannya dengan bingung. Aku mengamati kunci kamar yang diberikannya padaku. Dia itu, masih saja menunjukkan perhatiannya tanpa kata.

***

Sudah tiga hari aku menghabiskan hariku di rumah Myungsoo. Salju masih terus turun di San Francisco dan pohon natal kini sudah berdiri tegak di rumah ini sejak dua hari lalu. Myungsoo pergi keluar setiap pagi hari dengan kamera di tangannya dan pulang sore. Ia bekerja sebagai fotografer yang tetap sibuk walau menjelang natal begini. Di rumah, ia tidak banyak bicara. Tetap tidak ada banyak percakapan yang terjadi diantara kami. Ia tidak pernah lagi mengungkit-ungkit pertanyaan yang sengaja tidak kujawab di hari pertama aku tiba. Dan agaknya aku juga tahu diri dengan tidak menanyakan kealpaan Soojung.

Jung Soojung adalah sahabatku yang lain dan, yang terakhir kali kuketahui, adalah istri dari Kim Myungsoo. Myungsoo dan Soojung telah menikah lima tahun lalu. Soojung adalah warga Amerika, karena itulah mereka memutuskan untuk hidup di San Francisco, jauh dari kenangan masa sekolah kami di Korea Selatan sana. Aku sendiri sudah tiga tahun ini kehilangan kontak dengan mereka. Tidak mendengar berita apapun tentang kehidupan mereka disini kecuali alamat tinggal yang dikirimkan oleh Soojung empat tahun lalu. Mungkinkah mereka telah berpisah? Entahlah. Aku tidak tahu apapun dan tidak ingin menduga yang tidak-tidak.

Aku kembali duduk di kursi dekat jendela besar di ruang tamu Myungsoo, memutuskan untuk menjadikan tempat ini tempat favorite-ku. Aku baru saja akan kembali menaruh kepalaku di atas meja seperti biasa, ketika tepukan di bahuku membuat aku kembali terduduk tegak.

“Senang menganggur kau, heh?” Myungsoo terduduk di kursi di hadapanku. Aku mendengus sebelum memutuskan untuk kembali melanjutkan kegiatanku yang tertunda; menaruh kepalaku di atas meja.

“Aku tidak punya pekerjaan apapun,” ucapku setengah tenggelam diantara lipatan tanganku.

“Itu karena kau tidak melakukan apapun,” kata Myungsoo. Aku mengabaikan kata-katanya, membiarkan keheningan menyelimuti ruang tamu yang luas. Tepat ketika kupikir Myungsoo sudah pergi, suaranya kembali terdengar.

Geumanhae, Sungyeol-ah.”

Aku kembali menegakkan badanku. “Arra, arra. Aku tidak akan tidur lagi,” kataku, berusaha menghindari matanya. Entah bagaimana aku tahu persis apa yang ingin dikatakan Myungsoo hanya dari nada suaranya dan aku tidak ingin itu dibahas sekarang.

“Kau tahu persis apa maksudku,” ucapnya lagi, “Stop being like this. Letting yourself into sadness, it’s not like you. Kembalilah menjadi Sungyeol yang biasa.”

I’m not. I just sleepy, okay? Dan aku tidak berubah. Aku tetap Sungyeol yang biasa,” kataku tegas. Apa aku benar terlihat menyedihkan hingga Myungsoo menyadarinya?

“Baik. Karena kau yang mengatakan kau baik-baik saja, maka aku tidak akan menahannya lagi,” Myungsoo berkata tajam, “Aku turut berduka atas kematian Jinri. Kecelakaan itu bukan salahmu, jadi hentikan semua muram durja ini.”

Kata-kata Myungsoo selalu tepat mengenai sasarannya.

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk kembali teringat saat-saat mengerikan dalam hidupku. Hujan… mobil yang berputar setelah menabrak trotoar… jeritan memekakkan telinga dari sampingku. Jinri… Jinri-ku…

Myungsoo kembali menepuk bahuku, “Lepaskan saja.”

Dan berikutnya mataku tidak lagi bisa melihat apapun. Semua terlihat berselaput karena adanya air mata yang menetes tanpa henti. Aku tidak lagi berusaha tegar seperti dihadapan orangtuaku, tidak lagi ingin tersenyum seakan aku baik-baik saja. Kali ini aku akan melepaskan semuanya. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menangis sebegitu banyak…

Malam tak pernah terasa sebegini dingin.

