Pénshavedow

penshavedow2

Pénshavedow

A fanfiction by rineema
[Fantasy, (Slight!) Surrealism, Romance]

Kim Myungsoo | Jung Soojung

–Aku adalah sosok yang selalu bersamamu dan memerhatikanmu dari kau hadir ke dunia sampai tiada. Nah, apakah kau menyadarinya sekarang?–

[Inspired by Harry Potter and the Deathly Hallows book (chapter 35: King’s Cross), but this plot and story completely mine]

A/N: This fanfiction was ever sent to FMSJ 1st Anniversary Contest, and also my very first fantasy-fiction and MyungSoojung cast. Titel author favorite berhasil kudapatkan dengan fanfiction ini ^^
Hope you to read, enjoy, and appreciate this story!

~***~

 

“Kau sedang jatuh cinta ya?”

Pertanyaan itu sontak membuat sang gadis terkejut. Ia menoleh pada sosok gadis yang lebih dewasa beberapa tahun darinya itu dan tiba-tiba saja ia merasa pipinya menghangat.

“… apakah terlihat jelas?”

Berikutnya, Sooyeon mengangguk. “Siapakah pemuda yang beruntung itu?”

“… aku jatuh cinta pada diriku sendiri, eonni.

 

***

 

Ruangan itu bercahaya putih––atau mungkin berwarna putih.

Sejauh mata memandang hanya putih yang tampak. Ruangan itu tidak memiliki ujung dengan warna putih yang tidak terang. Warna putih yang polos, seakan menunjukkan bahwa tempat itu memang sudah seharusnya berada disana tanpa ada alasan yang jelas.

Tapi tidak dengan keberadaan orang itu.

Seorang gadis terlihat berdiri disana. Gadis cantik dengan gaun putih gading panjang nan elegan. Tunik gaun itu menyentuh lantai, perwujudan dari seorang bangsawan. Kulitnya seputih salju, tubuhnya tinggi semampai dengan wajah lonjong yang dibingkai rambut hitam kecokelatan sehalus sutra yang terurai sepunggung. Sosoknya benar-benar melambangkan keanggunan putri bangsawan di jamannya.

Manik kecokelatannya perlahan bergerak mengamati ruangan putih tak berbentuk. Pandangannya terlihat menerawang. Ia tidak tahu bagaimana bisa sampai di ruangan ini. Terlebih ia sendirian di ruangan ini. Tidak peduli seberapa jauh matanya memandang, ia tidak menemukan keberadaan makhluk lain selain dirinya.

Secara naluriah, benak gadis itu perlahan berusaha menyusun potongan-potongan memori otaknya. Berusaha keras menyusun kejadian-kejadian sebelum dirinya terdampar di ruangan asing yang membuatnya bingung. Entah bagaimana ia tidak bisa mengingat apa pun. Ingatannya terasa samar bagai tersekat kabut. Memang sudah berapa lama ia tidak menggunakan otaknya? Satu jam? Satu hari? Ah, ia bahkan tidak ingat sudah berapa lama dirinya hanya berdiri memandangi kekosongan ruang putih yang menyapanya sejak ia terbangun dari entah tidur panjang atau tidur sejenaknya. Terbangun tanpa mempunyai keinginan atau pun ingatan.

Bahkan ia tidak dapat mengingat namanya.

Gadis itu menyipitkan matanya ketika fakta itu terbeber di benaknya. Oh, yang benar saja. Masa ia tidak bisa mengingat namanya sendiri? Namanya, kan, …

Eh, memang siapa namanya?

“Soojung-ah.”

Tiba-tiba saja sebuah suara muncul diantara kesunyian mencekam ruangan itu. Kedua mata gadis itu menangkap fokus kehadiran sosok lain di depannya, tak jauh dari tempatnya berdiri. Iris kecokelatan gadis itu melebar terkejut melihat sosok itu berjalan ke arahnya. Sesuatu dalam tubuhnya terasa menggelitiknya ketika melihat sosok yang ternyata pria itu dari dekat, tapi sang gadis tidak punya ide siapakah pria tampan bermata tajam itu.

Pria itu berhenti di depan sang gadis yang ia panggil Soojung. Selama beberapa detik, pria itu hanya berdiri menatapnya, saling menatap dengan gadis yang lebih pendek daripadanya itu. Membuat gadis itu –Soojung– salah tingkah, tapi anehnya ia tidak dapat menolehkan pandang ke arah lain selain mata hitam milik pria itu.

