Choice

girljh

Choice.

A ficlet by rineema

‘Aku’ & ‘Gadis itu’

“Pergi… Tinggal… Pergi… Tinggal…”

Malam itu tidak seperti biasanya.

Baiklah, aku memang membersihkan meja-meja dan mengganti papan tanda ‘TUTUP’ dengan ‘BUKA’ di jam yang sama, tapi tidak dengan kehadiran orang yang satu itu.

“Tolong sebotol soju.”

Itu juga bukan kebiasaannya.

Tanpa kata, aku menaruh pesanan gadis yang tiba dengan wajah muram itu. Ini memang bukan pertama kalinya dia datang untuk meminum soju, tapi dia tidak pernah datang sesore ini – mengingat waktu yang dimilikinya sepanjang hari digunakan untuk konsumsi publik, aku biasa melihatnya datang lewat sebelas malam, bukan pukul delapan.

Aku kembali menuju tempatku biasa, melayani pengunjung yang lain seperti biasa, kembali mengabaikan yang lain seperti biasa, dan berikutnya terkejut mendapati botol ketiga telah berada di mejanya. Seingatku baru limabelas menit aku meninggalkan sudut kecil teritori gadis ini.

“Jangan minum lagi, Agassi.”

Wajah itu mendongak, begitu merah padam dengan mata bertanya-tanya. Bukan salahnya, aku memang tidak pernah menegur gadis ini sebelumnya.

“Kau akan kesulitan saat bertemu wartawan nanti.”

Matanya mengedip cepat, kemudian raut paham tampak diwajahnya.

“Kupikir kau tidak tahu siapa diriku,” katanya dengan hembusan napas kecewa.

Oh, ayolah. Aku memang tidak sering menonton televisi, tapi aku masih memiliki telinga dan mata yang masih bekerja dengan baik. Dan aku bukan jenis yang bisa mengabaikan hal-hal indah.

Well, setidaknya aku nyaman disini. Tidak ada yang menggangguku disini – kau tidak pernah menggangguku.” Gadis itu meneguk kembali sojunya. “Tidak ada yang menggangguku disini… tidak seperti di luar sana…”

Gadis itu perlahan memutar bibir gelas dengan telunjuknya. Wajahnya kemerahan, bibir mungilnya tak henti bergerak walau tiada suara yang keluar diantaranya. Dia sudah mencapai batas minumnya.

Aku meletakkan sebotol air mineral dari nampan yang kubawa di samping tangannya – seketika ditepis jari lentik miliknya.

“Tidak! Aku ingin melupakan segalanya! Aku tidak ingin kembali ingat! Aku… tidak bisa kembali…”

Suara tinggi khasnya terdengar tak teratur. Hal yang jarang terjadi dalam keadaannya yang paling tidak sadar sekali pun. Ia tidak pernah terlihat sekacau ini sebelumnya.

Aku menatap gadis mungil itu selama beberapa saat sebelum memutuskan untuk ikut duduk di hadapannya. Sembari menuangkan soju pada gelasnya, aku mencomot gelas kosong dari nampan, ikut menuangkan cairan beralkohol dan meminumnya dalam sekali teguk.

“Ini akhir bulan, tidak seharusnya kau sedih.”

Gadis itu mendengus. “Tidak ada bedanya bagiku.” Dia meneguk sojunya. “Aku sudah berhenti mengingat tanggal sejak 4 tahun lalu.”

Kini giliranku yang mendengus. “Tentu saja. Kau punya manager yang akan mengingatkanmu tentang hari, kau punya fans yang akan ingat dengan ulang tahunmu, kau punya member yang bisa kau tanyai –”

Manager yang mengingatkan perihal jadwalku, fans yang selalu mengawasiku, member yang setiap melihat mereka membuatku ingat pada kerja kerasku selama belasan tahun…. Benar. Mereka yang membuatku bertahan sampai sekarang.”

Masalah pekerjaan. Dari awal aku sudah tahu itu.

Aku berkata dengan nada final, “Kau harus mengambil cuti jika lelah.”

Dia menggeleng. “Aku hanya perlu memutuskan. Kenapa semua orang menyuruhku untuk cuti?” Liburan hanya akan membuat kepalaku semakin penat. Tidak ada gunanya.”

Gadis itu menopangkan dagu pada telapak tangannya dengan pandangan menerawang. “Aku hanya perlu memutuskan… tapi kenapa terasa sesulit ini?”

Untuk sesaat aku tertegun mendengar nada penuh keputus asaannya. Apa pun itu, masalah ini jelas lebih berat baginya dibanding isu kencan, kabar keretakan persaudaraan dengan adiknya, atau pun kecaman anti-fan.

Aku menatap gadis yang lebih muda dariku. Bibirnya kembali bergerak dalam diam.  Sepintas, aku mengenali pergerakan bibirnya. “Tinggal… Pergi… Tinggal… Pergi…”

“Jangan membuatnya menjadi rumit.”

Aku meletakkan gelasku dan memandang gadis itu lurus-lurus.

“Jangan pedulikan perkataan orang jika kau ingin tinggal. Angkat kepalamu jika memang ingin pergi. It depends on your act.”

Pertama kalinya gadis itu menatapku begitu lama. Tatapan kami menembus satu sama lain.

“Mereka akan terluka…”

It depends on your act,” ulangku.

Gadis itu tersentak sesaat sebelum menghembuskan napas pasrah. Jawaban tertera dalam raut wajahnya. Dia melepas pegangannya pada gelas soju dan tersenyum miring.

“Kau tidak akan mencerca pilihanku, kan?”

Aku mengedikkan bahu. “Itu pilihanmu.”

Gadis itu tersenyum tipis. Dia menaruh beberapa lembar won di meja dan bergerak hendak pergi.

“… Apakah kau akan meninggalkanku?”

Aku tersenyum.

“Segalanya tidak akan menghilang hanya karena kau memilih, Jessica-ssi.”

-END-

 A/N: … I still can’t believe this would be happened… One of my-rare-girl-bias… And I can’t imagine Soojung’s condition now TT.TT Whatever your reason is, I will always support you!

 

Advertisements

2 thoughts on “Choice

  1. ehm sebenernya mesti begitu sich, tapi kalo menyangkut soal keadaan dia sekarang aku ikut khawatir aja. awalnya aku kira ini adalh kristal.

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s