Attréifen

attreifen

Attréifen

A ficlet by rineema
Kim Myungsoo & Jung Soojung

-karena pada dasarnya kebebasan dan kematian berujung sama

~***~

Cuaca sangat panas kala itu. Sinar matahari tak hentinya menyengat tiap organisme yang ada di dataran bumi. Sinar yang dipantulkan kembali oleh tanah kering membentang sejauh mata memandang  menciptakan hawa panas yang berujung pada ilusi, memperburuk keadaan.

Lalu, mendadak, muncul dari sisi lain horizon biru terang, sesosok gadis tampak berlari terburu. Tak memedulikan hal lain, ia terus berlari. Gadis itu sudah tidak peduli dengan rasa perih menusuk yang hadir di kedua kaki telanjangnya, pun dengan pakaiannya yang sudah tidak berbentuk lagi. Matanya terlihat kuyu akibat kealpaan tidur yang sengaja dilakukannya selama seminggu belakangan. Sisa kehidupan hanya terlihat dari tekadnya untuk terus berlari.

Bruk!

Gadis itu tersandung oleh langkahnya yang semakin pendek. Kepayahan ia untuk kembali bangkit dari jatuhnya dan ketika ia telah kembali berlari, telinganya yang telah berubah menjadi setajam rubah kembali mendengar suara geraman tak asing di kejauhan. Suara yang telah berubah menjadi mimpi buruk baginya.

 

“Lari, Soojung!”

 

Tanpa bisa dicegah, ingatan seminggu kembali menghantam otaknya. Kekalutan serta ketakutan merayap dalam setiap sel tubuhnya, menumbuhkan keputusasaan, membuat berbagai pertentangan dalam dirinya.

Kenapa ia harus berlari? Kenapa ia harus bertahan hidup?

 

“Jika tiba masanya aku tidak dapat meneruskan perjalanan bersamamu –Tidak! Dengarkan aku!– Berjanjilah, kau akan berusaha untuk tetap hidup dan tiba di Distrik Woo dengan selamat, Soojung. Informasi yang kaubawa akan sangat berguna bagi umat manusia.”

 

Brengsek! Kenapa perkataanmu selalu berubah menjadi pedoman bagiku? Kim Myungsoo sialan!

 

Dengan sisa tenaga yang ada ditambah dengan semangat yang entah bagaimana selalu muncul ketika ingatan tentang lelaki dingin itu menyergapnya, Soojung kembali berlari.

Ia tidak lagi dapat mengendalikan ingatannya yang terbang ke masa seminggu lalu.

 

.

Bau menyengat hasil bersentuhnya api dengan daging yang sudah sangat dikenal Soojung, menyebar ke segala arah. Asap putih keabuan itu membumbung semakin tinggi, menghilang di sapu angin di atas ketinggian enam meter. Bersyukur angin yang berhembus cukup kencang sejak munculnya bulan purnama memutuskan untuk tetap bersama mereka. Dengan begitu hidung mereka tidak perlu berlama-lama bergaul dengan bau tak sedap menyakitkan yang mereka hasilkan sendiri.

Mata kecokelatan Soojung mengikuti percikan api biru yang masih menyambar setiap senti tubuh putih pucat di dalamnya. Makhluk itu terlihat menyeramkan, bahkan di dalam ketidakberdayaannya.

“Wajahmu tegang sekali.”

Myungsoo terduduk diatas tanah lembab disamping Soojung. Untuk sesaat, mereka berdua hanya terdiam mengamati letupan api yang semakin bergerak liar.

”Jadi apa yang mengganjal pikiranmu?” tanya lelaki itu.

Soojung tidak menjawab. Bibirnya bungkam namun pikirannya berkelana. Sosok putih kemerahan yang barusaja mereka lawan, penjelajahan yang sia-sia, kematian yang terasa sedekat hembusan napasnya, kemustahilan untuk mencapai tempat asal mereka.

“Sejak awal misi ini memang berbahaya,” Myungsoo memutuskan untuk menyuarakan pikiran Soojung. “Ada begitu banyak lubang di dalamnya, dan kini kita tahu adalah kesalahan dengan berusaha menutupnya tanpa pengetahuan pasti atau pun dengan setumpuk tubuh kaku manusia.”

Myungsoo mengalihkan pandang pada taburan bintang di atasnya. “Aku tidak pernah merasa sebersyukur ini karena kembali melihat langit.”

Soojung terdiam. Ia bersyukur, tentu saja. Tapi entah mengapa, hatinya resah memandangi pergerakan ganjil kobaran api dihadapannya.

“Setidaknya ada informasi yang berhasil kita dapatkan, walau harus ditukar dengan nyawa seratus delapan orang –”

“ – seratus sembilan,” potong Soojung tiba-tiba. “Kau lupa menghitungku.”