“Mau berjalan bersamaku?”

Soojung bahkan tidak memperhatikan pergerakan tangan kanan pria itu yang disodorkan kepadanya. Dirasakannya pipinya merona sedikit ketika ia membiarkan tangannya digenggam oleh pria itu, tanpa kata dan tanpa berpikir.

Mereka berjalan bersama melewati setiap putih yang terasa tidak ada bedanya. Soojung tak membiarkan matanya berhenti mengamati pria asing berpakaian jas formal lengkap yang berjalan di sampingnya. Pria itu berambut hitam kelam, begitu pula dengan manik matanya yang menatap lurus ke arah depan. Sebuah senyum tipis terukir di bibir Sang Pria. Semua perpaduan itu membuatnya terlihat tampan.

Tapi Soojung tidak merasa mengenal pria ini.

“Kau siapa?” tanya Soojung, setelah hening lama diantara mereka.

“Kau akan mengingatnya tak lama lagi, Soojung,” jawab Sang Pria.

Soojung terdiam mendengar jawabannya. Entah kenapa ia merasa telah melupakan hal besar ketika ia memandangi wajah pria itu.

“Er, Soojung––kristal? Itu namaku?” Gadis itu memang bereaksi ketika pria itu menyebutnya ‘Soojung’, tapi ia merasa perlu memastikan lebih dulu.

Pria itu mengangguk. “Benar. Namamu Jung Soojung, putri kedua keluarga bangsawan Jung dari Korea Selatan yang mempunyai julukan yang sama artinya dengan namamu sendiri, Krystal.”

Soojung mengangguk, tapi keningnya berkerut heran.

“Kenapa aku tidak bisa mengingat apa pun? Otakku terasa berkabut. Rasanya susah sekali mengingat namaku sendiri atau dari mana aku berasal sebelum berada disini,” ucap Soojung bingung, “Dan terlebih, aku sepertinya telah melupakanmu.”

Pria itu menoleh memandang Soojung. Binar senang terlihat jelas di antara kedalaman mata hitamnya ketika mendengar ucapan Soojung sebelumnya.

“Itu karena tidak seharusnya manusia menggunakan otaknya disini. Ingatanmu sudah di hapus untuk kemudian di kembalikan pada Hari Penentuan Akhir. Sebelumnya, aku harus meminta maaf padamu karena dengan egoisnya aku memohon pada-Nya agar dapat bertemu denganmu lebih cepat dari takdir yang seharusnya,” Pria itu tersenyum ketika mengatakannya, “Permintaan sulit yang harus dibayar dengan ketidak tahuanmu akanku. Setidaknya aku akhirnya bertemu denganmu. Aku bisa membuatmu mengingat segalanya kembali, mengingatku kembali. Kenyataan bahwa kau masih mengenaliku sudah cukup membuatku senang.”

Soojung menatap pria itu bingung. Ia tidak mengerti dengan ucapan pria itu. Dan yang lebih tidak Soojung mengerti adalah pipinya yang terasa memanas karena melihat senyum pria itu. Soojung menunduk, memutuskan untuk menatap tautan tangan mereka yang bergerak selaras dengan pergerakan mereka, seakan itu adalah hal paling menarik yang pernah dilihatnya.

Tunggu dulu. Itu memang menarik baginya.

“Kau manusia,” kata Soojung tiba-tiba.

Sang Pria tersenyum misterius. “Untuk sekarang, ya.”

“Kalau begitu kau –”

“Aku selalu mengikutimu kemana pun kau pergi dan kau yang selalu memimpinku walau kau seorang gadis. Ketika matahari muncul, aku akan berada dibelakangmu. Tapi ketika bulan muncul, kau tertidur di lenganku. Aku adalah sosok yang selalu bersamamu dan memerhatikanmu dari kau hadir ke dunia sampai tiada. Aku adalah makhluk yang selalu mengikuti setiap langkahmu dan pergerakanmu sekecil apa pun. Nah, apakah kau menyadarinya sekarang?”

Sekali lagi, Soojung mengerjap bingung. Ia tidak mempunyai petunjuk apa pun mengenai identitas pria disampingnya. Semakin banyak pria itu berkata justru malah membuatnya bingung.

“Kita akan kemana?”

Soojung mungkin bingung dengan jawaban sang pria, tapi ia entah kenapa ingin mendengar suara pria itu lebih lama. Suara beratnya membuat Soojung merasa aman.

