헤어지는날

 

Ada tiga hal yang aku khawatirkan di dunia ini.

Pertemuan. Perasaan. Perpisahan.

Tiga unsur yang membentuk lingkaran dengan ujung abu-abu. Tiga hal yang sayangnya tidak akan bisa dihindari ataupun diubah akhirnya menjadi terang saja, bukan abu-abu atau hitam.

Tidak. Jelas tidak bisa.

 

Aku masih ingat pertemuan pertama kita yang tidak disengaja tapi pasti telah diatur dengan rapi oleh takdir. Pertemuan pertama yang tak terduga selalu membuat tempat tersendiri dalam hati seorang perempuan. Bagaimana aku terkejut, tapi toh tetap menerima kehadiranmu. Membuka pintu lebar-lebar seakan kau adalah sahabat lamaku yang telah lama hilang.

Masih tergambar jelas dalam diriku bagaimana perasaanku kala itu. Bingung, senang, antusias, waspada. Semua bercampur menjadi satu. Aku tidak menyangka akan ada hari lain dimana aku bisa jatuh seperti ini, sedalam ini. Sejak kehadiranmu, hari-hariku berubah dalam skala besar. Yah, sekali lagi sebuah pertemuan membuat hari-hariku berubah.

Hari demi hari aku semakin mengenalmu, maka aku kembali dilanda oleh perasaan lain. Perasaan ingin mengenal lebih jauh. Rasa ingin tahu yang membuatku mengetahui lebih banyak hal tentangmu juga banyak hal lain mengenai apa saja yang ada di sekitarmu. Hal-hal lain yang terkadang aku cari hanya untuk melengkapi rasa ingin tahuku. Mungkin aku akan menoleh sebentar pada hal-hal ini, tapi kenyataan bahwa aku kembali lagi padamu membuatku sadar bahwa hal-hal kecil itu hanya membuatku jatuh semakin dalam, bukan berpaling darimu. Rasanya seperti menjadi orang lain ketika bersamamu. Dunia terasa berbeda jika bersamamu. Ah, sejak kapan perasaanku berubah menjadi sebesar ini untukmu?

Kemudian jika aku mulai memikirkan semua ini, maka aku akan memikirkan apa yang ada di depan yang paling mungkin menghadang kita. Perpisahan. Aku tidak suka membayangkannya, tapi sekali kata itu muncul berikutnya ia akan terus menghantuiku hingga aku menemukan jalan keluarnya. Nyatanya aku masih belum menemukan jalan keluar untuk itu. Memikirkannya saja sudah membuatku sesak napas entah bagaimana dengan menemukan cara untuk menghindari perpisahan.

Tapi, bagaimanapun aku hanyalah seorang manusia biasa. Karena aku tidak akan bisa mengatasi setiap pertemuan yang mungkin akan hadir di saat-saat mendatang, menanggulangi perasaan yang mungkin akan menginvasiku kelak, hal-hal tidak terduga yang akan membuatku menyingkirkanmu setahap demi setahap tanpa kusadari.

Apa yang bisa kulakukan saat perpisahan itu terjadi lebih cepat? Ketika perpisahan adalah keputusanku sendiri. Maka aku hanya akan menjauh sebisa mungkin, tapi tidak pernah berusaha untuk melupakan. Aku akan berada dalam jarak yang cukup jauh sekaligus dekat agar dapat menjauh tapi juga tetap dapat mengetahui kabarmu. Egois, hm? Karena aku belum bisa melepaskan. Karena aku hanya butuh masa pendinginan, masa untuk menjauh agar aku dapat berkonsentrasi pada masa depanku saja kali ini. Masa yang menentukan segalanya. Jika aku beruntung maka aku akan menemukan cahaya di akhirku, dan aku ingin sekali bertemu dengan cahaya itu. Aku akan berusaha menggapai cahaya itu.

Tunggulah aku datang kembali, dengan cahaya yang mengiringiku. Kita akan kembali beriringan seperti dulu. Tapi ketahuilah, sekalipun wujudku tidak sedang beriringan denganmu sekarang, aku akan tetap berada disampingmu. Karena seperti yang kukatakan tadi, ini hanyalah pengalihan kecil sementara. Perpisahan hanyalah awal dari sebuah pertemuan baru. Pertemuan yang akan kunanti kedatangannya. Dengan kau diujungnya.

I’ll be back soon.

Advertisements

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s