“Kau tidak akan menjadi salah satunya,” Pandangan Myungsoo mengeras menatap gadis disampingnya. “Tidak, selama aku bisa mencegahnya.”

Kalimat itu membuat Soojung menolehkan kepalanya. Karena untuk pertama kalinya selama duapuluh tahun, nada bicara lelaki itu terdengar berbeda di telinganya. Nada beremosi.

’Apakah kau dan aku akan menjadi onggokan daging setelah ini?’

“Tidak peduli berapa kali pikiran itu menggangguku, aku akan kembali teringat pada apa yang berhasil kita dapatkan sebagai ganti tumbal.”

Angin malam kembali menampar keduanya. Terasa lebih dingin daripada belasan malam yang telah mereka lewatkan bersama dibawah atap bintang. Atau itu hanya perasaan Soojung saja?

“Aku tidak menyesal. Sejak awal pilihannya hanyalah bebas atau mati. Karena aku memilih bebas lebih dulu, kematianlah yang berikutnya akan menghampiriku. Toh, ujungnya sama saja. Mati lalu bebas dan bebas lalu mati. Kau dan aku tahu perbedaan besar diantara keduanya, Soojung.”

Diiringi rintih api, manik kecokelatan Soojung bertemu dengan manik hitam Myungsoo. Hentakan lama kembali timbul. Tatapan sarat makna dilemparkan keduanya. Untuk sesaat, Myungsoo dan Soojung paham bahwa mereka telah saling memahami walau tanpa kata.

‘Aku mencintai –‘

Sebelum ada yang sempat menyadari, sosok tak berbentuk keluar dari kobaran api dan menerkam Myungsoo. Melenyapkan eksistensinya dalam sekejap mata. Meninggalkan Soojung jatuh semakin dalam pada mimpi buruk dan berjuang didalamnya. Seorang diri.

.

 

Sial! Sial!

Tidak sampai lima ratus meter Soojung berlari, langkahnya harus terhenti oleh makhluk yang sedari tadi bersemayam dalam bayang ketakutannya.

Makhluk itu memamerkan jejeran gigi taringnya pada Soojung. Wajahnya tak keruan bentuknya, membuat seringai makhluk itu semakin menyeramkan. Makhluk itu lebih tinggi sekepala daripada Soojung, tapi gadis itu sama sekali tidak gentar akannya. Rasa takutnya menguap entah kemana.

Akhirnya aku mengerti makna dari bebas sebelum mati, Myungsoo. Kau bangga, kan?

Dengan senyum, Soojung menebaskan pedangnya, tepat ketika makhluk itu menerkam lehernya.

.

.

Dunia memang kejam. Mau bagaimana lagi?
– Mikasa Ackerman (Attack on Titan)

-END-

~***~

A/N: back after those tiring days of school exam! And I want to say a happy birthday for our visual, Kim Myungsoo! I know its kinda late (its super late!) but yeah I still want to celebrate it! About the ff, oh, don’t staring at me like that! I know its weird, but I hope you enjoy it 🙂

For the song, I don’t know its represent the ff or not, but I think its suit on it because I heard the song while write this 🙂

Last, your appreciate, please?

Advertisements

11 thoughts on “Attréifen

  1. Maaf authornim entah aku yang emang oon atau karena fanfict nya yg terlalu teope begete -_-
    ini otak jadi gak mudeng #tabokin
    itu ceritanya gimana thornimmm~~???
    aku pengen memahamiiiii~~~ >..<

    1. ah, kayaknya kesalahan hanya ada padaku karena waktu bikin ini masih kebawa suasana habis try out-nya ._.

      Jadi ceritanya begini, Soojung sama Myungsoo itu ada dalam pasukan yg memberantas makhluk aneh-tak-bernama yg keberadaannya mengancam umat manusia. Waktu dalam ekspedisi, kelompok mereka kalah telak, menyisakan mereka berdua saja. Setelah berhari-hari mereka terlantar di luar wilayah aman, akhirnya malah ketemu makhluk itu lagi yg membuat mereka berdua mati.
      Inti yang berusaha aku sampaiin sih: kebebasan yg sesungguhnya ada setelah kita memperjuangkannya. Kira-kira begitu hehe

      1. Ooooohhhhhhh begituuuuu~ haha XD
        ngerti deh sekarang
        makasih authornim makasih 😀
        baca lagi aaahhh, kan udah ngerti. Kkk

  2. hai kak, salam kenal aku readers baru disini 😀 tadi aku nemu WPmu dari komenan kakak di IFK, yaudah sekalian blogwalking haha. FFnya bagus, keep writing ^^)9

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s