“Anggap saja ini kencan pertama kita, jadi kau akan tahu setelah kita sampai.”

Sampai dimana? Kapan mereka akan sampai? Ia tidak tahu kapan mereka sampai di tempat tujuan yang entah apa. Rasanya sudah lama sekali mereka berjalan dan anehnya ia tidak merasa lelah. Dan ia buta akan waktu sekarang. Ia tidak yakin apakah ini pagi, siang, atau malam. Waktu seakan berhenti di tempat ini.

“Tahun berapa sekarang?” Soojung merasa heran ketika melihat Sang Pria tertawa kecil. “Apakah pertanyaanku mengganggumu?” tanya Soojung lagi.

“Tidak,” Sang Pria menggeleng, “Aku hanya merasa lucu karena sifatmu ternyata tidak berubah walau ingatanmu terhapus. Kau tetaplah Soojung yang tidak bisa diam dan ingin tahu banyak hal.”

“Sekarang tahun 1891,” Sang Pria kembali tertawa sejenak sebelum melanjutkan, “Hah! aku tak percaya aku mengingat tahun! Biasanya kau yang selalu mengingat tahun karena hobimu membaca koran setiap pagi dengan suara keras agar aku juga mendengarkan. Tapi, aku masih mengingat koran terakhir yang kau bacakan untukku. Isinya tentang penyerangan Jerman ke Inggris. Berita yang menarik selalu datang terakhir, hm?”

Soojung mengangguk, entah kenapa ia percaya saja dengan semua perkataan pria itu. Bukankah pria ini yang membuatnya mengingat kembali namanya? Pria ini tidak mungkin bohong untuk hal sepele tentang tahun, kan? Sekali pun bohong, ia tidak dapat mengingat banyak tentang setiap perkataan Sang Pria, kecuali nama ‘Inggris’ yang terdengar familiar.

“Lalu ini dimana?” Soojung bertanya lagi.

“Pénshavedow, tapi, kau tidak perlu mengingat tempat ini. Pénshavedow bukan termasuk bagian dari Inggris, tempat tinggalmu dulu.”

“Tapi bagaimana aku bisa mengingat kembali? Tempat ini ––Pénshavedow, katamu––  hanya putih, datar. Tidak ada yang dapat membangkitkan ingatanku kembali,” ucap Soojung cepat. Seluruh pertanyaan berkumpul di kepalanya, menunggu untuk di keluarkan.

Senyum pria itu kembali muncul.

“Coba tengok sekelilingmu,” kata Sang Pria.

Soojung mengikuti instruksi pria itu dan seketika terkejut. Ruangan putih itu menghilang. Pénshavedow seakan meleleh terkena panas. Lelehan putih itu berubah menjadi gambaran lain, menampilkan pemandangan lain. Soojung dan Sang Pria kini berada di pekarangan luas dengan sebuah rumah megah yang indah. Rumah itu tinggi dengan banyak jendela. Rumah milik Soojung.

Tanpa sadar, Soojung berhenti mengamati tiap senti rumah yang terlihat seperti kastil yang luas biasa. Bangunan itu bergaya Inggris dan terlihat berkali lipat indahnya karena berada dalam Pénshavedow, tapi Soojung tahu bangunan aslinya juga tak kalah indahnya.

“Apa aku seharusnya kenal dengan tempat ini?” tanya Soojung, tanpa melepaskan pandangan pada bangunan di hadapannya.

“Kau memang mengenalnya,” kata Sang Pria santai.

Sang Pria membiarkan Soojung berjalan lebih dulu di depannya. Ia memperhatikan ketika Soojung terlihat antusias pada setiap benda yang ada disana. Reaksi yang sama seperti dulu, seperti pertemuan pertama mereka dulu.

 

***

Soojung kecil terlihat menunduk, membenamkan wajah mungilnya pada lututnya. Diam-diam, ia menangis sendirian dalam kamar luasnya.

Soojung tidak suka perpisahan. Ia tidak suka harus pindah dari Korea Selatan ke Inggris hanya karena bisnis keluarga mereka. Ia ingin kembali, bermain dengan Choi Jinri, sahabatnya, tanpa adanya kata perpisahan. Ia tidak suka tinggal di Inggris, tapi tidak ada yang mendengarkannya. Bahkan tidak dengan Sooyeon, kakak perempuannya.

