prima vista

.

A vignette by rineema

—Suatu hari dalam taman mungil si Merah dan si Cokelat

.

Angin membawa kembali kehidupan dengan bebunyian daun yang bergesekan. Bunga-bunga menari seiring arahan angin, tak kuasa ikut bersuka cita dengan cuaca yang akhirnya bersahabat dengan kelopak mereka yang indah. Sesekali mereka akan bergerak liar jika angin bertiup kencang atau jika muncul kekuatan lain yang sanggup mengacaukan keanggunan sikap diam bunga-bunga itu. Dan seringnya, kekuatan itu muncul dalam bentuk manusia berambut kemerahan yang sedang duduk di bangku putih tengah taman mungil ini.

Untungnya sudah cukup lama manusia berambut kemerahan itu hanya terdiam sedari tadi. Ia berbaring diatas bangku putih dengan kedua matanya menutup dan wajah menghadap pada langit. Tampak sangat tidak ingin bergerak dalam waktu dekat. Hanya ingin menenggalamkan diri dalam bangku dan menikmati saja sinar matahari yang menyorot lembut. Mungkin hari ini para bunga akan beruntung dengan kemalasan manusia berambut kemerahan ini.

“-ya, bantu aku!”

Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi khidmat pagi hari, membawa keterkujutan bagi para bunga. Bagi sang manusia berambut kemerahan kalimat perintah yang teredam dibagian awal tadi adalah kehidupan. Ia bahkan sudah beranjak dari posisinya sebelum kalimat itu berakhir. Terdengar pertikaian selama beberapa saat tapi tak lama, manusia itu sudah kembali ke taman mungil, bersama satu nampan berisi kue cokelat yang masih mengepul panas dan meletakkannya di meja rendah di samping bangkunya. Wajahnya menampakkan kegembiraan yang nyata, diperkuat dengan, “Yeay!” yang muncul bersamaan dengan seorang manusia lain – yang berambut kecokelatan yang terkenal sangat peduli tumbuhan di kalangan para bunga – membawa es buah berwarna-warni.

Ah, pantas saja terlihat tidak ada kehidupan dalam manusia berambut kemerahan itu sedari tadi. Ternyata hidupnya masih berada dalam dapur sang manusia berambut kecokelatan.

Sang manusia berambut kemerahan menyiapkan piring-piring kecil dan dengan antusias menunggu manusia berambut kecokelatan memotong kue cokelatnya. Dengan tak sabar ia mencomot satu potong dan seketika memekik ketika jarinya hampir bersentuhan dengan pisau.

“Salah sendiri langsung comot begitu.” Sang manusia berambut kecokelatan tampak acuh dengan tingkah manusia disampingnya.

“Kau hampir memotong jariku!” Yang berambut kemerahan mendelik sebentar. “Kalau sampai jariku terpotong dan aku gagal tampil minggu depan, aku tidak akan pernah memaafkanmu!”

“Aku tidak seceroboh itu, Nona Pianis,” Yang berambut kecokelatan memutar mata, merasa hal itu sudah sangat jelas. “Lagipula kalau memang terpotong, aku akan menyogokmu dengan kue cokelat setiap hari dan kau pasti langsung memaafkanku.”

Si Merah menatap pada manusia disampingnya dan bergidik. “Kau mengerikan.”

“Percayalah. Kau salah mengucapkannya padaku.”

Si Merah hanya terkekeh sebagai jawaban.

Sesaat dua manusia itu terdiam, menikmati kue cokelat masing-masing. Hanya bunyi denting sendok yang terkadang hadir memenuhi momen keduanya. Setelah kue ketiganya, si Merah memutuskan membuka suara.

“Hari ini ada acara kemana?”

“Ke toko buku. Ada beberapa yang harus kubeli.”

Si Merah menoleh, dengan sengaja memberikan tatapan curiga, “Novel?”

Si Cokelat tersenyum sedemikian rupa. “Itu dan untuk proyek juga. Ada referensi yang kubutuhkan. Kebetulan penulis favoritku juga mengeluarkan buku baru.”

Lawan bicaranya seketika mendengus, tidak terpengaruh dengan penataan kalimat yang terdengar rasional. “Kebetulan, hm? Padahal kau memang hanya pergi ke toko buku saat ada buku yang ingin kau beli. Kau tahu sudah berapa lama kau menunda proyek itu? Kerjakan dulu proyekmu. Jangan membaca buku yang tidak ada kaitannya.”

“Tenang saja, Kakakku. Masih ada waktu.”

Si rambut cokelat terkekeh mendengar balasan si rambut merah yang berkata, “Kau dan sifat procastinator-mu.”

“Mungkin itu lebih baik daripada bersiap jauh hari tapi malah mengubahnya disaat akhir,” balas si rambut cokelat.

“Kalau maksudmu tentang konser itu, aku tidak bisa melakukan apa-apa kalau produser meminta mengganti lagu.”

“Masalahnya, bukan cuma konser itu.”

“Itu bawaan dari darah pianis,” kelit si rambut merah.

“Yah, mungkin saja. Mengingat judul lagunya pun namamu,” tangkas si rambut hitam.

“Kau benar-benar menyukai lagu itu, ya? Langsung saja terbang ke Praha dan dengar Maksim Mrvica memainkannya di St. George Basilika.”

“Aku butuh pembanding supaya tahu perbedaannya saat lagu itu dibawakan langsung oleh pembuatnya.”

“Oh. Aku hanya jadi pembanding? Terima kasih, Adikku. Sangat membantu.”

“Iya, memang, tapi itu karena aku ingin tahu apakah permainannya akan memberikan visualisasi yang berbeda bagiku.”

Si rambut merah mengeluarkan pandangan bingung, “Memang apa yang kau lihat saat aku memainkannya?”

