Transoul

transoul

Transoul

A Vignette by rineema
Han Hyo Ah [Re’s OC] & Choi Junhong [Zelo’s BAP]

Pertemuan pertama Sang Gadis dan Pria Perak ditemani
secangkir kopi kesukaan masing-masing

Note: this fic is dedicated to one of my precious friend that has passed away to her eternity. Re, this one is for you…

~***~

Tempat itu berubah tenang. Cahaya terang menusuk mata yang selama beberapa menit tadi datang secara tiba-tiba kini telah digantikan oleh cahaya yang lebih menenangkan mata walau masih sama terangnya. Perubahan itu terjadi cukup cepat, seakan cahaya telah membagi dirinya sendiri dan pergi ke setiap sudut yang lebih temaram, membuat seluruh tempat itu menjadi benderang nyaman.  Segalanya telah berubah. Kini Sang Gadis dapat melihat segala sudut dari tempat itu.

 

Setelah kedua mata cokelatnya dapat beradaptasi dan dirinya kembali melangkah menjauhi tempatnya menetap beberapa detik sebelumnya, Sang Gadis menyadari teorinya salah–tempat itu tak berujung. Hamparan putih benderang yang balas menyapanya sejauh mata memandang. Ketiadaan yang untuk sekali itu tidak membuatnya kalut.

 

Hal lain terjadi tepat setelah Sang Gadis menetapkan diri sebagai satu-satunya benda yang ada dalam tempat-putih-tak-berujung itu.

 

Sebuah bangunan berdiri megah tepat di hadapannya, menutupi batas pandang Sang Gadis pada ketiadaan. Begitu tiba-tiba seolah seseorang telah melepas kain putih yang menutupi bangunan sebesar teater musikal tempat ia biasa berkunjung dulu. Megah dan sentuhan kuno jelas nampak dalam desain luar bangunan yang tak habis-habis ia pandangi. Dan hal itu terjadi bukan hanya karena ia sangat menyukai bangunan yang ada di hadapannya, tapi juga adanya faktor mencengangkan yang disadari Sang Gadis seiring dengan bergulirnya menit dalam kepalanya.

 

Semakin ia berusaha melihat bangunan itu lebih banyak lagi, maka semakin lupa ia pada bagian yang telah dilihatnya.

 

Ia bahkan lebih tercengang lagi karena tidak dapat berkomentar mengenai hal yang sedang terjadi ini.

 

“Indah, kan?”

 

Sang Gadis menoleh cepat pada arah suara yang muncul tiba-tiba dari sampingnya. Manik cokelatnya bertemu dengan manik lebar keabuan yang lebih tinggi. Seorang pria.

 

Sang Gadis tidak kunjung merespon. Maniknya masih bertemu dengan Sang Pria yang disadarinya tengah tersenyum. Kombinasi yang membuat Sang Pria terlihat tengah memandangnya ramah dan… maklum?

 

“Tidak ingin masuk? Han Hyo Ah?”

 

Nama yang disebutkan Sang Pria membuatnya beraksi. Sebelum Sang Gadis sempat menyibak selubung lain dalam mata keabuan itu, Sang Pria telah memutuskan koneksi udara mereka dan melengang melewati pintu kaca bangunan yang dikagumi sebelumnya.  Sang Gadis bernama Han Hyo Ah itu tidak menyadari ketika ia mengikuti Sang Pria masuk.

 

Bagian dalam café –Hyo Ah telah memutuskan untuk menyebutnya café– lebih menakjubkan dari pada bagian luarnya. Nuansa minimalis dan kuno bercampur menjadi kesatuan indah yang tidak dapat ia jabarkan dengan mulutnya yang dulu biasa ia pakai berceloteh ria. Kedua bola matanya yang telah melihat berbagai hal yang indah tidak puas-puasnya memandangi setiap sudut café, tapi sama halnya dengan keadaan di luar café sebelumnya. Semakin ia berusaha melihat lebih banyak lagi, semakin ia melupakan bagian awal yang telah ia lihat. Padahal otaknya tergolong cepat mengingat segala sesuatu.