Soojung kecil mengusap air matanya kasar. Baiklah, batinnya, jika memang tidak ada yang mau mendengarkannya, maka ia akan pulang sendiri ke Korea!

.

.

Malam telah turun, Soojung yakin itu dari cahaya bulan yang terlihat bersinar terang di pekarangannya. Ia telah memastikan semua pelayan juga Sooyeon telah tertidur. Orang tuanya sedang tidak berada di rumah sehingga ia tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Huh, mungkin mereka sedang mengurus bisnis lagi.

Soojung melangkah ke luar kamar dengan langkah pelan yang bisa di hasilkan oleh anak umur sembilan tahun. Gadis cilik itu dengan sukses sampai di pekarangan dan kini sinar rembulan telah sepenuhnya menyinari Soojung. Ketika ia hendak sampai di gerbang depan rumah, Soojung berhenti begitu tiba-tiba. Entah kenapa kakinya tak bisa ia gerakkan. Untuk sesaat Soojung merasa kakinya telah tertambat oleh tanah di bawahnya dan kemudian cahaya emas menyinarinya, membuatnya buta sesaat.

“Kau akan pergi kemana?”

Sebuah suara yang muncul membuat Soojung terlonjak karenanya.

Dengan perasaan tak menentu, Soojung berbalik menghadap arah datangnya suara itu. Sedetik kemudian, maniknya telah bertemu pandang dengan kedua bola mata yang tak asing baginya. Soojung memperhatikan sosok di hadapannya. Tunggu dulu, sejak kapan ada anak laki-laki seumuran dirinya dalam rumah barunya?

“Kau akan pergi kemana, Soojung?” tanya pemuda itu lagi

Soojung yang merasa terkejut hanya mampu terdiam sejenak. “I–itu bukan urusanmu,” sergahnya kasar.

Pemuda itu menggelengkan kepalanya tanda tak setuju.

“Aku tahu apa masalahmu. Kau merasa kesepian dan tidak rela harus pindah dari Korea, kan? Dan kau sekarang ingin pergi kembali ke sana, bertemu kembali dengan Choi Jinri, dan meninggalkan semua keluargamu. Kau sedang tidak berpikir dengan baik, kan? Aku tahu kau tidak sebodoh itu, Soojung. Tidak seharusnya kau berpikir seperti itu!”

Soojung melongo ketika mendengar pemuda itu berbicara begitu banyak, terlebih semua perkataannya benar.

“K–kau siapa? Kenapa bisa tahu begitu banyak tentangku?” tanya Soojung curiga.

Pemuda itu tersenyum, membuat mata sipitnya terlihat semakin sipit. Entah kenapa Soojung merasa jantungnya berdesir ketika melihat senyum itu.

“Ayo, kutunjukkan sesuatu.” Pemuda itu mengambil tangan Soojung seenaknya dan langsung melesat menuntunnya kembali menuju rumah Soojung. Dalam keterkejutannya, Soojung masih sempat memperhatikan suasana rumahnya yang mendadak sepi. Angin tak lagi menyapa pohon-pohon yang tumbuh di sekeliling pekarangan rumahnya dan Soojung tiba-tiba merasa sinar rembulan hanya menyinari mereka berdua. Sesaat, Soojung yakin ia tidak melihat bayangan apa pun di bawah mereka berdua…

Pemuda itu berhenti mendadak, ia menatap pada entah apa di depan sana. Soojung mengikuti teladan pemuda itu dan seketika terkejut melihat air mancur berwarna emas yang ada di depannya. Tempat itu berada di belakang rumah, tempat yang belum pernah di datangi oleh Soojung.  Tempat itu juga dipenuhi oleh bermacam-macam bunga musim semi yang sedang berbunga indah.

Soojung tidak pernah tahu orang tuanya telah membuat taman yang sudah lama ia impikan.

“Kau suka, kan?”

Seakan mengerti dengan kebisuan Soojung, pemuda itu menyodorkan tangannya sembari tersenyum.

“Namaku Kim Myungsoo. Mulai saat ini aku akan menjadi sahabatmu menggantikan Choi Jinri. Jadi, kau akan tinggal, kan?”

Dan Soojung tahu bahwa ia sudah mulai menyukai Myungsoo.

.

.

.

“Kenapa kau selalu datang terlambat?”

Soojung berkacak pinggang ketika akhirnya sosok Myungsoo muncul tak jauh darinya. Pemuda itu berjalan mendekatinya sembari menyengir salah tingkah.

