The Theory of Family

theoryfamily

.

The Theory of Family

A oneshot by rineema
Henry Lau & Super Junior

Arti keluarga dapat dipahami dari tiap peristiwa yang terjadi.
Begitu juga keluarga ini.

Note: Fic lama. Henry-sentrik. Tolong jangan heran dengan bahasanya yang /agak/ kuno hoho. Enjoy!

~***~

“Henry Lau imnida. Mohon bantuannya.”

Aku membungkuk dalam lalu menatap pada ketiga belas namja di hadapanku.

 

Super Junior.

 

Begitu kata Soo Man sajang. Ia berkata bahwa aku akan memulai karierku di SM Entertainment dengan muncul di Music Video terbaru milik mereka. Kata Soo Man sajang, grup ini sedang sangat terkenal dan digemari di Korea Selatan. Hm, aku sendiri tidak tahu banyak hal tentang musik Korea. Untuk diketahui, aku bukanlah keturunan Korea. Aku adalah keturunan Cina yang tinggal di Kanada selama hampir 16 tahun aku hidup. Yah, sebelum akhirnya aku hidup di Korea dua tahun lalu dan menjalani training yang ketat. Aku hanya sedang beruntung bertemu dengan perwakilan agensi SM Ent hingga direkrut ke Korea Selatan.

Korea. Korea Selatan. Tempat yang asing. Tapi, bukankah tempat asing akan memberikan banyak pengalaman dan tantangan? Aku menyukai tantangan, jadi aku tidak keberatan. Dan tantangan yang paling menantang jelas adalah bahasa.

Walau sudah hampir dua tahun aku tinggal di Korea, aku masih belum dapat berbahasa dengan baik. Hanya percakapan yang mudah, seperti perkenalan tadi yang aku kuasai dengan baik. Selebihnya aku lebih sering berbahasa Inggris. Lagipula aku kurang percaya diri jika menggunakan Hangeuk. Aku takut ditertawakan jika menggunakan Hangeuk –ku yang masih berantakan. Tantangan bahasa memang hal yang masih belum dapat kutaklukan sampai sekarang.

Ketiga belas member Super Junior memandangiku dengan senyum ramah. Salah seorang member berlesung pipi maju menyodorkan telapak tangannya padaku.

“Hai, Henry. Aku Leeteuk, leader Super Junior. Senang bertemu denganmu.”

Aku tersenyum dan menerima uluran tangannya. Ternyata dia ini leader-nya.

“Ini Donghae, Eunhyuk, Kangin, Heechul, Hankyung, Kyuhyun, Sungmin, Shindong, Ryeowook, Yesung, Siwon, dan Kibum. Mereka semua dongsaeng-ku. Kau bisa memanggilku hyung, kudengar kau lebih muda dari kami semua,” ucap Leeteuk lagi.

Aku berusaha keras mengikuti setiap kata yang dikatakannya. Aku tahu Leeteuk tadi menyebutkan nama semua member-nya karena tadi mereka semua tersenyum padaku ketika nama mereka disebut. Dan aku tadi disuruh memanggil mereka dengan sebutan ‘hyung’. Aku tidak keberatan karena kudengar aku adalah salah satu training termuda saat ini. Tapi yang aku masih belum dapat mengerti adalah saat Leeteuk hyung tadi menyebut kata ‘dongsaeng’. Apa maksudnya itu? Tidak mungkin, kan, kalau 12 member lain itu adiknya semua? Atau itu hanya sebutan untuk pengganti kata ‘member’? Baru kudengar ada leader yang menyebut member-nya dengan sebutan seperti itu.

“Henry? Kau kenapa?”

Aku mengerjapkan mata terkejut dengan panggilan yang tiba-tiba. Kulihat Leeteuk hyung memandangiku bingung.

“Kau sakit?”

“Eh? Oh. Tidak, hyung. Aku hanya, ehm, berusaha memahami kata-katamu,” jawabku sambil menggaruk tengkukku gugup. Leeteuk hyung menghembuskan napas lega.

“Kukira kau sedang sakit.”

“Kudengar kau berasal dari Kanada, ya?” Salah seorang member di sebelah Leeteuk hyung, yang kuingat bernama Donghae, bertanya padaku. Aku mengangguk.