 

Semakin lama ia semakin merasa dikhianati oleh indranya satu per satu.

 

Kini ia hanya dapat berpegang pada kata hatinya. Mungkin itu yang menuntun sepasang tungkainya terus berjalan ke salah satu sudut café kecokelatan berdinding kayu, mencari punggung pria rambut perak yang masuk lebih dulu darinya. Untuk alasan yang tidak dapat dijabarkannya, Sang Pria telah menghilang begitu cepat. Padahal Hyo Ah yakin tadinya ia berada tepat di belakang pria jangkung itu.

 

Hyo Ah tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di salah satu sudut café dimana Sang Pria telah duduk lebih dulu.

 

Setelah dapat melihat keseluruhan postur Sang Pria dari jauh, gadis itu baru menyadari rupa Sang Pria sesungguhnya. Rambut perak bergelombangnya terlihat serasi dengan jaket kulit cokelat serta celana hitam yang membalut tungkainya. Mata keabuan itu teralihkan oleh kehadiran entah apa dibalik jendela café. Perpaduan yang entah bagaimana dapat terlihat memabukkan.

 

Sebelum Hyo Ah sempat melakukan sesuatu, pria itu sudah lebih dulu menoleh.

 

“Duduklah.” Ujar Sang Pria seraya menunjuk pada kursi di hadapannya.

 

Hyo Ah menuruti Sang Pria tanpa keraguan.  Untuk beberapa saat tidak ada percakapan yang terjadi. Hyo Ah memperhatikan meja bundar berpelitur mengilat yang memiliki pahatan indah di sekelilingnya. Sesungguhnya tindakannya hanyalah pengalih perhatian sementara. Ia ingin sekali menatap Sang Pria lebih lama. Setidaknya Hyo Ah ingin menunggu sampai Sang Pria tidak lagi menatapnya dengan senyum yang membuat kedua matanya tenggelam. Sayangnya, rasa penasaran Hyo Ah sudah berubah sebesar ruang-putih-tak-berujung yang ada di luar sana. Ia tidak lagi bisa menunggu.

 

Akhirnya, manik mereka bertemu.

 

“Ingin menanyakan sesuatu, Han Hyo Ah?”

 

Penyebutan namanya lagi oleh Sang Pria, membuat Hyo Ah menyadari hal lain.

 

“Bagaimana…?”

 

Sang Pria kembali mengeluarkan senyum maklumnya. “Pertanyaan yang biasa diajukan, kan? Aku sudah mengetahui namamu sejak awal kau ada.”

 

Kepala Sang Gadis bergerak ke kanan kiri secara teratur, membuat rambut ikal panjangnya yang tergerai mengayun anggun. “Bukan. Yang kumaksud adalah bagaimana aku menyebutmu?”

 

Senyuman Sang Pria digantikan oleh wajah heran untuk sepersekian detik. “Pertanyaan yang tidak biasa. Bukankah biasanya orang akan menanyakan bagaimana aku dapat mengetahui nama mereka?”

 

“Aku sudah biasa melihat segala sesuatu berjalan tidak semestinya. Untuk itu aku hanya akan menanyakan pertanyaan lain yang mengusikku. Dan aku ingin tahu bagaimana aku bisa menyebutmu, mengingat kau sudah tahu bagaimana memanggilku.”

 

“Kau memang tidak biasa, kan?” ujar Sang Pria lalu kembali memasang senyum. “Panggil aku Choi Junhong. Begitu aku menyebut diriku di dunia kalian.”

 

“Apakah kau berumur di atasku?”

 

Junhong, Sang Pria berambut perak, kembali dibuat heran oleh pertanyaan yang dikeluarkan bibir mungil itu.