***

If I just think of you, I can fill this world with you
Because each snowdrop is one tear drop that belongs to you
But theres just one thing that I can’t do and it’s to make you come to me

***

 

“Sebenarnya kita akan pergi kemana?”

Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya setelah sudah sekian lama Myungsoo berjalan tanpa memberikan petunjuk apapun perihal tujuan kami pergi di pagi hari buta. Yah, tidak bisa dikatakan ‘buta’ juga karena matahari sudah terlihat bersinar di titik horizon. Belum juga aku merasa cukup baikan setelah kemarin. Tapi tampaknya pria ini tidak berniat untuk memberitahuku sedikitpun, pun tidak dengan dandanan rapi dan sebuket bunga lili besar yang ada di tangannya.

Ya, Kim Myungsoo –”

Hardikkanku berhenti ketika melihat tempat dimana kami berada sekarang. Bukit dengan pohon rindang tumbuh di atasnya, dan terlebih… ini adalah pemakaman.

Myungsoo bergerak mendekati batu nisan putih pualam yang berada tepat dibawah kerindangan pohon. Aku ikut mendekat dan seketika terpaku membaca nama yang tertera di atasnya. Jung Soojung.

“Myungsoo…”

“Soojung… sudah tidak ada, Sungyeol.”

Aku terkejut mendengar ucapan Myungsoo. Bagaimana? Kapan? Aku ingin menanyakannya tetapi kemudian takut jika itu akan menyakitinya. Kupikir wajahnya akan muram atau apa, tapi aku lebih terkejut melihat ekspresinya sekarang. Senyum lebar yang bahagia, seakan yang ada di hadapannya saat ini adalah seluruh kebahagiaannya. Aku tidak pernah melihat ekspresi itu selama empat hari ini bersamanya. Ekspresi yang baru kusadari telah menghilang dari wajahnya.

“Soojungie, kau masih ingat Sungyeol? Benar. Lee Sungyeol, si bocah menyebalkan suami Choi Jinri, sahabatmu itu. Hari ini dia datang untuk mengunjungimu juga.”

Mau tak mau, sudut bibirku terangkat sedikit ketika mendengar perkataan Myungsoo. Tanpa dikomando, otakku langsung membuka kembali kenangan lama yang tersimpan begitu lama. Saat-saat dimana pelataran sekolah menjadi latar hidupku selama bertahun-tahun, saat-saat dimana aku, Myungsoo, Soojung, dan Jinri bersama. Dan wajah gadis-gadis itu pun perlahan muncul di depan mataku. Jinri… lalu Soojung…

Angin musim dingin yang bertiup membuatku tersadar akan kehadiran buket bunga lili yang kubawa. Aku tergerak maju, kuletakkan bunga lili putih disamping buket bunga milik Myungsoo yang lebih besar. Terlalu terkejut untuk mengatakan sesuatu pada nisan pualam itu.

“Aku tidak pernah tahu kalau Soojung sudah tidak ada…”

Myungsoo tersenyum sedikit, “Wajar saja. Kau sudah menghilang selama beberapa tahun, tidakkah kau sadar itu, Lee Sungyeol? Lagipula tidak semua keluarga dan kerabatku ataupun Soojung di Korea yang kukabari tentang ini. Aku hanya ingin ia beristirahat dengan tenang di tempat dimana ia ingin tinggal.”

“Kalau tempat pengistirahatan Soojung aku paham, lalu kau? Kupikir kau tidak suka tinggal di Amerika dan akan kembali ke Korea setelah Soojung tiada.”

“Kupikir juga begitu. Tapi nyatanya aku tidak mau meninggalkan semua kenanganku bersama Soojung disini.”

“Tidakkah itu… hanya membuatmu semakin berat untuk melupakannya?”

I don’t think that I want to forget her. Aku malah merasa ingin menghidupkannya kembali. Jika ia memang tidak ada di dunia, maka biarkan dia hidup dalam ingatanku, sebagai pengingat bahwa ia pernah ada di dunia, pernah ada di sampingku, pernah ada untukku. Bahwa Jung Soojung pernah hidup untukku, pernah menjadi seorang Kim Soojung, berjalan di setiap blok dalam kota San Fransisco. Aku justru senang membayangkannya dan tidak ingin terpisah jauh dari kenangan itu. Aku takut kalau aku menjauh maka aku akan melupakannya secara perlahan. You know that I have a problem with my own memory, right?”