“Tapi wajahmu seperti wajah Asia,” timpal member di sebelah Donghae hyung. Siapa namanya tadi? Ah, Eunhyuk.

Ne. Sebenarnya aku keturunan Cina. Orangtuaku dua-duanya adalah orang Cina, yang kemudian menetap di Kanada,” jawabku yang sudah sangat kuhapal di luar kepala. Orang biasanya memang heran dengan kenyataan wajahku yang terlalu Asia untuk ukuran orang luar.

“Berarti kau bisa berbicara bahasa Cina?” tanya member lain yang bernama… err… siapa ya?

Anio. Aku tidak bisa berbahasa Cina juga. Sejak kecil aku sudah hidup di Kanada, jadi hanya diajari bahasa Inggris,” jawabku dengan senyum bersalah.

“Yah, kupikir kau akan punya teman, hyung,” kata member tadi yang tidak kuingat namanya pada member lain yang cukup tinggi. Mungkin dia yang berasal dari Cina itu.

“Pasti susah, ya, hidup di tempat asing?” kata member Cina, yang kuingat bernama Hankyung itu, bersimpati. Aku mengangguk membenarkan.

“Tapi, aku akan berusaha sekeras mungkin. Mohon bantuannya, hyungdeul,” Aku kembali membungkuk dalam pada member Super Junior.

“Kata Soo Man sajang, kau yang akan memainkan part biola di lagu kami, benarkah?” salah seorang member kembali bertanya. Inilah salah satu kelebihan memiliki member banyak: mereka dapat terus berbicara mengisi kekosongan yang canggung.

Sebagai jawaban, aku langsung mengeluarkan biola putih milikku yang unik. Beberapa member tampak terkesima melihat biolaku. Tentu saja. Ini adalah biola kebanggaanku. Dengan senyum bangga, aku menaruh biola di antara dagu dan pundakku lalu mulai memainkan bagianku.

Woah! Bagus sekali!”

Aku tersenyum melihat reaksi mereka yang antusias. Tak sia-sia sudah aku memikirkan part ini semalaman.

Kamsahamnida,” kataku sembari membungkuk lagi.

“Jangan terlalu formal begitu. Setelah ini kita akan menjadi tim, jadi santai saja,” kata member bertubuh besar bernama Kangin.

“Dan, Henry, selamat datang di grup ini,” lanjut Leeteuk hyung.

Lagi-lagi aku tersenyum. Aku merasa, setelah dua tahun ini, mungkin aku telah menemukan orang-orang yang berharga .

.

.

.

Aku gugup. Sangat gugup.

Belum pernah aku merasa segugup ini dalam hidupku. Bahkan aku tidak merasa seperti ini ketika aku audisi dulu. Rasanya aku ingin pergi dari backstage KBS sekarang juga. Huh, mendengar teriakan-teriakan di luar sana malah membuatku semakin gelisah.

“Memikirkan sesuatu, Henry?”

Aku terkejut dan seketika mendongak pada Jungsoo hyung yang tersenyum padaku. Secara otomatis bibirku tertarik membuat senyuman, walau aku yakin kurang meyakinkan karena rasa mulas yang masih kurasakan.

“Aku gugup, hyung,” kataku jujur. “Show hari ini bertepatan dengan kembalinya Kyuhyun hyung. Bagaimana kalau aku melakukan kesalahan?”

Jungsoo hyung tersenyum. Ia  ikut duduk disebelahku . Tangannya berada di pundakku. “Yang penting, Henry, adalah  pikirkan bagaimana kau tampil dengan hati tenang dan tulus. Kalau kau saja belum berdamai dengan hatimu, bagaimana mungkin kau bisa tampil bagus?”

“Tapi, hyung, bagaimana kalau ternyata mereka tidak memerhatikanku? Mereka menganggap bakatku biasa saja, mereka tidak akan mengindahkanku-”

“Yang penting kau tahu kau berbakat, Henry. Dan karena tahu, kau harus menunjukkannya pada orang lain bahwa kau berbakat. Lagipula kami tahu kau berbakat, kami pasti akan memperhatikanmu.”

Aku tercengang mendengar jawaban Jungsoo hyung.

“Kita satu grup, kan? Kita akan saling mendukung,” katanya lagi.