“Maaf. Aku terlambat lagi,” kata Myungsoo, tanpa berniat untuk menjelaskan lebih jauh.

Soojung menyipit kesal, tapi kemudian memutuskan untuk tidak mempermasalahkan keterlambatan Myungsoo –yang selalu dilakukannya sejak lima bulan mereka berteman– lebih jauh. Soojung memutuskan untuk kembali duduk di bangku taman yang menjadi tempat perkumpulan mereka setiap bulan, diikuti oleh Myungsoo.

“Kau tahu, aku ingin sekali berlatih bela diri, Myungie,” kata Soojung sambil lalu. Mata kecokelatannya memperhatikan pergerakan awan yang berada di sekeliling bulan purnama.

“Hm? Kenapa begitu tiba-tiba?”

“Supaya aku bisa membela diri dari anak-anak yang menyebalkan itu! Tapi, Mom tidak mengijinkinkanku.”

“Tentu saja ibumu tidak akan mengijinkanmu, Jungie. Tidak seharusnya putri bangsawan berurusan dengan hal-hal kasar seperti berkelahi, walaupun memang sudah seharusnya ada yang mengajari Kim Jongin sopan santun–”

Myungsoo menghentikan ucapannya setelah melihat sorot mata Soojung yang kembali mengintimidasi. Seketika Myungsoo menyadari telah melakukan kesalahan.

“Kau mau menjelaskan bagaimana caranya kau tahu perihal Kim Jongin itu juga hal-hal yang lain, Kim Myungsoo?”

Myungsoo menghela napas pasrah. Sesaat Myungsoo membiarkan matanya bertatapan dengan mata Soojung lalu ia menundukkan kepalanya. Soojung ikut menundukkan kepala. Bayangan mereka tidak ada.

“Kau sudah menyadari hal ini, kan, Soojung? Hal-hal seperti kenapa aku selalu datang terlambat, kenapa pertemuan kita selalu berada di pertengahan bulan ketika bulan penuh, kenapa aku mengetahui banyak hal tentangmu bahkan saat pertama kali kita bertemu, dan kenapa,” Myungsoo menggerakkan kakinya sedikit, “bayangan kita tidak ada di tanah.”

Soojung merasakan adrenalin mengalir deras dalam darahnya, ketika Myungsoo berkata sembari menatap matanya.

“Karena aku adalah bayanganmu, Soojungie.”

***

Myungsoo memperhatikan Soojung yang berjalan mengitari taman dalam diam. Myungsoo sengaja memilihkan taman itu karena kebanyakan kenangan mereka berada di taman belakang rumah Soojung. Pria itu memutuskan untuk tidak mengganggu gadis itu, membiarkannya mengingat segalanya sendiri.

Myungsoo memandang lekat-lekat setiap langkah Soojung yang semakin diperhatikan semakin terlihat antusias. Myungsoo merasakan dirinya tersenyum sedikit ketika teringat bahwa dulu hal ini sering terjadi, dimana ia biasa berjalan di belakang Soojung, menjaga gadis itu agar tidak jatuh karena memang sering sekali gadis itu berjalan terlalu cepat. Myungsoo sudah terlalu hapal dengan sifat Soojung yang satu itu, sehingga ia sama sekali tidak heran ketika di detik berikutnya Soojung benar-benar hampir terjatuh terserimpet gaunnya sendiri.

Bergerak secara otomatis, Myungsoo menahan jatuhnya Soojung dengan memegangi pundak gadis itu.

“Keseimbanganmu selalu lebih baik dari padaku ya, Kim Myungsoo,” ujar Soojung seraya tersenyum.

Myungsoo ikut tersenyum, “Kau sudah ingat, ya?”

***

Soojung berusaha melangkah cepat di antara untaian panjang gaun kain sehalus sutra miliknya. Merasa tersiksa dengan gaun terbaru buatan salah satu desainer terkenal itu. Oh, Soojung ingin sekali memakai gaunnya yang biasa, kalau saja ia tidak ingat bahwa dia sedang berulang tahun dan kedua orang tuanya sudah menyiapkan sebuah pesta meriah dengan begitu banyak undangan disebarkan pada seluruh bangsawan Inggris. Kalau ia tidak ingat, ia pasti lebih memilih untuk pergi ke taman belakang, bertemu kembali dengan Myungsoo– bayangannya.