Myungsoo terlihat merapikan sedikit letak bunga lilinya.

“Aku melihat banyak hal yang tidak kulihat sebelumnya. Aku mendengar hal-hal yang tidak kudengar sebelumnya. Setelah kepergiannya, kekuatan baru tumbuh dalam diriku yang tidak pernah kumiliki sebelumnya. Aku memang sedih dengan kepergian Soojung, tapi aku menemukan makna lain dari kehilangannya.”

Aku tersentak oleh uraian panjang Myungsoo. Hampir-hampir tidak percaya bahwa yang berbicara sepanjang itu barusan memang benar Kim Myungsoo yang dingin dan biasanya tak peduli. Aku sama sekali tidak menyangka kalau ia memandang arti kehilangan dengan begitu besarnya. Akhirnya terungkap sudah alasannya untuk tetap tinggal di Amerika.

“Itu alasanmu tinggal? Jung Soojung? After all this time?

Dan berikutnya, aku melihat wajah itu tersenyum dengan sangat ringan. Senyum yang membuatku yakin kalau Myungsoo serius dengan perkataannya.

Always.”

Sudut bibirku terangkat melihatnya. Soojung-ah, kau sudah banyak merubah orang ini.

“Aku berutang do’a untukmu setiap hari.”

.

.

Myungsoo terlihat keluar dari dalam kamarnya sembari menguap. Ia bergerak untuk mengambil air minum dan pergerakannya terhenti melihat setumpuk hadiah di bawah pohon natal buatannya. Ia tidak ingat sudah menambahkan kotak berwarna-warni itu di pohon natalnya. Penasaran, Myungsoo bergerak mendekat. Ia mengambil kertas kecil yang berada di atas kado-kadonya. Tulisan tangan Sungyeol.

 

To: Kim Myungsoo

Saat kau membacanya maka aku sedang berada dalam pesawat menuju Jepang. Kau terlihat nyenyak sekali saat tidur! Aku tidak ingin mengambil resiko kena semprotmu karena sudah mengiterupsi mimpimu dengan Soojung, jadi aku langsung berangkat tanpa pamit padamu. Melihatmu kemarin membuatku merindukan Jinri-ku. Kau bisa datang kapanpun kau mau untuk membalasku, L! ㅋㅋㅋ

Happy holiday, Myungie!

From: Lee Sungyeol

 

Myungsoo berdecih kecil membacanya.

“Apa-apaan dia? Myungie hanya untuk Soojungie. Aish,” gerutu Myungsoo. Sebuah senyum mampir di bibir tipisnya. Akhirnya, sadar juga sahabatnya itu.

Myungsoo bergerak memandangi salju yang kembali turun dari daun jendela lebarnya, menatap pada langit putih berawan.

Happy holiday, Yeollie.

. . . .

“After all this time?”

“Always.”

. . . .

*END*

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Always

  1. Thornim itu soojung meninggalnya kenapa?
    Apa sama kaya sulli, kecelaka’an? Kasian dua duda kece ini, aku tampung boleh thornim? Heheh :D:D

    1. Hai lagi, Chica ^^
      Soojung ceritanya meninggal karena sakit mendadak, makanya Sungyeol ga tahu ^^
      Weits, biar dua duda itu berada di tiap ceritaku aja :p

  2. ” Kupikir wajahnya akan muram atau apa, tapi aku lebih terkejut melihat ekspresinya sekarang. Senyum lebar yang bahagia, seakan yang ada di hadapannya saat ini adalah seluruh kebahagiaannya.” aku nangis waktu baca bagian ini, gak tau kenapa inituh sediiiiiiiiiih banget. Keliatan kalo Myungsoo itu cinta banget sama Soojung.

    “Apa-apaan dia? Myungie hanya untuk Soojungie. Aish,” yass Myungie is just for Soojungie dan begitu pun sebaliknya. HAHAHAHAHA

    Keep writing MyungSoojung ya authornim!

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s