 

“Aku jauh lebih tua darimu dalam konteks yang tidak bisa kau bayangkan, tapi kau bisa menyebutku Junhong. Usia tidaklah berlaku disini.”

 

“Yah, tampaknya memang tidak.” Kali ini Hyo Ah mengalihkan tatapan untuk memandangi tangannya. Putih dan sehat. “Segalanya terlihat berada di titik terbaiknya disini.”

 

Lagi-lagi hening. Kali ini lebih panjang.

 

Junhong menatap Hyo Ah penasaran, “Kau tidak heran?”

 

Gadis itu menggeleng. “Aku tahu bagaimana aku bisa disini dan apa yang sudah terjadi. Hanya satu yang tidak kupahami: kenapa?”

 

“Aku tidak dapat memberikan jawaban untuk yang satu itu.”

 

“Lalu, apa yang harus kulakukan?”

 

“Nikmati saja waktumu dengan memesan semua yang kau inginkan. Percayalah, café ini adalah satu-satunya tempat dimana kau tidak perlu membayar,” kelakar Junhong. Tangan kanannya meraih cangkir porselen indah berisi kopi hitam kental yang secara ajaib muncul di atas meja bundar yang berdiri membatasi Junhong dan Hyo Ah.

 

Keinginan. Sebelumnya ada banyak hal yang diinginkan Hyo Ah. Tapi untuk sekali ini ia tidak tahu apa yang ingin dimintanya justru saat ia dapat meminta segalanya.

 

Ah, mendadak ia merindukan secangkir cappuccino yang biasa menemaninya disaat ia bingung seperti ini.

 

Kemudian, sama ajaibnya dengan cangkir kopi Junhong, secangkir cappuccino muncul tepat di atas mejanya, secepat kedatangan pemikiran itu sendiri. Jemari Hyo Ah meraih cangkir porselen berisikan cairan kental kecokelatan itu, menyesap isinya nikmat. Cappuccino yang dulu ia rasakan terasa tawar jika dibandingkan dengan yang baru saja meninggalkan kerongkongannya. Seluruh rasa cappuccino seakan berkumpul dalam cangkir mungilnya.

 

“Jadi ini semacam apa? Ruang Transisi?”

 

“Kau bisa menyebutnya begitu. Setiap yang pernah hidup akan melewati Ruang ini dan bentuknya tergantung pada mereka sendiri.”

 

Aku memilih sebuah café? Apa aku terlalu menyukai kopi?”

 

“Lagi-lagi kau menanyakan hal aneh. Untuk itu hanya kau yang bisa menjawabnya, Nona Han.” Junhong mengambil kembali cangkir Americano-nya, menutupi ekspresi yang Junhong yakin semakin terlihat aneh karena pertanyaan tak terduga dari gadis di hadapannya.

 

Ah, kau benar, Tuan Choi!” Hyo Ah tergelak, meski tak ada sepatah kata pun terdengar pantas untuk ditertawakan. Junhong melirik gadis yang tengah asyik dalam tawanya itu. Untuk pertama kalinya, Junhong melihat Sang Gadis tersenyum. Ia terlihat manis, apalagi ditambah serangkaian tawa. Gadis itu memiliki jenis tawa yang membuat orang lain ikut tertawa bersamanya.

 

“Bagaimana pun, aku harus berterima kasih padamu. Sudah lama aku tidak bersantai begini. Rupanya menyenangkan juga,” Junhong mengedikkan cangkirnya pada Hyo Ah, bersulang untuknya.

 

“Kau tinggal disini?”

 

“Tidak. Tapi aku bertugas menemani setiap jiwa yang transit disini, begitu kiasanmu? Aku ada di Ruang ini saat mereka juga ada. Percayalah, tidak banyak jiwa yang kutemani sesantai dan semenyenangkan ini.”

 

“Apa yang kau lakukan saat menunggu jiwa berikutnya datang?”

 

“Aku tidak perlu menunggu. Ruang ini tidak mengenal istilah ‘waktu’, kau tahu?  Mereka datang hampir setiap saat. Beruntunglah mereka yang mengenal istilah ‘liburan’.”