Ah, hyung. Kau selalu berhasil membuatku merasa beruntung karena sudah masuk ke dalam grup kalian.

.

.

.

Akhirnya selesai. Pertunjukkan pertamaku usai.

Aku memasuki backstage dengan kaki gemetaran. Kesadaranku entah melayang kemana. Napasku tak beraturan. Untuk beberapa saat, aku hanya mampu berdiri bersandarkan tembok, mengabaikan orang-orang yang berlalu lalang. Rasanya seperti sudah cukup lama ketika kudengar derap langkah yang entah bagaimana kukenal pemiliknya sedang menuju ke tempatku berdiri.

Satu persatu pemilik langkah itu mulai menepuk bahuku, merangkul, ataupun mengacak rambutku. Ketiga belas member Super Junior memandangku dengan sorot mata senang dan… bangga.

“Kau tampil hebat sekali,” puji Jungsoo hyung.

Perlahan aku tersenyum dan tanpa dapat dicegah satu persatu air mata bahagia bercampur lega perlahan turun dari mataku. Aku berjanji. Berjanji akan selalu menampilkan yang terbaik dan pantas dibanggakan untuk hyungdeul Super Junior. Karena sekarang aku bagian dari mereka.

.

.

.

‘Still Thirteen’

‘Super Junior only Leeteuk, Heechul, Hankyung, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Siwon, Donghae, Ryeowook, Kibum, Kyuhyun’

‘Say NO to 14’

Aku kembali menangis melihat gerakan mogok bicara yang masih betah dijalankan oleh ELF yang berjajaran di depan gedung SM. Ini sudah hari kedua, dan mereka masih dapat duduk dengan tegak seperti itu. Membuatku semakin sedih melihatnya. Aku merasa sakit hati dengan semua spanduk itu.

“Henry Lau hanya akan menjadi member di luar grup inti Super Junior. Tidak akan ada penambahan member dalam grup Super Junior.”

Hanya dengan kalimat itu semua kekacauan sedikit mereda. Sedikit. Karena ternyata mereka masih saja tidak menganggapku. Mungkin mereka tampak mulai menerima, tapi sesungguhnya mereka masih terus meneriakkan petisi ‘Only 13’.

Mereka semua membenciku.

Sama sekali tidak dapat menerima kalau aku akan dimasukkan ke dalam grup Super Junior, bahkan sub grup sekali pun. Sama sekali tidak ingin aku berdiri berdampingan dengan idola mereka. Tidak ada yang memperhatikanku disini. Lalu untuk apa aku disini?

“Kau spesial, Henry. Karena itulah kau disini.”

Tiba-tiba Kyuhyun hyung datang menepuk bahuku dan tersenyum. “Aku dulu juga mendapat perlakuan seperti ini, bahkan lebih parah, jika dibandingkan denganmu yang punya bakat bermusik lebih banyak. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan denganmu. Mereka hanya belum mengenalmu dengan baik. Kau pasti bisa mengakrabkan diri, kan?”

Aku hanya mampu tersenyum lemah. Aku bersedia mengakrabkan diri jika mereka juga mau membuka diri. Kalau saja aku punya suara seindah kau, hyung, mungkin aku dapat cepat akrab dengan mereka. Menjalin hubungan harmonis seperti keluarga.

.

.

.

Aku hanya  bisa menghela napas pasrah.

Cina.

Aku memang memiliki darah Cina di tubuhku, tapi tidak pernah sekalipun sebelumnya aku membayangkan akan berkecimpung dalam dunia entertainment Cina. Aku sudah terbiasa dengan Hangeul, sudah dapat berbahasa dengan baik ketika ternyata aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru lagi. Cina sama sekali asing untukku. Terutama bahasanya.

Selama ini, aku selalu menganggap bahwa Mandarin adalah bahasa paling sulit yang pernah aku tahu. Dan sekarang aku harus bersusah payah untuk memahami bahasa itu. Ironis. Aku benar-benar kesusahan untuk membedakan tiap katanya yang memiliki banyak nada berbeda. Padahal sebentar lagi pertunjukan pertama Super Junior-M tiba. Dan aku sama sekali belum memahami sedikit pun dari yang sudah diajarkan oleh Hankyung hyung. Rasanya aku benar-benar ingin menangis.