Si rambut cokelat memandang pada pucuk pohon dikejauhan sembari berkata, “Pohon sakura yang berguguran dibawah sinar mentari musim semi.”

Si rambut merah tertegun sejenak. “Wow. Itu kalimat komplementasi paling indah yang pernah kudengar darimu tentang permainanku.”

“Nah, itu juga yang membuatku heran. Aku ingin tahu apa kau telah menanamkan persepsi yang salah pada lagu itu atau… itu karena efek latihan di rumah? Mungkin yang kedua lebih masuk akal karena aku mendengarnya sambil duduk bersama para bunga disini. Permainanmu tidak pernah terdengar semanis dan sehidup itu.”

“Sial kau. Hanya karena permainan biolamu dipuji Henry jadi keras kepala.” Kembali dengusan keluar dari si rambut merah saat melihat si rambut cokelat nyengir gembira. “Baik! Akan kubuktikan kau akan tetap melihat pohon sakura itu saat aku memainkannya di konser. Awas saja kalau kau sengaja mengatakan permainanku jelek!”

“Akan kucoba tidak mengatakannya terang-terangan.”

Jitakan pelan terjadi di kepala si rambut cokelat.

Suara mereka kembali absen selama beberapa saat ketika mulut mereka kembali sibuk mengunyah. Keduanya memang lebih suka mengobrol diantara sesi makan, bukan melakukan keduanya. Setelah menyingkirkan piring kuenya, si rambut cokelat yang memulai perbincangan. “Kau sendiri, ada kegiatan apa?”

“Mengunjungi produser dan memintanya memasukkan Hana’s Eyes,” sejenak ia berpikir, “Lalu lanjut berlatih lagu itu atau mungkin lanjut menonton anime.”

Si rambut cokelat mengangguk-angguk. “Atau malah bingung melakukan apa dan malah tertidur.”

“Kalau itu terjadi, berjanjilah kau akan membangunkanku. Mana bisa aku melewatkan hari ini dengan tidur seharian.”

“…Ada janji?”

“Kau kan sudah membuat daftar hal yang ingin kau lakukan, tinggal dijalankan.”

Si rambut cokelat menoleh pada kakaknya. Sesaat termenung kemudian tersenyum pada si rambut merah. Sesuatu dalam wajah keduanya membuat para bunga yang menonton memahami bahwa ada bagian yang tak terkatakan dalam percakapan mereka dan bahwa keduanya merasa tidak perlu mengatakannya karena telah saling memahami. “Kau masih ingat daftar itu? Wow, aku tercengang pada kekuatan ingatanmu. Kau mengingat banyak hal sekarang.”

“Hanya karena kau yang sekarang malah melupakan banyak hal.” Si rambut merah menoleh pada adiknya lalu menyikut lengannya. “Kau mengambil peranku, jadi aku mengambil peranmu. Tapi sepertinya peran ini tidak cocok untukku. Kau tidak mau menggantinya dalam waktu dekat, hm?”

Senyum jahil terpasang di wajah si adik. “Justru peran itu cocok untuk seorang kakak. Kau, kan, seorang Kakak.”

“Hei, kalau seperti ini terus peranku malah semakin sempurna. Kau tahu dari dulu aku memang baik hati, cantik, pengertian, dan bisa bermain piano tapi masa peran penyabar dan pengingat juga milikku? Aku, kan, juga manusia.”

Seketika kening si Adik mengerut. “Kenapa kalimatmu selalu benar tapi terdengar menyebalkan.”

“Sementara kalimatmu selalu terdengar baik-baik saja tapi tersembunyi makna lain di dalamnya.” Si Kakak menggeleng tanda tak setuju.

Si rambut cokelat hanya terkekeh sebagai balasan.

Kembali hening. Keduanya terdiam menikmati embusan angin yang datang. Mengibarkan helai rambut mereka dan mungkin juga pikiran kusut yang enggan keluar akhir-akhir ini. Manusia memang mempunyai bakat untuk masuk ke dalam hal-hal yang tidak mereka sukai dan, entah mengapa, enggan keluar jika tidak ada yang mengulurkan tangan.

Suara dentang jam kota di kejauhan mendobrak masuk dalam keheningan taman mungil ini. Seketika kedua manusia itu kembali ke masa kini. Setelah Sembilan kali berdentang, bunyi itu terhenti. Sang adik menoleh pada kakaknya.

“Selamat ulang tahun, Han Hana.”

Sang kakak tersenyum. “Selamat ulang tahun, Han Hyesoo.”

“Kau harus menunggu selama 15 menit penuh untuk mengucapkannya padaku, Ibu Tua.”

Muncul jeda. Hanya sekelebat tapi cukup membuat hawa taman itu berubah.

.

.

Ya! Kemari kau, Tante Tua! Yaa!”

.

.

Untungnya, mereka memiliki satu sama lain.

end


.

.

.

.

.

Lalalala~ /sembunyi/

Halo! /entah sama siapa/

Oke. Aku ga tahu sama sekali kudu diapain blog ini, tapi jujur aja aku kangeen berat sama blog. Pengin lanjutin proyek lama tapi seiring umur dan tuntutan rasionalitas, draft proyek lama menjadi sangat... menyebalkan untuk dilanjutkan haha. Pengin lanjutin titel blog ini tapi terasa kurang sreg, lah juga ga enak kalau mau ganti /apasih/

Maafkan orang tidak jelas ini tapi mungkin tokoh imajiner Han Hana dan Han Hyesoo akan selalu muncul ke depannya. Terima kasih bagi yang sudah lewat blog ini. Semoga pemiliknya bisa lebih serius dalam menjalani hidup haha.


Best regards,
rineema
Advertisements

Leave Your Appreciation!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s