 

Hyo Ah menyesap cappuccino-nya seraya mengangguk paham. “Liburan memang menyenangkan.”

 

Lagi, Junhong melempar tatapan heran pada gadis berambut panjang itu. “Kau… menerima semuanya dengan terlalu santai, kau tahu?”

 

“Apa lagi yang bisa kulakukan? Berteriak tidak terima? Bukankah ini takdir?” tanya Hyo Ah retoris.

 

“Ini memang takdir. Segalanya, termasuk pertemuan ini, telah digariskan untuk ada sejak awal. Tapi, bukankah kalian, manusia, biasa menanyakan takdir?”

 

Selama entah sudah ratusan tahun ke berapa ia hidup dan menjalankan tugasnya sebagai penerima jiwa, sudah terpatri dalam ingatan Junhong bahwa semua manusia sama saja. Mereka tidak pernah tidak menyalahkan takdir. Mereka tahu, tapi tak mau mengerti.

 

Tidak seperti sebelumnya, Hyo Ah membutuhkan jeda untuk merespon pertanyaan Junhong. Gadis itu menunduk menatap cairan kecokelatannya sebelum menjawab. “Aku sudah terlalu sering menanyakannya dulu hingga mencapai titik dimana aku percaya, setiap yang terjadi padaku pastilah hal yang terbaik. Katakanlah bahwa aku sudah ditakdirkan untuk tidak menanyakan takdirku.”

 

Jemari Hyo Ah bergerak mengitari bibir cangkirnya. Pikirannya telah sepenuhnya kembali pada kenangan lamanya. Junhong tidak dapat melakukan apa pun selain membiarkan Hyo Ah mengeluarkan apa yang memenuhi kepalanya.

 

“Aku dulu terkenal ceria. Aku punya banyak teman. Aku punya banyak hal yang kusukai hingga waktu dua puluh empat jam terasa tidak cukup bagiku untuk melakukannya. Aku terlalu sibuk melakukan semua yang ingin kulakukan. Mungkin karena itu aku diberi sakit, kan? Agar aku memiliki waktu untuk bersyukur dan mengingat Sang Pencipta. Itu adalah imbalan atas semua yang sudah kulakukan. Dan kau tidak tahu betapa aku menyesal karenanya, terutama sejak aku divonis sakit parah. Aku benci  bau rumah sakit, tapi aku harus berada di sana setiap hari. Merasakan sakit menggerogoti seluruh tubuhku, membiarkan alat-alat itu menembus kulitku dan menjadi penderitaan lain.”

 

Kesunyian bukanlah hal asing di Ruang itu, tapi entah mengapa Junhong merasa mendengar pertanyaan aneh Hyo Ah menjadi ribuan kali lebih baik dari pada mendengar kesedihan dalam suara tingginya. Seakan ia berada dalam kenangan pahit gadis itu. Rasa sakit, bau disinfektan, jarum dan alat kedokteran lain yang menusuk tubuh mungil itu. Padahal sebelumnya Junhong tidak pernah merasakan hal seperti ini.

 

“Aku sempat sembuh dan saat itu, aku berusaha memanfaatkan kesempatan keduaku dengan baik.  Tapi ternyata aku tidak cukup baik untuk terus hidup, memperbaiki hal yang sudah kukacaukan. Aku membuat kedua orangtuaku terluka memikirkanku, membuat teman-temanku ikut merasakan penderitaanku dengan membagikan ceritaku pada mereka. Dan aku belum sempat -setidaknya- untuk mengucapkan terima kasih kepada mereka yang tulus menyayangiku….”

 

Junhong merasakan sentakan kejut ketika Sang Gadis mendongakkan kepalanya, mempertemukan kedua manik masing-masing sekali lagi di udara. Untuk sekali itu, tidak ada sosok Hyo Ah yang tertawa lepas seperti beberapa saat lalu. Wajah putihnya dipenuhi pahatan kesedihan. Kenangan lamanya masih terlihat berenang-renang dalam kedua iris cokelatnya.

