Falling Snow

falling snow

.Falling Snow.

Orific (will be a fanfic soon) by rineema
Sang Pria dan Sang Gadis

Pemandangan putih itu perlahan meleleh dalam sunyi

.

Note: tidak bisa memutuskan karakter dan berakhir jadi orific, huahaha. Kalau mau diganti fanfic pun udah jelas siapa cast-nya hihi. So, enjoy~

.

.

.

~***~

Namanya bulan Desember.

Bulan dimana segalanya berubah putih, beku, fana. Segalanya merunduk, meringkuk dalam diam, berusaha mencari kehangatan.

Lalu akan ada hari ini. Ketika buai lembut salju berubah menjadi serdadu tanpa ampun, ketika beraktifitas tidak menjadi pilihan, ketika segalanya terhenti.

 

Ketika keduanya bertemu di tempat berlindung.

 

“…Hai.”

 

Sang pria terdiam sejenak, mengangguk saat saraf-saraf lehernya menerima perintah untuk membalas sapaan singkat sang gadis, lalu mendudukkan tubuhnya di tempat yang diperhatikannya sedari tadi.

Sang gadis mengerjapkan mata, terdiam oleh balasan singkat sang pria, dan berikutnya memutuskan ikut duduk di tempat yang sama.

Ada saja hari ketika keduanya harus kembali berhadapan dalam satu meja yang sama.

Waktu seakan tidak bisa memasuki wilayah empat sudut persegi meja kayu itu. Kedua manik masing-masing seakan terbuat dari kutub yang bertolakan. Diam. Tidak ada yang benar-benar ingin mengisi keheningan–atau itu yang dipikirkan keduanya tentang satu sama lain.

Tapi salju agaknya tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Kehadiran sosok lain berseragam dan berperawakan ceria membawa keduanya kembali ke dunia nyata. Senyum maklum terukir di wajah sang pelayan muda dan tidak diindahkan keduanya. Tanpa berusaha melihat daftar menu yang disodorkan, sang pria sudah menentukan pilihan.

Black coffee dan—cokelat panas, kan?”

Sang gadis tersentak sedikit. Kontak mata pertama mereka setelah sepuluh menit terlihat normal. Senormal pertanyaan singkat sang pria pada pesanannya untuk sang gadis. Sayangnya, keduanya tahu peristiwa itu bukan hal yang normal.

Melayangkan pandang pada jendela berkaca lebar di sisi kanannya, sang pria memandangi pasukan putih yang masih betah mengungguli warna lain. Tanpa benar-benar memberikan perhatian pada bulir-bulir kristal bening itu.

“Seleramu yang tidak pernah berubah atau otakku semakin mahir mengingat sesuatu?”

Bodoh.

“Aku tidak berniat untuk mengganti pilihan minuman dimana pun, jadi, yang pertama.”

Dan sang pria masih mengingatnya. Keduanya menyadari fakta tak terucap itu lalu diam. Sampai sang pelayan kembali lalu pergi, sang pria tak tahan dengan kebisuan yang menggantung rendah dan memutuskan mengeluarkan laptopnya. Ia mengedikkan kepala pada sang gadis yang dibalas anggukan singkat.

Keheningan itu dipenuhi suara langkah-langkah jemari di atas keyboard, walau tidak benar-benar menghapus kekakuannya.

Atensi sang gadis berpindah dari jendela berlatar salju ke pria yang terlihat sibuk di hadapannya. Menyelidik bunyi konstan yang dihasilkan jemari panjang itu, sang gadis membuka suara.

“Sedang menulis novel yang lain?”

“Tidak. Menulis berita.” Jemarinya berhenti sementara maniknya bergerak memindai kata, mencari setitik kesalahan seraya membalas kalimat tanya sang gadis dengan, “Bukan berarti tiap laptop kubuka berarti menulis novel, kan?”

“Oh, aku memang mendengar kabar kau menjadi pimpinan redaksi koran ternama. Selamat!”

Ujung bibir sang pria tertarik naik. Hanya beberapa milisenti, tapi sang gadis sudah kepalang hapal dengan sedikit perubahan dari wajah yang masih, saja, terlihat lesu itu.

Masihkah kau mengecam dunia?

“Kau sendiri bagaimana? Masih menjadi bagian klub drama?”

“Benar.” Sang gadis terdiam sejenak untuk memasang senyum lalu melanjutkan, “Belum ada yang kuberitahu tentang ini, tapi aku menerima tawaran bermain film dalam waktu dekat.”

Sang pria memalingkan atensinya dan balas tersenyum lebih normal pada sang gadis, “Wow. Selamat.”

Dan sembari bertatapan, keduanya tersenyum.

Lalu udara terasa lebih ringan. Keduanya menikmati keheningan berikutnya dengan cangkir masing-masing. Mendadak tidak lagi keberatan dengan kehadiran satu sama lain.

Dinding itu runtuh. Dan waktu pun bergerak.

Bertepatan dengan tetes terakhir cairan dalam cangkir keduanya, salju telah berhenti memusuhi semua makhluk bumi. Sang pria berhenti bermain dengan laptopnya sementara sang gadis disibukkan syal merahnya.

Tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk dihadapkan pada keharusan bertatapan kembali.

“Boleh aku tanya satu hal aneh?”

Tidak asing…. “Tanyakan saja.”

Sang pria tidak bisa menghentikan pikirannya untuk menanyakan satu.

Apa kau masih bersama dengan–?

“Apa kau sedang menunggu seseorang?”

Sebuah anggukan menjawab. Sang gadis balik bertanya.

“Apa kau sudah menemukan seseorang?”

Sebuah gelengan menjadi jawaban sang pria. “Aku sedang menunggu.”

Keduanya terdiam. Tidak lagi diam kaku. Karena senyum dilemparkan keduanya ketika akhirnya berpisah. Senyum tulus.

Pemandangan putih itu perlahan meleleh dalam sunyi.

.

.

.

“Aneh, ya.”

.

.

.

“…Boleh aku bertanya satu hal aneh?”

“Apa?”

“Aku menyukaimu. Menurutmu bagaimana?”

“…Aku…

 

…tidak bisa memberikan jawaban untuk itu.”

.

.end.

~***~


A/N:

Terinspirasi blog sendiri yang udah mulai bersalju~ Suka lihatnya XD
Oleh Kalafina juga, oleh banyak kejadian jugaa.

Oh. Meninggalkan komentar tidak akan menyakiti kok, hihi. Terima kasih udah baca~

Advertisements

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s