ob(li)vious

{Kalafina – oblivious}

.

.

.

Masih berada di depan layar dan ia sendiri tidak tahu kenapa.

Bohong.

Ia tahu persis apa yang ditunggunya hingga larut malam, apa yang diharapkannya akan muncul dalam sepersekian detik berikutnya, apa yang ia harap akan muncul.

Ia mendengus lalu mulai menyibukkan diri. Apa saja.

Ia tidak mengharapkan hal ini terus terjadi tiap malam, tapi ia tidak bisa berbuat apa pun ketika terus terulang.

 

Kemana kau pergi?

 

Ia tidak tahu kenapa masih setia memandangi layarnya.

Bodoh.

Jelas-jelas ia menunggu pergerakan menit. Jelas-jelas tiap sel otaknya berusaha menyaring tiap emosi dalam rangkaian yang dapat dipahami.

Ia bingung lalu berusaha mencari hal lain untuk mengurangi kebimbangan. Terserah.

Lalu akan menyerah. Terulang.

.

.

.

Dan keduanya bermimpi.

Menyanyikan lagu masa depan dalam harmoni.

Bertemu di masa depan, suatu hari nanti.

~***~

 

Advertisements

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s