Aku tersentak melihat sebuah buku disodorkan tepat di bawah hidungku. Aku segera mendongak dan mendapati wajah Hankyung hyung di hadapanku.

“Belajar dari sini saja. Kau akan lebih cepat mengerti.”

Aku menaikkan alisku bingung, tapi tetap menerima buku ukuran saku yang disodorkan Hankyung hyung dan langsung membukanya. Seketika kedua mataku melebar melihat isinya. Buku saku ini ternyata adalah kamus kecil berbahasa Mandarin, Korea, dan Inggris. Semuanya ditulis tangan dan rapi.

“Aku menemukannya di suatu tempat menuju kemari. Aku tahu kau tidak mengerti sama sekali dari pelajaran yang kuajar tadi, kan? Lagipula kau memang tipe orang yang dapat mengerti jika belajar sendiri. Kulihat disana juga ada kosakata Korea. Ini akan memudahkanmu belajar bahasa Korea lebih dalam.”

Aku bangkit berdiri dan serta merta memeluk Hankyung hyung. “Terima kasih, hyung.”

Hankyung hyung menepuk bahuku beberapa kali sebelum berkata, “ Kau harus kuat. Kau pasti bisa.”

Tentu, hyung. Aku akan berusaha untuk bertahan. Bagaimana bisa tidak jika aku punya leader sebaik hyung? Terima kasih karena sudah mau membuatkan kamus sebagus ini, hyung. Ya, tentu saja aku tahu ini buatanmu. Siapa lagi orang yang punya tulisan seperti ini? Siapa lagi orang baik hati yang mau repot-repot menulisnya dengan tiga bahasa sekaligus jika bukan kau? Aku minta maaf karena sudah merepotkanmu, hyung. Aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin untukmu dan grup kita.

.

.

.


Dear: Abang dari China, Hangeng

 Hyung, sebelumnya aku mau minta maaf setidaknya bahasa mandarinku dan bahasa Koreaku masih kacau dan aku masih tidak terlalu mengerti hangul dan kaligrafi. Sehingga kuputuskan menggunakan bahasa inggris untukmu. Karena aku mengetahui hyung sendiri bisa berbahasa Inggris dari hasil belajar selama hyung berada di Los Angeles selama tiga bulan penuh.

Hyung, aku sendiri juga tidak tahu harus mengatakan apa padamu melalui surat ini. Jujur saja aku tidak memiliki keberanian menulis surat untukmu karena tidak tahu harus bagaimana. Disaat semua hyung sudah mengumpulkan surat kepada Teukie hyung, hatiku terasa sedih melihat setumpuk surat yang berada di tangan Teukie hyung untuk hyung. Tahukah hyung ketika Teukie hyung bertanya kepadaku, “Henry, mana suratmu?” aku baru sadar semua hyung memandangiku dan menyaksikanku kebingungan mau menjawab apa. Sampai aku mengaku aku tidak menulis surat untuk hyung sama sekali karena setiap kali aku mau menulis surat mendadak ada rasa takut. Takut menghadapi kenyataan yang menyakitkan.

Namun ke-13 hyung selalu menyemangatiku untuk menulis surat untukmu, sesaat aku memiliki keberanian untuk menulis surat ini. Bahkan Kibum hyung menyadarkanku, “Henry, tidak peduli apapun yang terjadi selamanya hyung adalah anggota member Super Junior dan aku yakin kamu pasti tidak mau ada rasa penyesalan yang tertinggal dari dalam hatiku.” Saat itulah aku melihat Siwon hyung menyerahkan kertas dan pen untukku. Dan memintaku segera masuk kedalam kamar milik Donghae hyung untuk menulis surat ini. Tetapi aku menolak karena aku benci sendirian saja. Jadi dengan ditemani ke-13 hyungku aku menulis surat ini dibantu member lainnya yang menguatkan aku setiap kali aku memilih menyerah menulis surat.