 

“Apa aku termasuk salah satu dari orang yang gagal?”

 

“Bukankah kau bilang tidak akan menanyakan takdir?” ucap Junhong setelah untuk pertama kalinya kehilangan frasa untuk dilontarkan. Gadis ini berhasil membuat emosinya berantakan, hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. “Mereka menyayangimu,” tambah Junhong, “Kau hanya perlu mengingat itu.”

 

“Mereka menyayangiku…” Hyo Ah mengulang seraya mengangguk paham. “Aku tahu. Aku hanya perlu mengingatnya.”

 

Saat hening berikutnya terasa begitu panjang hingga membuat Junhong hampir-hampir ikut terkejut bersama Hyo Ah ketika bunyi peluit yang selalu ia sebut alarm-pulang itu terdengar menggema ke seluruh penjuru Ruang Transisi. Pria Rambut Perak itu berdiri dan meminta Hyo Ah ikut keluar bersamanya.

 

Mereka berjalan bersisian keluar dari zona nyaman café. Sebuah kereta lokomotif mendadak muncul di hadapan mereka, sama misterius dan anehnya dengan hal-hal yang bermunculan di Ruang itu. Pintu metalik kereta terbuka tepat dihadapan Hyo Ah. Sang Gadis menoleh.

 

“Aku tidak diizinkan menanyakan tujuan kereta ini, kan?”

 

“Memang tidak.”

 

Hyo Ah mendesah, “Dunia ini memiliki terlalu banyak rahasia, kau tahu?”

 

“Kau ingin tahu sebuah rahasia? Tidak ada penyambutan sesantai ini untuk jiwa manusia yang gagal.”

 

“Kau sudah menjadi manusia yang baik,” lanjut Junhong dengan senyum tulus.

 

Hyo Ah sesaat mengerjap bingung, tapi kemudian ikut tersenyum manis.

 

“….”

 

“Sampai jumpa… Junhong-ah.”

 

Gadis itu melangkah masuk ke dalam kompartemen –pintu metalik kereta ikut menutup bersamaan dengan langkah terakhirnya–  dan melambaikan tangannya pada Sang Pria. Terus begitu hingga roda-roda yang tak menapak itu mulai berputar, bergerak menjauhi Junhong dan tenggelam dalam benderang putih. Membuat sosok rambut panjang itu ikut menghilang dalam batas pandang keabuan milik Pria Perak.

 

Senyum Choi Junhong mengantar kepergian Han Hyo Ah tanpa henti. Pria itu tahu ia akan mengingat Sang Gadis sebagai salah satu jiwa menyenangkan.

 

Sampai jumpa, Hyo Ah-ya.

 

Choi Junhong ikut melangkah ke dalam cahaya benderang, perlahan menjauh dari café tanpa menyisakan sejejak pun kehadirannya, menunggu jiwa lain untuk diantarkan.

 

.

.

“Kau ingin tahu rahasia lainnya? Ruang ini dan tempat dimana kau akan tinggal keduanya saling terhubung… Aku akan mengunjungi tempatmu besok.”

.

.

.

 

Sekali itu, ketika ia benar-benar tenggelam dalam kata dan pesona seorang jiwa, maka ia tahu bahwa ia tidak lebih baik dari pada ratusan jiwa yang ditanganinya.

 *end

A/N: akhirnya aku hanya bisa bikin fic seperti ini… Kecewakah? Maaf, cuma ini yang terlintas di kepalaku ketika kembali melihat sosok ceriamu dalam foto. Hanya ini yang terlintas di kepalaku ketika mendengar Coffee Shop, kesukaanmu. Semoga ini dapat membayar hutang yang terlanjur kuikrarkan untukmu. Semoga… kau tenang disana, temanku.

Advertisements

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s