Soojung tidak menyangka hubungannya dengan Myungsoo akan berjalan selama itu.

Setelah tahu bahwa Myungsoo hanyalah bayangan, ternyata ia sama sekali tidak keberatan. Ia malah merasa lega karena akhirnya mengetahui misteri itu. Baginya itu adalah takdir yang indah. Bukankah menyenangkan mempunyai seseorang yang sangat mengerti akanmu saat kau tidak pernah mengatakan apa pun?

Seperti sekarang. Soojung hampir saja terjatuh kalau saja Myungsoo tidak sigap menahan jatuh gadis itu.

“Untung keseimbanganmu lebih bagus dariku,” Soojung tertawa kecil pada kekosongan.

“Apa yang sedang kau lakukan, Soojung?” Seorang gadis yang lebih tua daripada Soojung bertanya heran melihat tingkah adiknya yang berdialog dengan udara kosong.

“Tidak ada, eonni,” Soojung menggeleng dan buru-buru pergi menuju ruang pesta.

.

.

Alunan musik klasik terdengar indah diantara desau angin malam. Pohon-pohon berbunga kini telah menggugurkan daunnya. Warna-warna indah yang telah digantikan oleh warna cokelat musim gugur. Cahaya taman itu telah tersedot oleh keindahan cahaya rembulan yang bersinar terang. Sinar keemasan rembulan menyorot pada satu titik.

Pada kedua orang yang sedari tadi hanya membisu.

Myungsoo bergerak memimpin Soojung berputar sesuai iringan lagu yang terdengar di kejauhan. Dalam hati, merasa tidak yakin apakah musik itu berasal dari dalam ruang pesta atau berasal dari kepalanya sendiri. Tapi Myungsoo memutuskan untuk tetap berdansa, membiarkan Soojung berada dalam pelukannya lebih lama–saat-saat yang langka.

“Aku tidak merasa bersalah,” kata Soojung tiba-tiba, “Itu memang benar.”

Myungsoo menghela napas, walau sebenarnya tidak perlu, mendengar kekeras kepalaan Soojung tetap tidak berubah, “Bagian kita sudah saling mengenal dan Kim Jongin adalah orang berengsek memang benar. Tapi aku tidak bisa membenarkan yang lain.”

Soojung berhenti berdansa. Ia mendongak menatap Myungsoo dengan tatapan terluka.

“Maksudmu kau ingin aku tetap bertunangan dengan Jongin?” tuntut Soojung.

“Tidak––tentu saja tidak!” kata Myungsoo cepat. “Aku tidak akan pernah rela kau bertunangan dengannya! Tapi aku juga tidak mungkin mengikatmu selamanya, Jungie. Aku bukan manusia, aku tidak punya hak untuk mengikatmu seperti yang lain. Terkadang ada saat dimana aku iri dengan pria-pria di ruang pesta itu, karena mereka mungkin jauh tapi mempunyai kesempatan untuk menyentuhmu, mengikatmu kapan pun mereka mau. Berbeda denganku yang berada di dekatmu tapi tidak bisa menyentuhmu kapan pun aku mau dan terlebih tidak bisa mengikatmu. Aku tidak nyata,” tegas Myungsoo.

“Itu karena kita terikat untuk bersama, tidakkah kau paham itu? Dan kau menyentuhku sekarang. Kau nyata –”

“Aku adalah bayanganmu. Sudah seharusnya aku di belakangmu, terikat olehmu, dan tidak akan pernah menjadi sebaliknya!”

Mereka saling menatap tajam, berusaha merubuhkan gagasan masing-masing melalui pandangan mata keras kepala masing-masing.

“Lalu, kenapa kau tidak merelakanku bertunangan dengan Jongin?” tanya Soojung setelah tidak ada yang mengalah.

“Karena aku tahu kau tidak menginginkannya –”

“Apa kau ingat percakapanku dengan Sooyeon eonni?” potong Soojung, “Bahwa aku sedang mencintai seseorang. Kau tahu persis siapa orang itu, Myungsoo. Karena itu aku tidak menginginkan pertunangan ini.”

 Myungsoo merasa dirinya membeku mendengar perkataan Soojung. Kumohon jangan mengucapkannya, Soojung. Atau masalah kita akan semakin membingungkan.

“Aku –”

***

“–Saat itu seperti ada yang menusuk jantungku dan semuanya menjadi gelap,” jelas Soojung. “Sebenarnya apa yang terjadi?”