Donghae hyung selalu membantuku menyeka airmataku sebelum mengotori surat ini. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku kepadamu hyung. Tidak peduli apapun yang terjadi, aku tidak menyalahkanmu yang mengambil keputusan seperti ini karena aku tahu hyung melakukan ini demi kebaikan hyung sendiri dan juga demi kebaikan kami semua. Karena aku yakin hyung juga terluka karena masalah ini. Hyung walau disisiku ada banyak hyung-hyung lainnya yang menemaniku tetapi selamanya aku selalu merindukan sosokmu hyung. Disaat aku down karena masalah kehadiranku dan Zhoumi hyung yang tidak diterima sebagai anggota SuJu-M. Hyunglah yang berusaha keras melindungi kami semua dan meminta para E.L.F untuk menerima kehadiran kami berdua. Tanpamu, kami berdua tidak mungkin ada disini bersama Super Junior. Hyung, selamanya aku akan mengingatmu, sampai saat ini aku yakin suatu hari kita akan bertemu lagi. Sampai jumpa lagi hyung.

Henry


.

Aku membaca suratku untuk yang terakhir kali sebelum akhirnya kuserahkan pada Jungsoo hyung.

Hankyung hyungkenapa? Aku sama sekali tidak mengerti dengan keputusanmu untuk meninggalkan kami. Untuk berjalan di jalan yang berbeda dari kami. Untuk tidak lagi melindungiku dan Zhoumi hyung….

Tahukah kau, hyung? Aku benar-benar merasa khawatir sekarang. Khawatir akan reaksi para ELF di luar sana jika kembali melihat kami di atas panggung tanpa dirimu. Apa yang harus kukatakan pada mereka hyung? Selama ini kau yang selalu menjaga kami. Aku sama sekali tidak berani membayangkan bagaimana Super Junior-M tanpamu. Bagaimana Super Junior dapat berjalan tanpa ada kau lagi di tengah mereka. Aku tidak mau membayangkannya. Aku benar-benar berharap ini hanya mimpi.

“Aku harap aku bangun sebentar lagi,” ucapku pelan.

Dari sudut mataku, kulihat Zhoumi hyung menoleh mendengar kalimatku. Ia menepuk pundakku sembari menyunggingkan senyum karismatiknya.

“Hankyung hyung pasti punya alasan tersendiri. Kita harus bisa memahaminya,” kata Zhoumi hyung.

“Setelah ini apa yang akan terjadi, hyung?”

“…Kita pasti bisa menghadapinya.”

Aku terdiam setelah mendengar jawaban Zhoumi hyung. Tidak perlu bertanya lebih jauh untuk memastikan, bahwa kau juga khawatir sepertiku, hyung.

Aku tersentak merasakan tepukan pada bahuku. “Ini bukan pertama kalinya kita mendapat masalah, kan?”

Jungsoo hyung.

“Hankyung, kan, memang keras kepala. Ini sudah menjadi pilihannya. Yang menjadi masalahnya sekarang adalah apa pilihanmu? Membencinya dan pergi dari sini?”

Membencinya? Membayangkannya saja tidak pernah. Yang bisa kuingat dari Hankyung hyung adalah semangatnya untuk tetap bertahan walau sekeras apapun cobaan. Hyung yang mendukungku saat aku merasa lelah berjuang. Mana bisa aku membencinya.

Pergi dari sini? Aku bisa kemana? Tidak ada tempat lain yang terlintas dikepalaku. Mendengarnya saja mengerikan.

Sebelum memikirkannya pun, aku sudah tahu jawabanku.

.

.

.

.

.

“Kalian sudah bekerja keras! Terima kasih!”

Aku membungkukkan badan berulang kali pada setiap staf yang ada di sekitarku. Senyum tak hentinya mengembang di bibirku.

“Hei, Mochi! Selamat!”

Sebelah lengan seseorang melingkari bahuku. Aku tersenyum semakin lebar padanya.

“Terima kasih, hyung. Tapi, berhentilah memanggilku Mochi. Pipiku tidak sebesar itu lagi, tahu!”

Kyuhyun hyung hanya tertawa sebagai balasannya, tapi  kemudian aku juga ikut tertawa.

Entah kenapa aku ingin sekali tertawa dan tersenyum banyak-banyak hari ini. Hari ini. Ketika akhirnya aku di debutkan sebagai penyanyi solo. Aku merasa senang sekaligus bingung. Siapa yang akan menyangka akan menjadi seperti ini?

Tidak ada. Aku tidak pernah membayangkan akan menjadi penyanyi solo dan sebegini sukses.