“Kim Jongin yang membunuhmu,” Myungsoo tersenyum getir, “Ia jelas tidak terima dengan penolakanmu dan memutuskan membunuhmu. Kemudian ia terlihat menyadari apa yang sudah dilakukannya dan membuang pistol yang dipakainya. Tapi itu jelas tidak berguna karena kau sudah tiada. Jadi sebelum ia pergi jauh, aku mengambil pistol yang dijatuhkannya dan menembak mati orang bodoh itu. Membuat resiko diriku kelihatan olehnya dan itu yang membuatku juga tersingkirkan dari dunia.”

“Kenapa juga kau melakukan itu?” cela Soojung, “Kau masih bisa menjadi bayangan orang lain yang mirip denganku dan hidup di dunia sampai Hari Akhir tiba. Kenapa kau melakukan hal sebodoh itu?”

“Salahkukah karena aku penasaran dengan kata terakhir yang ingin kau ucapkan padaku sebelum Kim Jongin datang menyela?” Sudut bibir Myungsoo tertarik ke atas, “Aku ingin mendengar kau mengucapkan kata terakhirmu lebih cepat.”

Soojung salah tingkah karenanya. Entah kenapa kata itu terasa berat untuk diucapkan saat kemarahan tidak lagi menguasainya seperti sebelumnya. Ditambah pandangan Myungsoo yang intens kepadanya terasa memperburuk suasana. Pipinya terasa kembali memanas.

“A–Aku…”

Dan sedetik berikutnya bibir Soojung benar-benar terasa berat karena bibir Myungsoo telah menempel di atasnya, melisankan apa yang ingin ia ucapkan dengan sangat baik. Bibir mereka menaut selama beberapa saat sebelum kemudian saling melepas, walau tubuh mereka tetap berada dalam jarak yang minim.

“Aku mencintaimu, Jungie,” kata Myungsoo pelan.

“Aku juga mencintaimu, Myungie,” balas Soojung lembut.

Pénshavedow perlahan mulai berubah bentuk kembali. Kali ini sinar-sinar terang muncul menggantikan rumah megah Soojung.

“Rasanya menyenangkan bisa berada di sampingmu, walau hanya beberapa saat,” ucap Myungsoo.

Soojung tersenyum. “Kita terikat untuk bersama, bukankah aku sudah mengatakannya? Kau tidak percaya kalau kita akan bertemu lagi?”

Myungsoo tertawa sebentar, “Kali ini aku benar-benar berharap kau benar.”

Myungsoo dan Soojung saling tersenyum satu sama lain sementara Pénshavedow dipenuhi oleh warna-warna yang perlahan menenggelamkan sosok mereka. Menghilang dari Pénshavedow dan mungkin akan muncul kembali di dunia beberapa ratus tahun kemudian, bertemu kembali dengan senyum yang terukir di wajah masing-masing.

***

“We were tied to be together, right?”

**END**

Advertisements

6 thoughts on “Pénshavedow

  1. Aaaaaahhhh aku juga pengen punya bayangan seganteng myungsoo, tiap hari bosen liat bayangan sendiri. Hihi 😀
    ending nya manis sekaliii thornim ihh jadi S3 -senyum senyum sendiri-
    keep writing authornim ^^)9
    aku akan selalu suka karya mu apalagi tentang myungSOOjung. Hehehe 😀 😀

    1. Aduh, makasih udah mau baca ff ini lho, Chica. Makasih juga udah menyempatkan komen. Dan kamu bisa panggil aku Risma, 96line ^^
      Tunggu saja karya myungSOOjung-ku yang lain ya 😉

      1. Sebenernya chica bukan nama asli itu cuman numpang. Hehe maafkan /.\
        aku iyan 96line
        waaahhh seumuran dooonkkk
        yaaahh. XD
        okey aku tunggu risma~ 😀

  2. Nyesel banget kenapa baru nemu wp sebagus ini sekarang T_T

    Baguuuuuuuus banget. Ini yg paling aku suka dari para author yg bikin Myungsoo-Krystal, tulisan kalian itu indah banget. Bukan amatiran. Mau genre apapun tetep bikin readernya tuh nyaman bacanya, penasaran sama cerita selanjutnya dan bikin kita mikir keras sama akhirnya. Sumpah, salut banget sama kalian yg bisa nulis sebagus ini T_T.

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s