Hidup memang misteri, kan?

“Mau berapa lama kau berdiam begitu?” Aku mendongak, mendapati pandangan Kyuhyun hyung, “Ayo, berangkat. Ada 14 perut lapar yang harus kau traktir.”

Aku kembali tertawa.  “Aku tidak mengatakan apa-apa tentang traktiran, lho. Harusnya yang tua yang membayar, hyung.”

Haish. Padahal sendirinya yang sudah mengundang kami semua. Gaji solo pertamamu terancam kami ambil sebagai gantinya.”

“Baik, baik. Ayo, kita pergi, hyung! Perut hyungdeul yang kelaparan lebih mengerikan daripada dompet yang kosong.”

“Masalahnya mereka sudah kelaparan, Henry. Kau kira seberapa dekat perjalanan Hankyung hyung? Jam bebas Jungsoo hyung dan Heechul hyung juga singkat. Apalagi si Duo Sibuk, Kibum dan Siwon hyung. Jadwal siaran Ryeowook hyung ditunda begitu juga dengan Jongwoon hyung, Hyukjae, Donghae dan Youngwoon hyung. Oh ya, kau harus tanggung jawab karena membatalkan kencan Sungmin hyung dan Shindong hyung. Dan Zhoumi hyung bilang dia sengaja tidak makan sejak siang.” Kyuhyun hyung menyeringai senang, “Sepertinya dompet seseorang akan berakhir kosong.”

Gawat.

“Argh! Kyuhyun hyung, bantulah aku sedikit, ya? Cicilan rumah bulan ini belum aku bayar.”

Kyuhyun hyung mengibaskan tangan santai sambil berjalan, “Tidak, tidak~ Ini, kan, acaramu~”

Hyung… Ayolah… Kyuhyun hyung!”

.

.

.

.

.

Ada banyak hal yang sudah berubah. Ada hal yang tetap sama. Juga ada hal yang menyesuaikan dengan perubahan.

Kami bukan lagi anak-anak. Kami tetap senang berkumpul. Walau kini terpisah.

Memahami satu sama lain. Bertingkah apa adanya. Menerima perbedaan diantara kami.

Ada banyak hal yang akan berubah. Ada hal yang tetap sama. Juga ada hal yang menyesuaikan dengan perubahan.

Tempat dimana kau merasakan perubahan dan tahu akan tetap disana seberapa pun lamanya.

Bukankah itu arti keluarga?

.

.

.

END

Another Note: Yuhuu. Brothership-family yang oneshot! Udah lama ga bikin oneshot yang beginian. Seperti yang dikatakan diawal, ini fic lama, ditemukan dalam keadaan menggantung dengan Henry yang debut dan jadilah seperti ini hoho. Penggunaan bahasa koreanya sengaja ga diganti supaya keinget masa-masa itu /apaan coba/

Mind review?

Advertisements

7 thoughts on “The Theory of Family

  1. Suka sekali sama quotenya :”) flashbackable banget hihi :”))) kangen baca fic sj genre family begini ;_; jadi makin rindu sama mereka ;;__;;

    Keep writing kak ^^

    1. haloo~
      aku juga kangen mereka :’) kapan bisa nonton konser mereka kapan?! /ngelantur /maapkeun
      terima kasih udah baca, yaa. semangat nulis juga buat kamu ^^

  2. Ahhh…bagus banget. Jarang2 ada yang bikin ff brothership yg cast uatama na henry. Ga berasa kalo lagi baca ff, kayak baca curhatannya henry malah…
    Salam kenal…reader baru di sini 😊

  3. Bagus banget ff naa…. jarang2 nih nemuin ff brothership yg cast utama na henry. Ga berasa baca ff lho, malah kayak baca curhatannya henry sendiri. Paling suka moment na kyu sama henry…

    Salam kenal…reader baru 😊

  4. Huhuhu jdi baper kan #nangispojokan ak iri tau entah knp ak mengagumi kebersamaan member suju baik itu karena kejailan s evil and cs atau apapun itu ak jga mengagumi sosok teuki yg begitu tegas tapi angel #lah huhuhu suju is the best and your half of myheart :’ fighting thor lanjut buat ff lgi ^^

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s